Ritual Pemujaan Roh, Klenik dan Kefasikan (1)



الــزار … شعوذة وفجور

Az Zaar (Ritual Pemujaan Roh),  Syu‘wadzah dan Fujuur (Klenik dan Kefasikan) – Bagian Pertama

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Az Zaar (Ritual Pemujaan Roh)… Syu‘wadzah dan Fujuur ini masuk dalam Kategori Aqidah

من الممارسات الجسدية التي تمزج بين طاعة الجسد وطاعة الجن : الزار .

Di antara praktik jasmani yang mencampurkan antara ketaatan tubuh dan ketaatan kepada jin adalah: az Zaar (ritual pemujaan roh).

ونحن نميل لاعتباره طقساً جنسياً وجنياً وجسدياً لكونه مزيجاً من هذه الثـلاثة مجتمعة ، فالتركيز فيه على الملابس والألوان والرقص يكشف بوضوح عن بعده الجنسي ، واستخدامه ستاراً لممارسات محرمة يؤكد هذا .

Kami cenderung menganggap ritual pemujaan roh ini sebagai ritual seksual, jin, dan jasmani karena ia merupakan campuran dari ketiganya secara bersamaan. Fokus di dalamnya pada pakaian, warna, dan tarian mengungkapkan dengan jelas dimensi seksualnya, dan penggunaannya sebagai kedok bagi praktik-praktik yang diharamkan memperkuat hal ini.

فضلاً عن أن كثيرين ممن ينظرون إليه من ناحية نفسية يعتبرونه تنفيساً بدنياً عن كبتٍ أو معـاناة جنسية بدنية تتفجر بحـرية من خلال الرقص العنيف الصاخب والحركات المبالغ فيها .

Terlebih lagi, banyak orang yang memandangnya dari sisi psikologis menganggap ritual ini sebagai pelampiasan fisik atas penindasan atau penderitaan seksual jasmani yang meledak secara bebas melalui tarian yang keras dan hiruk-pikuk serta gerakan-gerakan yang berlebihan.

ولست بدعاً في ذلك فهناك ” من الدارسين من يؤكد أنه ذو دلالة جنسية ، ويذهبون في ذلك مذهبـاً بعيداً ” .

Aku bukanlah orang pertama yang mengatakan hal ini, karena ada di antara para peneliti yang menegaskan bahwa az Zaar memiliki konotasi seksual, dan mereka melangkah sangat jauh dalam pendapat tersebut.

وهو على كل حال أدل الطقوس الاعتقادية على بدائية الفن الشعبي ، فهو مجرد رقصات همجية تذكرنا بما نقرؤه عن رقصات الجماعات البدائية المتأخرة استدراراً للخير أو دفعاً للحيوان الباطش أو الظلام المخيف .

Bagaimanapun juga, ritual pemujaan roh ini merupakan ritual kepercayaan yang paling menunjukkan primitifnya seni rakyat; ia hanyalah tarian biadab yang mengingatkan kita pada apa yang kita baca tentang tarian kelompok-kelompok primitif terbelakang untuk mendatangkan kebaikan atau mengusir hewan buas atau kegelapan yang menakutkan.

ولتتأكد من الروح الشركية عالية النبرة الموجودة بطقس الزار اقرأ هذه الصيغة الشركية :

Untuk memastikan adanya ruh kesyirikan yang bernada tinggi di dalam ritual az Zaar ini, bacalah rumus kesyirikan berikut:

يا بنت ماما يا أم الغلام
يامُ الغلام والعفو منك
يامُ الغلام واشفي عّيانك
يامُ الغلام والطبل طبلك
يامُ الغلام والدبح دبحك
يام الغلام والكل عندك
يام الغلام والليلة ليلتك

Wahai putri Mama, wahai Ibu si pemuda
Wahai Ibu si pemuda, maaf darimu
Wahai Ibu si pemuda, sembuhkanlah orang sakitmu
Wahai Ibu si pemuda, gendang ini adalah gendangmu
Wahai Ibu si pemuda, sembelihan ini adalah sembelihanmu
Wahai Ibu si pemuda, semua orang berada di sisimu
Wahai Ibu si pemuda, malam ini adalah malammu

وقد اعتبره المصلحون الاجتماعيون من الأمراض الخطيرة التي تقوض دعـائم المجتمع ، ونُشرت مقـالات وكتب عن مضار الزار .

Para pembaharu sosial telah menganggap ritual pemujaan roh ini sebagai penyakit berbahaya yang meruntuhkan pilar-pilar masyarakat, dan telah diterbitkan berbagai artikel serta buku tentang bahaya az Zaar.

وكانت النظرة الإصلاحية في ذلك الوقت ترى أن أضرار الزار تكمن في أمرين :
أولهما: السفه في إنفاق المال بغير طائل إرضاءً لطائفة من صاحبات الدجل والشعوذة .
وثانيهما: ما لوحظ في بعض الأحوال من استخدام حفـلات الزار بطريقة سرية لأعمال منافية للآداب، حتى إن بعض هذه الحفلات كانت تقام فقط من أجل التهتك والعربدة .

