السرايا قبل بدر
Ekspedisi Militer Sebelum Perang Badar (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Ekspedisi Militer Sebelum Perang Badar (Bagian Pertama) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
بعد نزول قوله تعالى :
Setelah turunnya firman Allah Ta‘aala:
{أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا وإن الله على نصرهم لقدير} [الحج: 39]
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” [Al-Hajj: 39]
ثم نزول الإذن بالقتال، أخذ رسول صلى الله عليه وسلم وأصحابه في إعداد العدة وتجهيز القوة لمواجهة الكفر وأهله، وأراد المسلمون توجيه رسالة قوية إلى قريش من خلال حصارها سياسياً واقتصادياً، وأرادوا كذلك إشعار يهود المدينة ومنافقيها والأعراب بأن المسلمين أقوياء، وأن فترة الاستضعاف السابقة قد أدبرت.
Kemudian turunnya izin untuk berperang, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya mulai mempersiapkan bekal dan kekuatan untuk menghadapi kekufuran dan para pengikutnya. Kaum Muslimin ingin mengirimkan pesan yang kuat kepada kaum Quraisy melalui pemboikotan politik dan ekonomi. Mereka juga ingin menyadarkan kaum Yahudi Madinah, orang-orang munafik, dan Arab Badui bahwa kaum Muslimin kini telah kuat, dan masa-masa penindasan sebelumnya telah berlalu.
سرية سيف البحر
Ekspedisi Sayful Bahr (Sariyyah Sayfil Bahr)
في شهر رمضان من السنة الأولى للهجرة، وبقيادة حمزة بن عبد المطلب رضي الله عنه، خرجت سرية سيف البحر، وكانت في ثلاثين رجلاً من المهاجرين، كان ذلك أول لواء عقده رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكان الهدف الأساسي من هذه السرية اعتراض عيرٍ لقريش جاءت من الشام، فيها أبو جهل بن هشام ومعه ثلاثمائة راكب من قريش، فالتقى المسلمون والمشركون عند سيف البحر من ناحية العيص – موضع على ساحل البحر الأحمر بطريق قريش إلى الشام -، واصطفوا للقتال لولا تدخل مُجدي بن عمرو الجهني ، وحيلولته دون ذلك، حيث إنه كان حليفاً للفريقين، فانفض الفريقان دون لقاء.
Pada bulan Ramadhan tahun pertama Hijriah, di bawah pimpinan Hamzah bin ‘Abdul Muththolib radhiyallaahu ‘anhu, berangkatlah ekspedisi Sayful Bahr (Sariyyah Sayfil Bahr). Ekspedisi ini terdiri dari tiga puluh orang dari kalangan Muhajirin (al Muhaajiriin), dan itu merupakan panji pertama yang dipasang oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tujuan utama dari ekspedisi ini adalah menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam, yang di dalamnya terdapat Abu Jahal bin Hisyam bersama tiga ratus pengendara dari Quraisy. Kaum Muslimin dan kaum musyrik (al musyrikiin) bertemu di Sayful Bahr dari arah al-‘Aish—sebuah tempat di pesisir Laut Merah yang menjadi jalur Quraisy menuju Syam—. Mereka telah berbaris untuk berperang sekiranya tidak ada intervensi dari Majdiy bin ‘Amr al-Juhaniy yang menghalangi hal itu, karena ia merupakan sekutu bagi kedua belah pihak, sehingga kedua kelompok bubar tanpa terjadi pertempuran.
وعاد المسلمون بعد ذلك إلى المدينة دون خسائر، ولكنهم كسبوا المهارة, والدربة لسرايا وغزوات أخرى قادمة.
Setelah itu, kaum Muslimin kembali ke Madinah tanpa kerugian apa pun, akan tetapi mereka memperoleh keterampilan dan pelatihan untuk ekspedisi (saraayaa) dan peperangan (ghazawaat) lain yang akan datang.
ويؤخذ من هذه السرية أن الموقف بين النبي صلى الله عليه وسلم وبين مشركي قريش انتقل إلى الجانب العسكري، بعد أن كان دعويا يتخذ من العرض السلمي أسلوبا له، كما يؤخذ من هذه السرية أن مقابلة فئة قليلة لعدد كثير يفوق وهو ما حصل في تلك السرية، ينُبئ عن شجاعة نابعة من إيمان قوي، وعقيدة راسخة، وحب للقاء الله عز وجل.
Pelajaran yang dapat diambil dari ekspedisi ini adalah bahwa situasi antara Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam and kaum musyrik Quraisy telah berpindah ke ranah militer, setelah sebelumnya bersifat dakwah yang menggunakan metode penyampaian damai. Pelajaran lainnya adalah bahwa bertemunya kelompok kecil dengan jumlah musuh yang jauh lebih banyak—sebagaimana yang terjadi dalam ekspedisi ini—menunjukkan keberanian yang bersumber dari iman yang kuat, akidah (‘aqiidah) yang kokoh, serta kecintaan untuk bertemu Allah ‘Azza wa Jalla.
سرية رابغ
Ekspedisi Rabigh (Sariyyah Raabigh)
وكانت في شوال من السنة الأولى للهجرة، بقيادة عبيدة بن الحارث بن المطلب ، وكان عدد المسلمين فيها نحو ستين رجلاً من المهاجرين ليس فيهم أنصاري، فالتقوا بأبي سفيان على بطن رابغ، وكان معه من الأعداء مائتي راكب وراجل، ، وترامى الفريقان بالنبل، وكان سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه أول من رمى بسهمٍ في سبيل الله، وانفضّ الفريقان بعد ذلك من غير قتال.
Ekspedisi ini terjadi pada bulan Syawal tahun pertama Hijriah, di bawah pimpinan ‘Ubaydah bin al Haarits bin al Muththolib. Jumlah kaum Muslimin di dalamnya sekitar enam puluh orang dari kalangan Muhajirin, tanpa ada seorang pun dari kalangan Anshar (al Anshaar). Mereka bertemu dengan Abu Sufyan di lembah Rabigh, di mana musuh membawa dua ratus pasukan berkuda dan pejalan kaki. Kedua belah pihak saling melepaskan anak panah, dan Sa‘d bin Abi Waqqaash radhiyallaahu ‘anhu menjadi orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah (fii sabiilillaah). Setelah itu, kedua belah pihak bubar tanpa pertempuran.
فكانت أول مواجهة عسكرية يلتقي فيها المسلمون لأعداء الله، ثم انسحب المؤمنون انسحابا قويا ومنظما كان له الأثر البالغ على المشركين.
Peristiwa ini merupakan konfrontasi militer pertama di mana kaum Muslimin bertemu dengan musuh-musuh Allah. Kemudian orang-orang mukmin (al mu’minuun) melakukan penarikan mundur yang kuat dan terorganisasi, yang memberikan dampak mendalam bagi kaum musyrik.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply