Pragmatisme – Asal-usulnya dan Dampaknya Terhadap Perilaku Muslim (1)



البراجمـــاتية – نشأتها وأثرها على سلوك المسلمين

Pragmatisme – Asal-usulnya dan Dampaknya Terhadap Perilaku Muslim (Bagian Pertama)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Pragmatisme – Asal-usulnya dan Dampaknya Terhadap Perilaku Muslim ini masuk dalam Kategori Aqidah

ابتُليت الأمة الإسلامية عبر تاريخها بتيارات هدامة تسعى إلى الفتك بجسمها ، وتشتيت فكرها ، وإهدار كرامتها ، وتمزيق هويتها ، والحيلولة بينها وبين الوصول إلى أهدافها وغايتها. وقد تدرجت تلك التيارات في خطورتها وضلالتها ، كما تدرجت وتباينت في خفائهـا وتلبيسها على أبناء هذه الأمة .

Umat Islam sepanjang sejarahnya telah diuji dengan berbagai aliran sesat yang berupaya menghancurkan tubuhnya, memecah belah pemikirannya, menyia-nyiakan martabatnya, mencabik-cabik identitasnya, serta menghalangi antara dirinya dengan pencapaian tujuan dan sasarannya. Bahaya dan kesesatan (dhalaalah) aliran-aliran tersebut bertingkat-tingkat, sebagaimana mereka juga bertingkat-tingkat dan bervariasi dalam kerahasiaan serta penyamarannya terhadap putra-putra umat ini.

ومن تلك التيارات التي بدأت تتشكل وتستشري بين أفراد هذه الأمة ومثقفيها ( التيار البراجماتي ) الذي يدعو إلى الذرائعية ، وتمييع المفاهيم ، وتقديس الواقعية ، وتسويغ الوسائل للوصول إلى الغايات العملية .

Di antara aliran-aliran yang mulai terbentuk dan merajalela di kalangan individu serta intelektual umat ini adalah “Aliran Pragmatis” (at Thayyaat al Baraajamaatiy), yang menyerukan kepada paham kemanfaatan (adz dzara-i‘iyyah), pengaburan konsep, pengkultusan realisme (al waaqi‘iyyah), serta penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan-tujuan praktis.

هذا الفكر الدخيل وجد أتباعاً ومريدين ، بل ودعاة ومروجين له ـ ولو لم يسمعوا به من قبل، أو يخطر لهم على بال . وهذا البحث المختصر يلقي الضوء على نشأة هذا التيار ، وأسباب انتشاره ، وأثره على سلوك المسلمين وتوجهاتهم الأدبية والإعلامية والاقتصادية .

Pemikiran asing ini telah menemukan pengikut dan penganut, bahkan dai-dai serta promotornya—walaupun mereka mungkin belum pernah mendengarnya sebelumnya atau terlintas dalam benak mereka. Penelitian singkat ini akan menyoroti asal-usul aliran ini, sebab-sebab penyebarannya, serta dampaknya terhadap perilaku kaum Muslimin dan kecenderungan mereka di bidang sastra, media, dan ekonomi.

ما هي البراجماتية ؟

Apa itu Pragmatisme?

إن البراجماتية اسم مشتق من اللفظ اليوناني براجما (pragme) وتعني ” العمل ” . وعرفها قاموس ويبستر العالمي (Webster) بأنها تيار فلسفي أنشأه شارلز بيرس (Charles Peirce) ووليام جيمس (William James) يدعو إلى أن حقيقة كل المفاهيم لا تثبت إلا بالتجربة العلمية .

Sesungguhnya Pragmatisme adalah nama yang diambil dari istilah Yunani Baraajama (pragma) yang berarti “amal” atau “tindakan”. Kamus Dunia Webster mendefinisikannya sebagai aliran filsafat yang didirikan oleh Charles Peirce dan William James, yang menyerukan bahwa hakikat segala konsep tidak dapat dibuktikan kecuali melalui eksperimen ilmiah (at tajribah al ‘ilmiyyah).

أما ديوي فقد وصف البراجماتية بأنها ” فلسفة معاكسة للفلسفة القديمة التي تبدأ بالتصورات ، وبقدر صدق هذه التصورات تكون النتائج ، أما البراجماتية فهي تدعُ الواقع يفرض على البشر معنى الحقيقة ، وليس هناك حق أو حقيقة ابتدائية تفرض نفسها على الواقع ” .

Adapun Dewey mendeskripsikan Pragmatisme sebagai “filsafat yang berlawanan dengan filsafat kuno yang bermula dari konsepsi-konsepsi (at tashawwuraat), di mana sejauh mana kebenaran konsepsi tersebut akan menentukan hasilnya. Sedangkan Pragmatisme membiarkan realitas mendikte makna kebenaran kepada manusia, dan tidak ada kebenaran awal yang memaksakan dirinya pada realitas.”

وكما يؤكد جيمس الذي طور هذا الفكر ونظّر له في كتابه ” البراجماتية ” Pragmatism ، فإن البراجماتية لا تعتقد بوجود حقيقة مثل الأشياء مستقلة عنها . فالحقيقة هي مجرد منهج للتفكير ، كما أن الخير هو منهج للعمل والسلوك ؛ فحقيقة اليوم قد تصبح خطأ الغد ؛ فالمنطق والثوابت التي ظلت حقائق لقرون ماضية ليست حقائق مطلقه ، بل ربما أمكننا أن نقول : إنها خاطئة .

Sebagaimana ditegaskan oleh James, yang mengembangkan pemikiran ini dan memberikan teori dalam bukunya “Pragmatism”, bahwa Pragmatisme tidak meyakini adanya kebenaran yang berdiri sendiri seperti benda-benda. Kebenaran hanyalah sebuah metode berpikir, sebagaimana kebaikan adalah metode dalam beramal dan berperilaku. Kebenaran hari ini bisa jadi merupakan kesalahan di hari esok. Logika dan ketetapan-ketetapan (at tsawaabit) yang tetap menjadi kebenaran selama berabad-abad lampau bukanlah kebenaran mutlak, bahkan mungkin kita bisa katakan bahwa hal itu salah.

بين العلمانية والعقلانية :

Antara Sekularisme dan Rasionalisme:

يخلط من يعتبر البراجماتية مصطلحاً مرادفاً للعقلانية ؛ فالبراجماتية تقرر أن الحقيقة أو التجربة أو الواقع يتغير ، أما الواقع والحقيقة في نظر العقلانية فهي قائمة منذ الأزل ؛ فبمقدار ما ينظر العقلانيون إلى الماضي يعتد البراجماتيون بالمستقبل وحده .

Keliru orang yang menganggap Pragmatisme sebagai istilah yang sinonim dengan Rasionalisme (al ‘aqlaniyyah); sebab Pragmatisme menetapkan bahwa kebenaran, pengalaman, atau realitas itu berubah-ubah, sedangkan realitas dan kebenaran dalam pandangan Rasionalisme telah ada sejak azali. Sejauh para rasionalis memandang ke masa lalu, para pragmatis hanya mempedulikan masa depan saja.

أما العلمانية أو ” اللادينية ” بتعريفها العلمي الدقيق فقد كانت وما تزال منهجـاً فكـرياً هـداماً تسللت من خلاله أفكـار الغرب وقيمه التي حملها ، وكان من أخلص دعاتها بَعْضٌ أبناء هذه الأمة وفلذات كبدها . إلا أن تيار الصحوة الإسلامية الذي اجتاح بفضل الله ورحمته بقاع الأرض تصدى لهذا الفكر الفاسد ، وعرَّى دعاته ، ورد كيد مروِّجيه .

Adapun Sekularisme (al ‘almaaniyyah) atau “paham tanpa agama” (al laadiiniyyah) menurut definisi ilmiahnya yang akurat, telah dan masih menjadi manhaj pemikiran yang merusak, yang melaluinya menyusup ide-ide Barat dan nilai-nilai yang dibawanya. Di antara dai-dainya yang paling setia adalah sebagian putra-putri umat ini sendiri. Namun, aliran Kebangkitan Islam (as shahwah al islaamiyyah) yang menyapu berbagai penjuru bumi berkat anugerah dan rahmat Allah, telah membendung pemikiran rusak ini, menelanjangi para penyerunya, dan menangkis tipu daya para promotornya.

فلم يعد للعلمانية في عدد من ديار المسلمين التي نضجت فيها الصحوة ونمت وأثمرت مشاعل خير وهدى ، لم يعد لها بريق أخاذ كما كانت في الماضي ؛ فقد أصبحت الأصوات المنادية بأفكارها نشازاً ، ودعاتها منبوذين ، واستبانت للجماهير ” سبيلُ المجرمين ” وطرقُهم .

Maka Sekularisme di sejumlah negeri Muslim tempat kebangkitan itu matang, tumbuh, dan membuahkan obor kebaikan serta petunjuk, tidak lagi memiliki daya tarik yang memikat seperti di masa lalu. Suara-suara yang menyerukan ide-idenya telah menjadi sumbang, para dainya dikucilkan, dan telah menjadi jelas bagi khalayak ramai “jalan orang-orang yang berdosa” serta cara-cara mereka.

فلم يعد مقبولاً في أكثر بلاد المسلمين أن ينعق أحد بالقول : ” ما للإسلام وسلوكنا الشخصي ؟ ” ، ” وما للإسلام وزي المرأة ؟ ” ، ” وما للإسلام والأدب ؟ ” ، “وما للإسلام والاقتصاد ؟ ” .

Kini tidak lagi dapat diterima di sebagian besar negeri Muslim jika ada seseorang yang berseru dengan ucapan: “Apa urusan Islam dengan perilaku pribadi kita?”, “Apa urusan Islam dengan pakaian wanita?”, “Apa urusan Islam dengan sastra?”, atau “Apa urusan Islam dengan ekonomi?”.

لكن هذه الأصوات تجد آذانا صاغية ، بل وأتباعاً ومريدين ومؤيدين حينما تنهج الفكر البراجماتي فتقول: ” إنه لا بأس بوجود القنوات الفضائية العربية الماجنة طالما أنها تصرف المشاهدين المسلمين عن القنوات الكفرية المنحلة ” ، أو تنادي بأن التمكين في الأرض واستخلافها يسوِّغ بعض الربا إذا ما أدى إلى انتعاش موارد الأمة وقوة اقتصادها . كما أنه ليس في بعض الكفر والإلحاد بأس إذا ما أنتج الأدب إبداعاً ثقافياً مميزاً .

Akan tetapi, suara-suara ini menemukan telinga yang mau mendengar, bahkan pengikut, penganut, dan pendukung ketika mereka menggunakan manhaj pemikiran Pragmatis dengan mengatakan: “Sesungguhnya tidak mengapa adanya saluran televisi satelit Arab yang asusila selama hal itu mengalihkan pemirsa Muslim dari saluran kafir yang bejat,” atau menyerukan bahwa penguasaan di bumi (tamkiin) menghalalkan sebagian riba (riba) jika hal itu membawa pada kebangkitan sumber daya umat dan kekuatan ekonominya. Demikian pula, dianggap tidak mengapa ada sebagian kekufuran dan ateisme (ilhaad) jika sastra menghasilkan karya budaya yang istimewa.

فهذا المذهب الذرائعي البراجماتي ربما كان مطية يمتطيه أصحاب الفكر العلماني للوصول إلى مآربهم وأهدافهم في تمييع شـرائع الدين ونقض أصوله وثوابته . والحق أن البراجماتية ـ على هذا النحو ـ تعد أكثر خطراً على سلوك المسلمين وعامتهم من العلمانية في وقتنا المعاصر .

Maka mazhab pragmatis yang berorientasi pada kemanfaatan (adz dzara-i‘iy) ini barangkali menjadi tunggangan bagi penganut pemikiran sekuler untuk mencapai maksud dan tujuan mereka dalam mengaburkan syariat-syariat (syaraa-i‘) agama serta meruntuhkan dasar-dasar dan ketetapannya. Kenyataannya, Pragmatisme—dalam bentuk seperti ini—dianggap lebih berbahaya bagi perilaku kaum Muslimin dan masyarakat awam daripada Sekularisme di zaman kita sekarang.

كما أن دعاتها الذين استمرؤوا هذا الفكر ودافعوا عنه ، وروجوا له وحسنوه في أعين الناس ، وارتضوه معتقداً ومنهجاً لسلوكهم ليسوا مجرد عُصاة ، بل مبتدعة ومحدثون يسري فيهم قول المصطفى صلى الله عليه وسلم :

Demikian pula para pengajaknya yang telah terbiasa dengan pemikiran ini, membelanya, mempromosikannya, memperindahnya di mata manusia, serta meridhainya sebagai akidah (mu‘taqad) dan manhaj bagi perilaku mereka, bukanlah sekadar pelaku maksiat (‘ushaah), melainkan ahli bidah (mubtadi‘ah) dan pembuat perkara baru (muhditsuun) yang berlaku pada mereka sabda Al Mushthafaa shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة”

“Dan barangsiapa yang mencontohkan suatu perbuatan yang buruk, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat.” (HR. Muslim)

وقوله ـ عليـه الصـلاة والسلام ـ:

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.