Pandangan perbaikan pada waktu itu melihat bahwa bahaya ritual ini terletak pada dua hal: Pertama, kebodohan dalam membelanjakan harta tanpa guna demi memuaskan sekelompok wanita pelaku tipu daya dan klenik (asy syu‘wadzah). Kedua, apa yang diamati dalam beberapa kondisi tentang penggunaan pesta-pesta pemujaan roh ini secara rahasia untuk tindakan-tindakan asusila, bahkan sebagian pesta ini diadakan hanya untuk kemerosotan moral dan pesta pora.

وسبب ثالث: أهم من هذين لم يذكره ” المصلحون الاجتماعيون ” !! وهو السبب الديني العقيـدي ، الذي يقضي بوضوح وحسم على كل مظهر من مظـاهر عبادة الجن أو الدينونة لغير الله تعالى ، واعتقاد أن مخلوقاً ما يتصرف في أقدار الناس وعقولهم وقلوبهم .

Dan sebab ketiga: yang lebih penting dari kedua sebab ini yang tidak disebutkan oleh para pembaharu sosial!! Yaitu sebab agama dan akidah (al ‘aqiidiy), yang secara jelas dan tegas meniadakan setiap bentuk peribadatan kepada jin atau ketundukan kepada selain Allah Ta‘aala, serta keyakinan bahwa ada makhluk tertentu yang mengatur takdir manusia, akal, dan hati mereka.

وقد دخل طقس الـزار إلى كل بلاد المسلمين بلا استثناء – فيما وجدت – حتى إنه دخـل الجزيرة العربية واستقر بها ، فهو منتشر في مصر والسودان والمغرب العربي والعراق والخليج والسعودية ، فضلاً عن وجوده في الحبشة – التي تعد مهده الأول – وبين زنوج افريقيا ، بل وفي أووربا ، مع فروق بين كل بلد .

Ritual pemujaan roh (az Zaar) telah masuk ke seluruh negeri Muslim tanpa terkecuali—sejauh yang aku temukan—bahkan ia telah masuk ke Jazirah Arab dan menetap di sana. Ia tersebar di Mesir, Sudan, Maghrib Arab, Irak, Teluk, dan Arab Saudi; selain keberadaannya di Habasyah (Ethiopia)—yang dianggap sebagai tempat kelahirannya yang pertama—di antara kaum Negro Afrika, bahkan di Eropa, dengan perbedaan-perbedaan di setiap negara.

يقول فهد الطياش : إن ارتباط أغاني السامري برفقة الزار حديث عهد بالجزيرة العربية بعد انتشار الجهل ، كما أن مفهوم الزار غريب ومنافٍ لروح العقيدة .

Fahd al Thayyaasy berkata: Sesungguhnya keterkaitan lagu-lagu as Saamiriy dengan pengiring ritual pemujaan roh ini merupakan hal baru di Jazirah Arab setelah tersebarnya kebodohan, sebagaimana konsep az Zaar adalah asing dan bertentangan dengan ruh akidah (al ‘aqiidah).

وفكرة أن الأرواح المؤمنة أو الجن المؤمنين يسيطرون على أفراد من الإنـس شبيهة بما يعتقده الزنوج النصارى من المعمدانيين Baptist خاصة خلال طقوس الكنيسة .

Ide bahwa ruh-ruh mukmin atau jin mukmin mengendalikan individu dari kalangan manusia serupa dengan apa yang diyakini oleh kaum Negro Kristen dari kalangan Baptis (Baptist), khususnya selama ritual-ritual gereja.

ومن خلال ملاحظتي – يقول فهد الطياش – لما يقدم من تلك الطقوس الدينية خاصة في منطقة ديترويت – نرى أن هؤلاء الناس يقومون بمثل ما يقوم به راقص الزار في الجزيرة العربية (!!) ولكن الاختلاف في مصدر الإثارة والنشوة .

Melalui pengamatanku—kata Fahd al Thayyaasy—terhadap apa yang disuguhkan dari ritual keagamaan tersebut, khususnya di wilayah Detroit, kita melihat bahwa orang-orang itu melakukan hal yang serupa dengan apa yang dilakukan penari pemujaan roh di Jazirah Arab (!!), namun perbedaannya terletak pada sumber rangsangan dan ekstasi (nasywah).

ففي الطقوس الكنسية نرى أن مصدر الإثارة هو الإلقاء الدرامي أو غناء الكورال الذين يؤدون التراتيل . أما في قصة الزار فنرى أن مصدر الإثارة هو موسيقى السامري وغناؤه .

Dalam ritual gereja, kita melihat bahwa sumber rangsangan adalah penyampaian dramatis atau nyanyian paduan suara yang membawakan himne. Adapun dalam kisah az Zaar ini, kita melihat bahwa sumber rangsangannya adalah musik as Saamiriy dan nyanyiannya.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.