الــزار … شعوذة وفجور
Az Zaar (Ritual Pemujaan Roh)… Syu‘wadzah dan Fujuur (Klenik dan Kefasikan) – Bagian Kedua
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Az Zaar (Ritual Pemujaan Roh)… Syu‘wadzah dan Fujuur (Klenik dan Kefasikan) ini masuk dalam Kategori Aqidah
الأداء يبدأ في الكنيسة عادة بترتيل بسيط ، ومن ثم يتصاعد في الحدة والإثارة إلى حـد درامي يثير لدى الشخص النشوة ، والإحساس بأن قدرة علوية تسيطر عليه ، بينما نرى في رقصة الزار أن الحافظ يردد قصيدة معينة، يردده خلفه المغنون .
Pertunjukan di Gereja (al kaniisah) biasanya dimulai dengan nyanyian sederhana, kemudian meningkat intensitas dan rangsangannya hingga mencapai tingkat dramatis yang membangkitkan ekstasi (nasywah) pada diri seseorang, serta perasaan bahwa ada kekuatan tinggi yang mengendalikannya. Sementara itu, kita melihat dalam tarian pemujaan roh (az Zaar) bahwa sang pemimpin (al haafizh) melantunkan bait syair tertentu, yang kemudian diikuti oleh para penyanyi di belakangnya.
وفي كلتا الحالتين فإن مؤثراً حسياً يؤثر في أشخاص بأعيانهم ، وتختلف التفسيرات: ففي الكنيسة يقال إن سبب الإثارة هو سيطرة روح القدس على الشخص ، بينما في الزار يقال إن الجني سيطر عليه .
Dalam kedua kasus tersebut, terdapat stimulus sensorik yang mempengaruhi orang-orang tertentu secara spesifik. Namun penafsirannya berbeda: di Gereja dikatakan bahwa penyebab rangsangan tersebut adalah kendali Roh Kudus (ruuhul qudus) atas orang tersebut, sedangkan dalam ritual pemujaan roh dikatakan bahwa jin (al jinn) telah mengendalikannya.
وأما عن الزار كطقوس وممارسات فتقول دائرة المعارف الإسلامية : إن كلمة زار مشتقة من جار DJAR كبير آلهة الكوشيين الذي يتغير اسمه لدى بعض الطوائف إلى يارو YARO أو دارو DARO، وظهر منه في إطار المسيحية الحبشية اسم روح شريرة هو زار ZAR الذي استعـاره المسيحيون الأحباش من بعض القبائل الوثنية .
Adapun mengenai ritual pemujaan roh sebagai tradisi dan praktik, Ensiklopedia Islam (Daa-iratul Ma‘aarif al Islaamiyyah) menyebutkan: bahwa kata Zaar diturunkan dari kata Jar (DJAR), yaitu dewa terbesar bangsa Kush yang namanya berubah di beberapa sekte menjadi Yaro (YARO) atau Daro (DARO). Dalam kerangka Kristen Abisinia (Habsyah), muncul darinya nama roh jahat yaitu Zar (ZAR) yang dipinjam oleh penganut Kristen Habsyah dari beberapa suku pagan.
وينقسم الأسياد في الزار إلى مجموعات مختلفة منها :
المجموعة الإقليمية : وتضم الأرواح السودانية والحبشية ، والصعيدية ، والعربية والمغربية والجبلاوي .
المجموعة القبطية : وتضم علياً ، والحسين ، وفاطمة ، ونفيسة ، وسكينة ، وأبا بكر – رضي الله عنهم – كما تضم مشاهير الأولياء كالبدوي ، والدسوقي ، والرفاعي ، والبيومي ، والقطب المتولي ، وأبي العـلا ، والشافعي، والليث .
Para “Tuan” (al aasiyaad) dalam ritual pemujaan roh ini terbagi menjadi berbagai kelompok, di antaranya: Kelompok Regional yang mencakup roh-roh Sudan, Habsyah, Sa’idi, Arab, Maroko, dan Jablawi. Kelompok Koptik yang mencatut nama ‘Aliy, al Husayn, Faathimah, Nafiisah, Sakiinah, dan Abu Bakr—radhiyallaahu ‘anhum—serta mencakup para wali (al awliyaa’) masyhur seperti al Badawiy, ad Dasuuqiy, ar Rifaa‘iy, al Bayuuniy, al Quthb al Mutawalliy, Abul ‘Alaa, asy Syaafi‘iy, dan al Layts.
الطوائف المهنية : ومنهم الياوري بك ، وسلطان اللواء ، والعسكري ، والضابط ، والحكيمباشا .
ومجموعة مستقلة : لا تندرج تحت التقسيمات السـابقة ، ومنها سلطان روم نجدي ، وسلطـان رينا ، والولاّج ، وسلطان مامة .
Kelompok Profesi: di antaranya al Yaawuriy Bey, Sultan al Liwaa’, militer, perwira, dan Hakiimbasya. Dan kelompok independen yang tidak termasuk dalam klasifikasi sebelumnya, di antaranya Sultan Rum Najdiy, Sultan Rina, al Wallaaj, dan Sultan Mamah.
ولكل سيد من الأسياد جنس وجنسية وأغانٍ ملائمة وملابس خاصة تلبس له عند اللزوم ، فإذا كان عربياً لبست المرأة في الزار لبساً عربياً ، ورقصت رقصـة عربية ، وغنت لها جوقة الزار غناءً بلهجة عربية ، وإذا حضر الشيخ – الجني – على لسـان الست تكلم بلهجة عربية ، ونظر ذلك إذا كان مغربياً أو سودانياً أو حبشياً .
Setiap “Tuan” dari para pemimpin roh tersebut memiliki jenis kelamin, kebangsaan, lagu-lagu yang sesuai, dan pakaian khusus yang dikenakan untuknya saat dibutuhkan. Jika roh tersebut dianggap berbangsa Arab, maka wanita dalam ritual pemujaan roh itu mengenakan pakaian Arab, menari tarian Arab, dan paduan suara az Zaar menyanyikan lagu dengan dialek Arab. Jika sang “Syeikh” (asy syaykh)—yakni jin tersebut—hadir melalui lisan sang wanita, ia akan berbicara dengan dialek Arab; demikian pula jika roh tersebut berbangsa Maroko, Sudan, atau Habsyah.
وتسمى شيخة الزار ” الكدية ” – وكلمة كدية عربية فصيحة معناها التسول ، وأهل الكدية طائفة كانوا يستجدون ويحتالون في ذلك ، وعندهم دهاء في ابتزاز الأموال .
Pemimpin wanita dalam ritual ini disebut al Kudyah. Kata Kudyah adalah kata bahasa Arab fasih yang berarti pengemisan (at tasawwul), dan Ahlul Kudyah adalah kelompok orang yang mengemis dan melakukan tipu daya dalam hal itu, serta memiliki kelicikan dalam memeras harta.
ومثلهم موجود في الآداب الأوروبية ( SAVAGE ) ولا يبـعد أن يكون فريق منهم امتهن إقامة حفلات الزار منذ أمدٍ بعيد فصارت رئيسة الزار تسمى الكدية .
Padanan mereka terdapat dalam literatur Eropa (SAVAGE), dan tidak menutup kemungkinan bahwa sekelompok dari mereka telah menjadikan penyelenggaraan pesta-pesta pemujaan roh ini sebagai profesi sejak lama, sehingga pemimpin az Zaar disebut al Kudyah.
تقوم الكدية بوضع كرسي في وسط المجلس ، تجلس عليه صاحبة المنزل التي نصب لها الزار ، وتحضر فرختين وديكاً ، وتربط أرجلها ، ثم تضع الديك على رأسـها ، والفرختين على أكتافها ، ثم تتلو نصوصاً معهودة ، وتنشد أناشيد بينما الحاضرات يقلن : دستور يا سيـادي ، مدد يا أهل الله يا سيادي .
Al Kudyah meletakkan sebuah kursi di tengah majelis (al majlis), di mana pemilik rumah yang menyelenggarakan ritual pemujaan roh tersebut duduk di atasnya. Ia membawa dua ekor ayam betina dan seekor ayam jantan, mengikat kaki-kakinya, lalu meletakkan ayam jantan di atas kepala wanita itu dan dua ayam betina di atas bahunya. Kemudian ia membacakan mantra-mantra yang biasa digunakan dan melantunkan nyanyian, sementara para hadirin berkata: “Permisi wahai tuanku (dustuur yaa siyaadii)”, “Berilah bantuan wahai ahli Allah wahai tuanku (madad yaa ahlallaah yaa siyaadii)”.
وتوقع الكدية ومن معها على الدفوف بنغمات مختلفة متسارعة . ولقد أشار بعض الدارسين إلى ارتباط طقوس الزار بالألوان ، خاصة في الملابس التي تختلف باختلاف ملوك الجان الذين يراد استرضاؤهم .
Al Kudyah dan orang-orang bersamanya menabuh rebana (ad dufuuf) dengan irama berbeda yang makin cepat. Beberapa peneliti menunjukkan adanya kaitan antara ritual pemujaan roh dengan warna-warna (al alwaan), terutama pada pakaian yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan para raja jin (muluukul jaan) yang ingin ditenangkan.
كما أشاروا إلى أن الاعتقـاد بالألوان مرتبط بالاعتقـادات الشعبـية في الكواكب وتأثيرها على حيـاة الإنسان وطبائعه ، مثل الاعتقاد في المريخ وأن ألوانه في الثياب هي الأحمر والأصفر ، أما الزهرة فألوانه التي تكون في الثياب هي الأخضر والأبيض ، ويمتد هذا الاعتقاد فيشمل الأيام الخاصة بهذه الكواكب مما يمكن رده إلى العبادات البابلية والكلدانية القديمة.
Mereka juga menunjukkan bahwa kepercayaan pada warna berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap planet-planet dan pengaruhnya pada kehidupan serta watak manusia. Misalnya kepercayaan pada Mars (al Mariiikh) bahwa warna pakaiannya adalah merah dan kuning, sedangkan Venus (az Zuhrah) warna pakaiannya adalah hijau dan putih. Kepercayaan ini meluas hingga mencakup hari-hari khusus bagi planet-planet tersebut, yang dapat dirujuk kembali pada penyembahan kuno bangsa Babilonia dan Kasdim.
فيوم الثلاثاء هو يوم المريخ بينما يوم الجمعة هو يوم الزهرة، وكلمة FRIDAY في الإنجليزية جاءت عن طريق الشعوب الشمالية وتعني يوم الإلهة FRIG زوجة أدون كبير آلهة الإغريق والسبت يوم زحل SATURDAY والأحد يوم الشمس SUNDAY والاثنين يوم القمر MONDAY .. الخ.
Maka hari Selasa adalah hari Mars, sedangkan hari Jumat adalah hari Venus. Kata FRIDAY dalam bahasa Inggris berasal melalui bangsa Utara yang berarti hari dewi FRIG (istri Odin, dewa terbesar bangsa Nordik/Yunani). Sabtu adalah hari Saturnus (SATURDAY), Ahad adalah hari Matahari (SUNDAY), dan Senin adalah hari Bulan (MONDAY), dan seterusnya.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply