البراجمـــاتية – نشأتها وأثرها على سلوك المسلمين
Pragmatisme – Asal-usulnya dan Dampaknya Terhadap Perilaku Muslim (Bagian Kelima)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Pragmatisme – Asal-usulnya dan Dampaknya Terhadap Perilaku Muslim ini masuk dalam Kategori Aqidah
أولاً: قلة العلم الشرعي :
Pertama: Sedikitnya Ilmu Syariat :
لعل من أبرز عوامل بروز هذه الظاهرة هو: قلة العلم والعلماء المختصين بالعلم الشرعي ، وندرتهم لسد حاجة الأمة ؛ فقد أتى على المسلمين زمن ضعفت فيه همم الشباب عن طلب العلم الشرعي ، والتخصص فيه ومتابعة علومه .
Barangkali di antara faktor paling menonjol dari munculnya fenomena ini adalah: sedikitnya ilmu dan ulama yang ahli dalam ilmu syariat (‘ilmu syarii‘at), serta kelangkaan mereka untuk memenuhi kebutuhan umat. Sungguh telah datang suatu masa bagi kaum Muslimin di mana semangat para pemuda melemah dalam menuntut ilmu syariat, mendalaminya, serta mengikuti perkembangan ilmunya.
واكتفى كثير منهم بالعلم السطحي المادي مسايرة للتقدم الحضاري الغربي ، فظهرت الفجوة الكبيرة والنقص الواضح في المرجعية والتخصص العلمي ، وظهرت طبقة جديدة من المثقفين وجيل جديد من المختصين الحاملين للشهادات العلمية البراقة والأسماء العلمية اللامعة التي لا تحمل في جعبتها من العلم الشامل إلا القليل .
Banyak dari mereka yang merasa cukup dengan ilmu materi yang dangkal demi mengikuti kemajuan peradaban Barat, sehingga muncullah celah besar dan kekurangan yang nyata dalam rujukan serta spesialisasi ilmiah. Muncul pula lapisan intelektual baru dan generasi spesialis baru penyandang gelar-gelar ilmiah yang mentereng serta nama-nama besar yang sebenarnya hanya membawa sedikit ilmu yang komprehensif di dalam kantongnya.
فانتشرت بذلك ” الجهالة المقنعة”، وترأَّس أولئك المثقفون والمفكرون المعاهد والأقسام ، وتصدروا مجالس الفتوى ومنابر الفكر ، ونعتهم الإعلام بالمفكرين المثقفين ؛ فصاروا مرجعاً للعلم والإفتاء ، فخلطوا الحق بالباطل ، والخطأ بالصواب .
Maka dengan itu tersebarlah “kebodohan yang bertopeng” (al jahaalah al muqanna‘ah). Para intelektual dan pemikir tersebut memimpin lembaga-lembaga serta departemen, menempati majelis-majelis fatwa (fataawaa) dan mimbar pemikiran. Media pun menjuluki mereka sebagai pemikir intelektual, sehingga mereka menjadi rujukan ilmu dan fatwa, lalu mereka mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, serta kesalahan dengan kebenaran.
فصدق قول المصطفى صلى الله عليه وسلم فيهم :
Maka benarlah sabda Al Mushthafaa shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengenai mereka:
“إن الله لا يقبض العلم انتزاعاً ينتزعه من العباد ، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء ، حتى إذا لم يُبقِ عالماً، اتخذ الناس رؤوساً جهالاً ، فسئلوا ، فأفتوا بغير علم ، فضلوا وأضلوا”
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sekali cabutan yang Dia cabut dari para hamba, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sampai ketika Dia tidak menyisakan seorang alim pun, manusia pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
فلا غرو والحالة هذه أن نرى في وسائل الإعلام من يتخبط بالقول منكراً أن يكون للمسلمين علاقة دينية بالمقدسات الفلسطينية، أو أن نسمع فتاوى تروِّج لها وسائل الإعلام المكتوبة تبيح ربا البنوك اليوم بحجة أنه ليس من ” الربا القرآني المحرم ” .
Maka tidak heran dalam kondisi seperti ini kita melihat di media massa ada orang yang bicaranya kacau dengan mengingkari adanya hubungan agama bagi kaum Muslimin terhadap tempat-tempat suci di Palestina, atau kita mendengar fatwa-fatwa yang dipromosikan oleh media cetak yang menghalalkan riba bank hari ini dengan alasan bahwa hal itu bukan termasuk “riba Al-Qur’an yang diharamkan” (ar ribaa al qur-aaniy al muharram).
أو أن يخرج علينا فقيه عصري يحل أموال اليانصيب والمشاركة فيها تفويتاً لاستغلالها من قِبَلِ الكفار . وكان من أولئك المفكرين من أعمل العقل في كل شيء ، وجعل النقل تابعاً لاستنباطات العقل ومداركه وما يراه عملياً في عصره وبيئته .
Atau munculnya seorang fikih kontemporer yang menghalalkan harta lotre (al yaanshiib) dan partisipasi di dalamnya demi mencegah pemanfaatannya oleh orang-orang kafir. Di antara para pemikir tersebut ada yang mendewakan akal dalam segala hal, serta menjadikan dalil (an naql) tunduk pada kesimpulan akal, persepsinya, serta apa yang ia anggap praktis di zaman dan lingkungannya.
فقدموا عقولهم المحدودة على النقل ، وحكَّموها في قبول النصوص الصحيحة الصريحة وردها ، وظهرت المدرسة العقلية من جديد ولكنها عبر الذرائعية ، لتكثر المناقشات والمجادلات والمواقف العلمية الشاذة ، والشبهات العقلية المنحرفة ، والتأملات الفكرية المنكرة .
Mereka mendahulukan akal mereka yang terbatas di atas dalil, serta menjadikannya hakim dalam menerima atau menolak teks-teks (nushuush) yang shahih dan lugas. Muncullah sekolah akal (al madrasah al ‘aqliyyah) kembali namun melalui jalur kemanfaatan (adz dzara-i‘iyyah), sehingga banyak terjadi diskusi, perdebatan, sikap ilmiah yang ganjil, syubhat akal yang menyimpang, serta renungan pemikiran yang munkar.
ومن ذلك ما ذكر عن أحد المفكرين الذي ملأت سمعته الأصقاع أنه عندما خرج إلى رمي الجمار في منى فشاهد زحام الناس الشديد عليها وقف قريباً من خيمته وقال لمن معه : إن الله لم يكلف نفساً إلا وسعها ، وإن الغاية من الرمي تجسيد عداوة الإنسان للشيطان ، فتعالوا نرمي هنا ، فرمى حصى الجمرات بجوار خيمته ! .
Di antaranya adalah apa yang diceritakan tentang seorang pemikir yang reputasinya tersebar luas, bahwa ketika ia pergi untuk melempar jumrah (ramyul jimaar) di Mina dan melihat kerumunan orang yang sangat padat, ia berdiri di dekat tendanya dan berkata kepada orang-orang bersamanya: “Sesungguhnya Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya, dan tujuan dari melempar adalah perwujudan permusuhan manusia terhadap setan (asy syaithaan), maka marilah kita melempar di sini.” Lalu ia pun melempar batu jumrah di samping tendanya!.
أو تسمع عن ذلك الإمام الإسلامي الكبير الذي أجاز لأتباعه في أمريكا الشمالية أن يؤدوا صلاة الجمعة يوم الأحد بدلاً من يوم الجمعة ، وذلك كي يتمكن المسلمون من الحضور واستماع الخطبة ؛ نظراً لارتباطهم بأعمالهم يوم الجمعة !
Atau engkau mendengar tentang seorang imam besar Islam yang membolehkan pengikutnya di Amerika Utara untuk melaksanakan shalat Jumat pada hari Ahad sebagai ganti hari Jumat, agar kaum Muslimin dapat hadir dan mendengarkan khutbah (khuthbah); dikarenakan keterikatan mereka dengan pekerjaan pada hari Jumat!
ثانياً: اتباع الهوى :
Kedua: Mengikuti Hawa Nafsu :
يقول المولى – عـز وجـل -:
Allah al Mawlaa—‘Azza wa Jalla—berfirman:
{واتـل عليهـم نبـأ الذي آتيناه آياتنا فانسلخ منها فأتبعه الشيطان فكان من الغاوين ولو شئنا لرفعناه بها ولكنه أخلد إلى الأرض واتبع هواه فمثله كمثل الكلب إن تحمل عليه يلهث أو تتركه يلهث ذلك مثل القوم الذين كذبوا بآياتنا فاقصص القصص لعلهم يتفكرون} [الأعراف: 175، 176]
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia terjerumus ke dalam kesesatan), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” [Al-A‘raaf: 175-176]
يقول سيد قطب – رحمه الله – في الظلال: ” والحياة البشرية ما تني تطلع علينا بهذا المثل في كل مكان وزمان ، وفي كل بيئة .. حتى إنه لتمر فترات كثيرة ، وما تكاد العين تقع على عالم إلا وهذا مَثَلُه ؛ فيما عدا الندرة النادرة ممن عصم الله .
Sayyid Qutub—rahimahullaah—berkata dalam azh Zhilaal: “Kehidupan manusia tak henti-hentinya menyuguhkan kepada kita perumpamaan ini di setiap tempat dan zaman, serta di setiap lingkungan… hingga sering kali berlalu periode di mana mata hampir tidak memandang seorang alim melainkan inilah perumpamaannya; kecuali segelintir orang yang dijaga oleh Allah.”
ممن لا ينسلخون مـن آيات الله ، ولا يخلـدون إلى الأرض ، ولا يتبعون الهوى ، ولا يستزلهم الشيطان .. ولقد رأينا من هؤلاء من يكتب في تحريم الربا كله عاماً ، ثم يكتب في حله كذلك عاماً آخر .
“Yaitu mereka yang tidak melepaskan diri dari ayat-ayat Allah, tidak cenderung kepada dunia, tidak mengikuti hawa nafsu (al hawaa), dan tidak digelincirkan oleh setan. Sungguh kita telah melihat di antara mereka ada yang menulis tentang pengharaman riba seluruhnya pada satu tahun, kemudian menulis tentang kehalalannya pula pada tahun yang lain.”
ورأينا من يبارك الفجور وإشاعة الفاحشة بين الناس، ويخلع على هذا الوحـل رداء الدين وشـاراته وعناوينه “.
“Dan kita melihat orang yang memberkati kefasikan dan penyebaran kekejian di tengah manusia, serta menyematkan jubah agama, simbol-simbol, serta judul-judulnya ke atas lumpur kehinaan ini.”
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply