Pragmatisme – Asal-usulnya dan Dampaknya Terhadap Perilaku Muslim (6)



البراجمـــاتية – نشأتها وأثرها على سلوك المسلمين

Pragmatisme – Asal-usulnya dan Dampaknya Terhadap Perilaku Muslim (Bagian Keenam)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Pragmatisme – Asal-usulnya dan Dampaknya Terhadap Perilaku Muslim ini masuk dalam Kategori Aqidah

وما ظهر الاتجاه الذرائعي في الفتوى والأحكام والمعاملات إلا من بعد أن ركن هؤلاء الدعاة إلى ما تميل إليه نفوسهم ، وترغبه وتهواه من أمور تسوِّغ لهم تصرفاتهم ، وتحقق لهم مصالحهم ، وتزكي لهم أعمالهم .

Maka tidaklah muncul tren pragmatis (adz dzara-i‘iy) dalam fatwa (al fatwaa), hukum (al ahkaam), dan muamalah (al mu‘aamalaat) melainkan setelah para penyeru tersebut cenderung kepada apa yang diinginkan oleh jiwa mereka, serta apa yang disenangi dan disukai oleh hawa nafsu mereka berupa perkara-perkara yang melegalkan tindakan mereka, mewujudkan kepentingan mereka, dan membenarkan amal perbuatan mereka.

وكانت مجالستهم واختلاطهم بالنفعيين المتزلفين وأصحاب الأهواء فتيلاً أجج نار الهوى لديهم؛ فاعتدُّوا بآرائهم واستحسنوها ووجدوا من أتباعهم من تروق له هذه الأفكار والأحكام والاتجاهات ومن باركوها وتتلمذوا عليها .

Interaksi dan pergaulan mereka dengan kaum pragmatis yang gemar mencari muka serta para pengikut hawa nafsu (ash-haabul ahwaa’) telah menjadi sumbu yang menyalakan api hawa nafsu pada diri mereka. Mereka pun membanggakan pendapat-pendapat mereka sendiri dan menganggapnya baik (istahsaanuuhaa). Mereka juga menemukan para pengikut yang menyukai ide, hukum, serta kecenderungan tersebut, yakni orang-orang yang memberkati mereka dan belajar di bawah bimbingan mereka.

وظهـر من ينادي بأن ” الفتوى تتغير بتغير الزمان والمكان ” ويحتج بأن العلماء غيَّروا فتاواهم عندما تغيرت أماكنهم وأزمانهم ، كما كان من الإمام الشافعي ـ رحمه الله ـ عندما ذهب إلى مصر فصار يفتي بغير ما كان يفتي به في الشام حتى صار له مذهبان : أحدهما قديم ، والآخر جديد .

Lalu muncul orang yang berseru bahwa “Fatwa berubah seiring perubahan zaman dan tempat”, dan mereka berhujjah (yahtajju) bahwa para ulama dahulu mengubah fatwa-fatwa mereka ketika tempat dan zaman mereka berubah, sebagaimana yang dilakukan oleh al Imaam asy Syaafi‘iy—rahimahullaah—ketika beliau pergi ke Mesir, beliau mulai berfatwa dengan hal yang berbeda dari apa yang beliau fatwakan di asy Syaam, hingga beliau memiliki dua mazhab: mazhab lama (qadiim) dan mazhab baru (jadiid).

وهكذا حتى وجدوا تخريجاً لكل ما تهوى أنفسهم من أفعال وأقوال . ومن أكبر تبعات اتباع الهوى إضلال الآخرين وإبعادهم عن الطريق الحق ؛ فالهوى لا يقتصر خطره على صاحبه، بل كثيراً ما يتعداه إلى غيره من الناس .

Demikianlah seterusnya hingga mereka menemukan pembenaran (takhriij) bagi setiap perbuatan dan ucapan yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka. Salah satu konsekuensi terbesar dari mengikuti hawa nafsu (ittibaa‘ul hawaa) adalah menyesatkan orang lain dan menjauhkan mereka dari jalan yang benar; sebab bahaya hawa nafsu tidak terbatas pada pemiliknya saja, melainkan sering kali meluas kepada orang lain.

فقد قال المولى – عز وجل -:

Allah al Mawlaa—‘Azza wa Jalla—berfirman:

{وإن كثيرا ليضلون بأهوائهم بغير علم} [الأنعام: 119]

“Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan.” [Al-An‘aam: 119]

فعامة الجماهير لا تفرق بين الحق وقائله ، فتعرف الحق بالرجال ؛ فإن صدر ممن اشتهر بين العامة بالعلم أخذوا منه كل ما قال ، وإن اشتهر بعمل الخير سوَّغوا له كل ما عمل ، وقلدوه في كل أمر .

Khalayak umum tidak membedakan antara kebenaran dengan orang yang mengucapkannya, sehingga mereka mengenali kebenaran melalui ketokohan seseorang. Jika suatu perkataan keluar dari orang yang masyhur di kalangan awam karena ilmunya, mereka akan mengambil semua yang dikatakannya. Dan jika ia masyhur karena amal kebaikannya, mereka akan melegalkan semua yang ia kerjakan dan mengikutinya (taqliid) dalam setiap urusan.

وهكذا حتى انتشر المذهب الذرائعي البراجماتي بين الناس بزلات أهل العلم والاختصاص واتباعهم لأهوائهم .

Demikianlah seterusnya hingga mazhab pragmatis (adz dzara-i‘iy al baraajamaatiy) ini tersebar di tengah manusia akibat ketergelinciran para ahli ilmu dan spesialis serta perilaku mereka yang mengikuti hawa nafsu.

ثالثاً: اتساع الفجوة بين العلماء والمفكرين :

Ketiga: Melebarnya Celah Antara Ulama dan Pemikir :

لقد استيقظت الأمة الإسلامية من غفلتها وسباتها وقد سبقها الغرب إلى ركب الحضارة والتقدم والمعرفة ، فلم يكن لأبنائها بد من السعي الحثيث لاقتفاء أثر المعرفة الدينية والدنيوية في معاقل الغرب ومعاهدهم .

Umat Islam telah terbangun dari kelalaian dan tidurnya, sementara Barat telah mendahului mereka dalam kafilah peradaban, kemajuan, dan pengetahuan. Maka tidak ada pilihan bagi putra-putranya selain berupaya keras untuk menelusuri jejak pengetahuan agama maupun dunia di pusat-pusat dan lembaga-lembaga Barat.

فننشأ جيل من المفكرين والمثقفين الذين تتلمذوا وتعلموا على أيدي الغرب ومناهجهم ، وكان منهم من يستهجن آراء بعض العلماء وفتاويهم وتصريحاتهم ومحاضراتهم ويكثر من العبارات المنتقصة لوعيهم وإحاطتهم بالواقع المعاصر .

Maka tumbuhlah generasi pemikir dan intelektual yang belajar di bawah bimbingan Barat dan manhaj-manhaj mereka. Di antara mereka ada yang mencela pendapat sebagian ulama, fatwa-fatwa mereka, pernyataan, serta ceramah mereka, serta sering melontarkan ungkapan yang merendahkan kesadaran dan pemahaman ulama terhadap realitas kontemporer.

وظهـرت المصطلحات الساخرة ” كدعاة الجمود ” و” التحجر الفكري ” و ” غلق باب الاجتهاد ” . وفي المقابل فقد كان لانغلاق العلماء الشرعيين في حدود بيئتهم الضيقة سبب في اتساع هذه الفجوة .

Muncullah istilah-istilah sinis seperti “penyeru kejumudan”, “pembekuan pemikiran”, dan “penutupan pintu ijtihad” (al ijtihaad). Sebaliknya, keterisolasian para ulama syariat (al ‘ulamaa’ asy syar‘iyyiin) di dalam batas lingkungan mereka yang sempit juga menjadi penyebab melebarnya celah ini.

فقد ترفع بعض هؤلاء العلماء عن مخالطة المفكرين والرد عليهم والاطلاع على آرائهم وكتبهم ، واكتفى بعضهم بالحكم على بعض أقوال المفكرين أحكاماً عامة لا تَشْفِي غليل الأجيال الناشئة التي كانت الضحية الأولى لهذه الفجوة .

Sebagian ulama tersebut enggan untuk berinteraksi dengan para pemikir, membantah mereka, atau menelaah pendapat dan buku-buku mereka. Sebagian mereka merasa cukup dengan memberikan vonis umum atas sebagian ucapan para pemikir dengan penilaian yang tidak memuaskan dahaga generasi muda yang merupakan korban pertama dari celah ini.

ففي حين ظهر تيار شعبي رافض لجميع وسائل الحوار والرد والتصدي لمثل هذه الأفكار ومناقشتها بحجة الحكم مسبقاً على أصحابها بالضلالة، ظهر تيار آخر من تلك الأجيال الناشئة راقت له هذه الآراء وتبناها وعمل بها ودعا إليها ، دون تمحيص أو تقييم ؛ فزاد هذا التقسيمُ الفجوةَ اتساعاً يصعب الآن ترقيعه .

Maka ketika muncul suatu aliran di masyarakat yang menolak segala sarana dialog, sanggahan, dan pembendungan terhadap ide-ide tersebut dengan alasan memberikan vonis sesat (dhalaalah) terlebih dahulu kepada pemiliknya, muncul pula aliran lain dari generasi muda yang menyukai ide-ide tersebut, mengadopsinya, mengamalkannya, dan menyerukannya tanpa adanya penelitian atau evaluasi. Perpecahan ini semakin memperlebar celah yang kini sulit untuk diperbaiki.

رابعاً: التقصير في واجب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر :

Keempat: Kelalaian dalam Kewajiban Amar Makruf Nahi Mungkar :

إن الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر هو القطب الأعظم في الدين، وهو المهمة التي بعث الله بها الرسل أجمعين . وبإقامته كما أمر الله – سبحانه وتعالى – استحقت هذه الأمة أن تكون خير أمة أخرجت للناس .

Sesungguhnya memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran (al amru bil ma‘ruuf wan nahyu ‘anil munkar) merupakan pilar (kutub) yang agung dalam agama, dan ia merupakan misi yang karenanya Allah mengutus seluruh Rasul. Dengan menegakkannya sebagaimana yang diperintahkan Allah—Subhaanahu wa Ta‘aala—maka umat ini layak menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.

حيث قال المولى – عز وجل -:

Di mana Allah al Mawlaa—‘Azza wa Jalla—berfirman:

{كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله} [آل عمران: 110]

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma‘ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [‘Aali ‘Imraan: 110]

وإن من أشق ما تواجه الأمة اليوم هو الغبش والغموض في مدلول الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ومعناه الشامل الذي يقتضي ” استبانة سبيل المجرمين” وإظهار الحق ومناصرته ، ودحض الباطل وتعريته .

Sesungguhnya di antara perkara terberat yang dihadapi umat hari ini adalah kekaburan dan ambiguitas dalam makna amar makruf nahi mungkar serta makna komprehensifnya yang menuntut “kejelasan jalan orang-orang yang berdosa”, menampakkan kebenaran serta membelanya, dan membatalkan kebatilan serta menelanjanginya.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.