Air yang Berubah Hukumnya Sesuai dengan Perkara yang Mengubahnya



الماء المتغير حكمه حكم ما تغير به

Air yang Berubah Hukumnya Sesuai dengan Perkara yang Mengubahnya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Air yang Berubah Hukumnya Sesuai dengan Perkara yang Mengubahnya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

هل الماء المتغير وغير المتنجس يصح منه الوضوء وهل الأوصاف الثلاثة خاصة بالماء المتنجس أم بكل أنواع المياه علما بأنني فهمت من حديث بئر بضاعة أنه يقصد به الماء المتغير بنجاسة

Apakah air yang berubah (sifatnya) namun tidak terkena najis sah digunakan untuk wudhu? Dan apakah tiga sifat (air) itu khusus untuk air yang terkena najis atau untuk semua jenis air? Perlu diketahui bahwa saya memahami dari hadits Sumur Budha’ah bahwasanya yang dimaksud dengannya adalah air yang berubah karena najis.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله والصلاة على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

وأما الماء المتغير فحكمه ما يلي: إذا تغير أحد أوصافه الثلاثة، لونه أو طعمه أو ريحه تغيرا بينا بشيء طاهر لا يلازمه، مثل: اللبن أو العسل أو الزيت فإنه، لا يرفع الحدث ولا حكم الخبث، فلا يصلح لوضوء ولا لغسل تعبدي، ولكنه ينتفع به في الأمور العادية، كالشرب والطبخ والتنظيف.

Adapun air yang berubah (sifatnya), maka hukumnya adalah sebagai berikut: Jika salah satu dari tiga sifatnya berubah, yaitu warna, rasa, atau aromanya dengan perubahan yang jelas disebabkan oleh sesuatu yang suci yang tidak melekat padanya, seperti: susu, madu, atau minyak, maka sesungguhnya air tersebut tidak dapat menghilangkan hadats dan tidak pula hukum najis (khabats). Oleh karena itu, ia tidak sah digunakan untuk wudhu dan tidak pula untuk mandi ritual (ghusl ta‘abbudi), akan tetapi ia dapat dimanfaatkan untuk perkara sehari-hari, seperti minum, memasak, dan membersihkan diri.

وأما إذا تغير أحد أوصافه الثلاثة بنجس، فإنه لا يصلح لشيء، لا في التطهر للعبادة، ولا في الاستعمالات الأخرى العادية.

Adapun jika salah satu dari tiga sifatnya berubah disebabkan oleh najis, maka sesungguhnya air tersebut tidak dapat digunakan untuk apa pun, tidak dalam bersuci (at-thaharah) untuk ibadah, dan tidak pula dalam penggunaan sehari-hari lainnya.

وباختصار فالماء المتغير حكمه حكم ما تغير به.

Dan secara ringkas, air yang berubah hukumnya adalah sesuai dengan hukum perkara yang mengubahnya.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.