النيابة في العبادات.. الجائز والممنوع
Perwakilan dalam Ibadah Antara Perkara yang Diperbolehkan dan Dilarang
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Perwakilan dalam Ibadah Antara Perkara yang Diperbolehkan dan Dilarang ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
ما هي العبادات التي يجوز أن نوكل عليها، والعبادات التي لا يجوز فيها ذلك؟
Apa saja ‘ibadah yang diperbolehkan bagi kita untuk mewakilkannya, dan ‘ibadah apa saja yang tidak diperbolehkan padanya hal tersebut?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فقد قسم أهل العلم العبادات إلى ثلاثة أقسام:
Sungguh para ahli ilmu telah membagi ‘ibadah menjadi tiga bagian:
1- قسم متفق على صحة النيابة فيه حيث لم يتوقف نفعه على فعل صاحبه مباشرة؛ كرد الشيء المغصوب لمالكه، ودفع النفقات للزوجات والأقارب ونحوهما.
1- Bagian yang disepakati keabsahan perwakilan (an-niyabah) di dalamnya, sekiranya manfaatnya tidak bergantung pada perbuatan pelakunya secara langsung; seperti mengembalikan barang yang dighashab kepada pemiliknya, dan membayarkan nafkah kepada para istri, kerabat, serta yang semisalnya.
2- قسم متفق على عدم إجزاء النيابة به فلا يجزئ من غير المأمور به؛ كالإيمان بالله تعالى مثلاً.
2- Bagian yang disepakati ketidakabsahan perwakilan di dalamnya, sehingga tidak mencukupi jika dilakukan oleh selain orang yang diperintahkan; seperti iman kepada Allah Ta‘ala misalnya.
3- قسم محل خلاف هل تجزئ فيه النيابة أم لا؟ ويشمل هذا القسم أربع مسائل:
– الزكاة إذا أخرجها أحد بغير علم من وجبت عليه أو بغير إذنه.
– الحج عن الغير.
– الصوم عن الميت المفرط في القضاء.
– عتق الإنسان عن غيره.
3- Bagian yang menjadi tempat perselisihan, apakah perwakilan di dalamnya sah mencukupi atau tidak? Bagian ini mencakup empat masalah:
– Zakat apabila dikeluarkan oleh seseorang tanpa sepengetahuan orang yang wajib menunaikannya atau tanpa izinnya.
– Haji atas nama orang lain.
– Puasa atas nama mayit yang melalaikan qadha-nya.
– Pembebasan budak (‘itq) oleh seseorang atas nama orang lain.
وقد فصل هذه المسائل الإمام القرافي في كتابه الفروق حيث قال: اعلم أن الأفعال المأمور بها ثلاثة أقسام (قسم) اتفق الناس على صحة فعل غير المأمور به عن المأمور وذلك كدفع المغصوب للمغصوب منه وإن لم يشعر الغاصب فإن ذلك يسد المسد ويزيل التكليف، ودفع النفقات للزوجات والأقارب والدواب فإن دفعها غير من وجب عليه لمن وجبت له أجزأت وإن لم يشعر المأمور بها من زوج أو قريب، وكذلك دفع اللقطة لمستحقها وإن لم يشعر ملتقطها وهذا النحو.
Dan sungguh Imam Al-Qarafi telah memperinci masalah-masalah ini di dalam kitabnya Al-Furuq, di mana beliau berkata: “Ketahuilah bahwasanya perbuatan-perbuatan yang diperintahkan itu ada tiga bagian. (Bagian pertama) manusia telah sepakat atas keabsahan perbuatan yang dilakukan oleh selain orang yang diperintahkan atas nama orang yang diperintahkan. Hal itu seperti menyerahkan barang yang dighashab kepada orang yang dighashab darinya, meskipun orang yang mendoza tidak menyadarinya, karena hal tersebut telah memenuhi kedudukannya dan menghilangkan beban taklif. Demikian pula memberikan nafkah kepada para istri, kerabat, dan hewan ternak, karena jika ia dibayarkan oleh selain orang yang wajib menunaikannya kepada orang yang berhak menerimanya, maka hal itu sah mencukupi meskipun orang yang diperintahkan —baik suami maupun kerabat— tidak menyadarinya. Begitu pula menyerahkan barang temuan (al-luqathah) kepada orang yang berhak menerimanya, meskipun orang yang menemukannya tidak menyadarinya, dan yang seumpama ini.”
(وقسم) اتفق الناس على عدم إجزاء فعل غير المأمور به فيه وهو الإيمان والتوحيد والإجلال والتعظيم لله سبحانه وتعالى، وكذلك حكي في الصلاة الإجماع، ونقل الخلاف في مذهب الشافعي في الصلاة عن الشيخ أبي إسحاق ويقال إنه مسبوق بالإجماع.
“(Bagian kedua) manusia telah sepakat atas ketidakabsahan perbuatan selain orang yang diperintahkan di dalamnya, yaitu iman, tauhid, pengagungan (al-ijlal), dan pemuliaan (at-ta‘zhim) kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Demikian pula dinukilkan adanya ijma‘ dalam masalah sholat, dan dinukilkan adanya perselisihan dalam Mazhab Asy-Syafi‘i mengenai sholat dari Syaikh Abu Ishaq, namun dikatakan bahwa pendapat tersebut didahului oleh ijma‘.”
(وقسم) مختلف فيه هل يجزئ فعل غير المأمور عن المأمور به ويسد المسد أم لا؟ وفيه أربع مسائل:
“(Bagian ketiga) yang diperselisihkan di dalamnya, apakah perbuatan selain orang yang diperintahkan mencukupi atas nama orang yang diperintahkan serta memenuhi kedudukannya atau tidak? Di dalamnya terdapat empat masalah:”
(المسألة الأولى) الزكاة إن أخرجها أحد بغير علم من هي عليه أو غير إذنه في ذلك، فإن كان غير الإمام فمقتضى قول أصحابنا في الأضحية يذبحها غير ربها بغير علمه وإذنه إن كان الفاعل لذلك صديقه ومن شأنه أن يفعل ذلك بغير إذنه، لأنه بمنزلة نفسه عنده لتمكن الصداقة بينهما أجزأته الأضحية إن كان مخرج الزكاة من هذا القبيل، فمقتضى قولهم في الأضحية أن الزكاة تجزئه، لأن كليهما عبادة مأمور بها مفتقرة للنية، وإن كان ليس من هذا القبيل لا تجزئ عن ربها لافتقارها للنية على الصحيح من المذهب لأجل شائبة العبادة، وعلى القول بعدم اشتراط النية فيها ينبغي أن يجزئ فعل الغير فيها مطلقاً كالدين والوديعة ونحوهما مما تقدم في القسم المجمع عليه، وهذا القول -أعني عدم اشتراط النية- قاله بعض أصحابنا وقاسها على الديون واستدل بأخذ الإمام لها كرهاً على عدم اشتراط النية، وباشتراطها قال مالك والشافعي وأبو حنيفة وأحمد بن حنبل رضي الله عنهم لما فيها من شائبة التعبد من جهة مقادير في نصبها والواجب فيها وغير ذلك وإن أخذها الإمام كرهاً، وهو عدل أجزأت عند مالك وعند الشافعي رحمهما الله تعالى اعتماداً على فعل الصديق رضي الله عنه، ولظاهر القرآن وهو قوله تعالى:
“(Masalah pertama) Zakat, jika dikeluarkan oleh seseorang tanpa sepengetahuan orang yang wajib menunaikannya atau tanpa izinnya dalam hal tersebut. Jika pelakunya bukan imam, maka konsekuensi dari perkataan para sahabat kami mengenai hewan kurban (al-udhhiyah) yang disembelih oleh selain pemiliknya tanpa sepengetahuan dan izinnya adalah: jika pelaku hal tersebut adalah temannya dan sudah menjadi kebiasaannya untuk melakukan hal itu tanpa izinnya —karena ia berkedudukan seperti dirinya sendiri di sisinya lantaran kuatnya jalinan pertemanan di antara keduanya— maka kurban tersebut sah mencukupi baginya. Jika orang yang mengeluarkan zakat termasuk dalam kategori ini, maka konsekuensi perkataan mereka dalam masalah kurban adalah bahwasanya zakat tersebut sah mencukupi baginya, karena kedua-duanya merupakan ‘ibadah yang diperintahkan yang membutuhkan niat. Namun jika ia bukan termasuk dalam kategori ini, maka tidak sah mencukupi bagi pemiliknya karena ia membutuhkan niat menurut pendapat yang sahih dalam mazhab lantaran adanya unsur ‘ibadah. Dan berdasarkan pendapat yang menyatakan tidak disyaratkannya niat di dalamnya, seyogyanya perbuatan orang lain di dalamnya sah secara mutlak seperti utang, titipan (al-wadi‘ah), dan yang semisalnya dari apa yang telah berlalu pada bagian yang disepakati. Pendapat ini —maksud saya tidak disyaratkannya niat— dikatakan oleh sebagian sahabat kami, dan mereka meng-qiyas-kannya pada utang-utang serta berdalil dengan tindakan imam yang mengambilnya secara paksa atas tidak disyaratkannya niat. Sedangkan mengenai disyaratkannya niat, hal ini dikatakan oleh Malik, Asy-Syafi‘i, Abu Hanifah, dan Ahmad bin Hanbal radhiallahu ‘anhum, karena di dalamnya terdapat unsur ibadah ritual (at-ta‘abbud) dari sisi kadar nisabnya (al-nushub), kewajiban di dalamnya, dan selain itu. Dan jika imam mengambilnya secara paksa, sedangkan ia adalah imam yang adil, maka hal itu sah mencukupi menurut Malik dan menurut Asy-Syafi‘i rahimahumallahu ta‘ala dengan bersandar pada perbuatan Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, dan berdasarkan makna lahiriah Al-Quran yaitu firman Allah Ta‘ala:”
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا [التوبة: ١٠٣]
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” [At-Taubah: 103]
وظاهر الأمر الوجوب الذي أقل مراتبه الإذن والإجزاء، لأن الإمام وكيل الفقراء فله أخذ حقهم قهراً كسائر الحقوق، وقال أبو حنيفة: لا يأخذها الإمام كرهاً، لكن يلجئه إلى دفعها بالحبس وغيره لافتقارها للنية، والإكراه مع النية متنافيان.
“Dan makna lahiriah dari perintah menunjukkan kewajiban, yang mana derajat paling rendah darinya adalah adanya izin dan keabsahan mencukupi, karena imam adalah wakil dari kaum fakir, maka ia berhak mengambil hak mereka secara paksa seperti hak-hak lainnya. Abu Hanifah berkata: Imam tidak boleh mengambilnya secara paksa, akan tetapi ia memaksanya untuk membayarkannya dengan hukuman penjara dan selainnya karena ia membutuhkan niat, sedangkan pemaksaan dengan niat adalah dua hal yang saling bertolak belakang.”
(المسألة الثانية) الحج عن الغير.. منعه مالك وجوزه الشافعي رضي الله عنهما بناء على شائبة المال، والعبادات المالية يدخلها النيابات، ومالك يلاحظ أن المال فيه عارض بدليل المكي يحج بغير مال، بل عروض المال في الحج كعروض المال في صلاة الجمعة لمن داره بعيدة عن المسجد فيكتري دابة يصل عليها للمسجد، ولما لم تجز صلاة الجمعة عن الغير فكذلك الحج، وللشافعي الفرق بأن عروض المال في الحج أكثر، ولما ورد في الأحاديث من الحج عن الصبيان والمرضى يُحرِم عنهم غيرهم ويفعل أفعال الحج والعبادات أمر متبع.
“(Masalah kedua) Haji atas nama orang lain… Malik melarangnya dan Asy-Syafi‘i radhiallahu ‘anhuma memperbolehkannya berdasarkan adanya unsur harta, sedangkan ‘ibadah maliyah dapat dimasuki oleh perwakilan. Malik memperhatikan bahwasanya harta di dalamnya bersifat kondisional, dengan dalil penduduk Makkah berhaji tanpa harta. Bahkan, keberadaan harta dalam haji seperti keberadaan harta dalam sholat Jumat bagi orang yang rumahnya jauh dari masjid, lalu ia menyewa kendaraan agar bisa sampai ke masjid. Dan tatkala sholat Jumat tidak sah digantikan oleh orang lain, maka demikian pula dengan haji. Sedangkan Asy-Syafi‘i memiliki perbedaan pandangan bahwasanya keberadaan harta dalam haji itu lebih banyak, dan dikarenakan apa yang tercantum dalam hadits-hadits tentang berhaji atas nama anak-anak dan orang sakit, di mana orang lain melakukan ihram atas nama mereka dan melakukan perbuatan-perbuatan haji, sedangkan ‘ibadah adalah perkara yang harus diikuti.”
(المسألة الثالثة) الصوم عن الميت إذا فرط فيه.. جوزه أحمد بن حنبل وروى الشافعية ذلك أيضاً في مذهبهم لقوله عليه الصلاة والسلام:
“(Masalah ketiga) Puasa atas nama mayit jika ia melalaikannya… Ahmad bin Hanbal memperbolehkannya, dan ulama Syafi’iyah juga meriwayatkan hal itu dalam mazhab mereka karena sabda Nabi ‘alaihi ash-shalatu was salam:”
مَنْ لَمْ يَصُمْ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
“Barangsiapa yang tidak berpuasa, maka walinya berpuasa atas namanya.” (Hadits Nabi)
ولم يجوزه مالك رحمه الله تعالى، لقوله تعالى:
Dan Malik rahimahullahu ta‘ala tidak memperbolehkannya berdasarkan firman Allah Ta‘ala:
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ [النجم: ٣٩]
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” [An-Najm: 39]
وقياساً على الصلاة ومن هذا الباب الحج عن الميت أيضاً.
Dan sebagai qiyas atas sholat, dan termasuk dalam bab ini adalah haji atas nama mayit juga.
(المسألة الرابعة) عتق الإنسان عن غيره.. قال مالك في المدونة: من أعتق عبده عن ظهار غيره على جعل جعله له فالولاء للمعتق عنه وعليه الجعل ولا يجزئه كالمشتري بشرط العتق، قال ابن القصار: وإذا لم يكن في الجعل وضيعة عن الثمن جاز، لأنه إذا جاز هبته فبيعه أولى، وقال صاحب الجواهر: في العتق عن الغير ثلاثة أقوال؛ الإجزاء وهو المشهور قاله ابن القاسم ولأشهب عدم الإجزاء، وقال عبد الملك: إن أذن في العتق أجزأ عنه وإلا فلا، وقاله الشافعي رضي الله عنه. قال اللخمي: يجزئ العتق عن ظهار الغير عند ابن القاسم وإن كان أبا للمعتق، وفرق بعض الأصحاب بين عتق الإنسان عن غيره وبين دفع الزكاة عنه فلا يجزئ في الثاني، لأنها ليست في الذمة والكفارة في الذمة. قال اللخمي: والحق الإجزاء فيهما، لأنهما كالدين. انتهى.
“(Masalah keempat) Pembebasan budak oleh seseorang atas nama orang lain… Malik berkata dalam Al-Mudawwanah: Barangsiapa membebaskan budaknya atas nama zhihar orang lain dengan imbalan (ju‘l) yang ditetapkan untuknya, maka hak kesetiaan (al-wala’) adalah bagi orang yang dibebaskan atas namanya, dan ia wajib membayar imbalan tersebut, namun hal itu tidak sah mencukupi baginya, seperti halnya pembeli dengan syarat pembebasan. Ibnu al-Qashshar berkata: Jika di dalam imbalan tersebut tidak ada kerugian dari harga, maka hal itu diperbolehkan, karena jika hibahnya saja diperbolehkan maka menjualnya tentu lebih utama. Penulis kitab Al-Jawahir berkata: Dalam hal membebaskan budak atas nama orang lain terdapat tiga pendapat; keabsahan mencukupi dan ini adalah pendapat yang masyhur yang dikatakan oleh Ibnu al-Qasim; menurut Asyhab tidak sah mencukupi; dan Abdul Malik berkata: Jika ia mengizinkan dalam pembebasan budak tersebut maka sah mencukupi baginya, jika tidak maka tidak sah, dan ini dikatakan oleh Asy-Syafi‘i radhiallahu ‘anhu. Al-Lakhmi berkata: Pembebasan budak sah mencukupi dari zhihar orang lain menurut Ibnu al-Qasim meskipun ia adalah ayah dari orang yang membebaskan. Dan sebagian sahabat kami membedakan antara pembebasan budak oleh seseorang atas nama orang lain dengan pembayaran zakat atas namanya, di mana tidak sah pada perkara kedua, karena zakat tidak berada di dalam tanggungan (adz-dzimmah) sedangkan kafarat (al-kaffarah) berada di dalam tanggungan. Al-Lakhmi berkata: Dan yang benar adalah sah mencukupi pada kedua-duanya, karena keduanya seperti utang. Selesai kutipan.”
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply