البراجمـــاتية – نشأتها وأثرها على سلوك المسلمين
Pragmatisme – Asal-usulnya dan Dampaknya Terhadap Perilaku Muslim (Bagian Ketujuh – Terakhir)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Pragmatisme – Asal-usulnya dan Dampaknya Terhadap Perilaku Muslim ini masuk dalam Kategori Aqidah
وقد كان لاختلاط المسلمين بالمجتمعات الغربية أثر واضح في تمييع المفاهيم الإسلامية والتساهل في بعض الأحكام ، بل وردها أحياناً مجاراةً لتحقيق التعايش وتبادل المصالح وتقارب الأفكار .
Interaksi kaum Muslimin dengan masyarakat Barat telah memberikan dampak yang nyata dalam pengaburan konsep-konsep Islam dan sikap mempermudah sebagian hukum, bahkan terkadang menolaknya demi mengejar terwujudnya koeksistensi (al ta‘aayusy), pertukaran kepentingan, serta penyatuan pemikiran.
فلم يعد مستغرباً أن نستمع الآن إلى خطيب يستنكر على أصحاب العقول المتحجرة أنهم يصرحون بدخول النصارى النار ، محتجاً بأن القرآن امتدحهم وأن بعضهم قدّم للإنسانية أجمع أعمالاً جليلة في حين يرتكب بعض المسلمين جرماً وآثاماً تعجز عن حملها الجبال ولا يحكم عليه بدخول النار !
Maka tidak lagi mengherankan jika sekarang kita mendengar seorang khatib (khathiib) yang mencela orang-orang berpikiran kaku karena mereka menyatakan secara terang-terangan bahwa kaum Nasrani masuk neraka. Ia berargumen bahwa al Qur-aan memuji mereka dan sebagian dari mereka telah memberikan karya-karya besar bagi kemanusiaan, sementara di sisi lain sebagian Muslim melakukan kejahatan dan dosa yang sangat berat namun tidak dihukumi masuk neraka!
كما أنه لم يعد مستغرباً اعتراض بعض الكتاب على الحجاب الإسلامي ، واعتباره مسألة هامشية ينبغي ألا تعيق المرأة من مشاركتها في تنمية المجتمع والمساهمة في بنائه أسوة بمثيلاتها في الغرب .
Demikian pula tidak lagi mengherankan adanya keberatan dari sebagian penulis terhadap jilbab (al hijaab) Islam, dan menganggapnya sebagai masalah pinggiran yang seharusnya tidak menghalangi wanita untuk berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat dan berkontribusi dalam pembentukannya sebagaimana rekan-rekan mereka di Barat.
ومن ذلك أيضاً احتجاج بعضهم بالقاعدة الدعوية المعروفة ” نتعاون فيما اتفقنا عليه ، ويعذر بعضنا بعضاً فيما اختلفنا فيه ” ، فوسعوا هذه القاعدة حتى شملت إعذار من لا يشك في كفره وضلاله .
Termasuk dalam hal itu juga adalah argumentasi sebagian orang dengan kaidah dakwah yang masyhur: “Kita bekerja sama dalam hal yang kita sepakati, dan saling memaklumi dalam hal yang kita perselisihkan.” Mereka memperluas kaidah ini hingga mencakup pemakluman terhadap orang yang tidak diragukan lagi kekafiran (kufr) dan kesesatannya (dhalaal).
واختلط الأمر على بعض المسلمين الذين عاشوا بين ظهراني الغرب ، واعتادوا على التعاون معهم ، فاختلط عليهم معنى التعاون والمودة والإعذار ؛ فالتعاون مع الكفار لرد الشر والباطل بشتى أنواعه وطرقه أمر مجاله فسيح وبابه واسع؛ لكن مودتهم ومحبتهم لا تحل لمسلم .
Perkara ini menjadi campur aduk bagi sebagian Muslim yang tinggal di tengah-tengah Barat dan terbiasa bekerja sama dengan mereka, sehingga mereka bingung membedakan antara makna kerja sama (al ta‘aawun), rasa kasih sayang (al mawaddah), dan sikap memaklumi (al i‘dzaar). Kerja sama dengan kaum kafir (al kuffaar) untuk menolak keburukan dan kebatilan dalam berbagai jenis dan caranya merupakan urusan yang lapang dan pintunya terbuka luas, namun memberikan rasa kasih sayang dan cinta kepada mereka tidaklah halal bagi seorang Muslim.
لقول المولى ـ عز وجل ـ:
Hal ini dikarenakan firman Allah al Mawlaa—‘Azza wa Jalla—:
{ لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله ورسوله ولو كانوا آباءهم أو أبناءهم أو إخوانهم أو عشيرتهم أولئك كتب في قلوبهم الإيمان وأيدهم بروح منه ويدخلهم جنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها رضي الله عنهم ورضوا عنه أولئك حزب الله ألا إن حزب الله هم المفلحون } [المجادلة: 22]
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” [Al-Mujaadilah: 22]
فالإنكار عليهم واجب ، وإعذارهم لا ينبغي ؛ فمحل الإعذار بين أهل السنة من المسلمين وليس مكانه بينهم وبين غيرهم .
Maka mengingkari mereka adalah wajib, dan memaklumi mereka tidaklah sepantasnya. Karena tempat diterapkannya sikap saling memaklumi (al i‘dzaar) adalah di antara sesama Ahlus Sunnah dari kalangan Muslim, bukan antara mereka dengan selain mereka.
وأخيراً فإن البراجماتية ستبقى مستشرية في جسد هذه الأمة ، ناخرة في عقول أبنائها إن لم يتصدَّ العالمون بحقيقتها وسبيلها بواجبهم في الإنكار على مروِّجيها وسالكي سبلها ، وبيان خطرها على تراث الأمة ودينها .
Akhirnya, Pragmatisme akan tetap merajalela di dalam tubuh umat ini dan menggerogoti akal putra-putranya jika orang-orang yang mengetahui hakikat serta jalannya tidak melaksanakan kewajiban mereka untuk mengingkari para promotor dan pengikutnya, serta menjelaskan bahayanya terhadap warisan (turaats) umat dan agamanya.
فقد قال صلى الله عليه وسلم :
Sungguh shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
( من رأى منكم منكراً فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ؛ وذلك أضعف الإيمان )
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya; dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
وفي رواية أخرى لمسلم : ( وليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل )؛ وإذا كان هذا الخطاب للمسلمين عامة فإنه على العلماء العارفين أوجب .
Dalam riwayat lain oleh Muslim disebutkan: “Dan tidak ada di balik itu iman seberat biji sawi pun.” Jika khitab (khithaab) ini ditujukan kepada kaum Muslimin secara umum, maka bagi para ulama (al ‘ulamaa’) yang mengetahui, kewajiban ini jauh lebih ditekankan.
فالأحرى بمن ملك العلم منهم أن يخرج من العزلة المعنوية والمحلية الضيقة إلى العالمية الفسيحة والمعايشة الدائمة لمشكلات العالم الإسلامي المعاصرة ، وأن يتخذ من الأساليب الحديثة طرقاً للحوار والاتصال بالمفكرين ووسائل الإعلام .
Maka sudah sepatutnya bagi mereka yang memiliki ilmu untuk keluar dari isolasi maknawi dan lokalitas yang sempit menuju cakrawala dunia yang luas serta berinteraksi secara konsisten dengan problematika dunia Islam kontemporer, serta menggunakan metode-metode modern sebagai sarana dialog dan komunikasi dengan para pemikir serta media massa.
كما أنه من الواجب على أصحاب الفكر والمثقفين الرجوع إلى فتاوى وآراء أهل العلم الشرعي ، والاستماع لهم ، ومناقشتهم ، وسد النقص الذي لديهم ، فإن حسن نواياهم وسلامة مآربهم وإخلاص أعمالهم لا تشفع لهم أخطاءهم واجتهاداتهم الفكرية الشاذة .
Demikian pula wajib bagi para pemikir dan intelektual untuk kembali kepada fatwa-fatwa (fataawaa) dan pendapat para ahli ilmu syariat (syarii‘ah), mendengarkan mereka, mendiskusikannya, serta menutupi kekurangan yang mereka miliki. Sesungguhnya niat baik mereka, keselamatan maksud mereka, dan keikhlasan amal mereka tidak dapat membela kesalahan serta ijtihad (ijtihaadaat) pemikiran mereka yang menyimpang.
والله أعلم .
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply