Hukum Mandi Menggunakan Air yang Berubah Disebabkan Sabun



حكم الاغتسال بالماء المتغير بالصابون

Hukum Mandi Menggunakan Air yang Berubah Disebabkan Sabun

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Mandi Menggunakan Air yang Berubah Disebabkan Sabun ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

السلام عليكم.. الاغتسال بالماء فقط ، ولكن إذا تم بالماء والصابون، هل يبطل؟ حتى ولو تم تطبيق سننه؟

Assalamu ‘alaikum. Mandi wajib (al-ightisal) itu semestinya hanya dengan air saja, akan tetapi jika mandi tersebut dilakukan dengan air dan sabun, apakah menjadi batal (tidak sah)? Walaupun sunnah-sunnah mandi tersebut tetap diterapkan?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فقد اختلف العلماء في الطهارة بالماء المتغير بطاهر كالصابون ونحوه على قولين:
الأول: أنه لا يجوز التطهر به؛ لأن هذا ليس بماء مطلق، وبهذا قال مالك والشافعي وهو رواية عن أحمد.

Sungguh para ulama telah berselisih pendapat mengenai bersuci menggunakan air yang berubah disebabkan oleh zat yang suci seperti sabun dan semisalnya, menjadi dua pendapat:
Pertama: Bahwasanya tidak diperbolehkan bersuci dengannya, karena air seperti ini tidak lagi berstatus sebagai air mutlak (ma’ muthlaq). Pendapat ini dinyatakan oleh Malik dan Asy-Syafi‘i, serta merupakan salah satu riwayat dari Ahmad.

والثاني: يجوز الطهارة به، إذ لا فرق بين المتغير بأصل الخلقة وغيره ما دام يسمى ماء ولم يغلب عليه غيره، وإلى هذا ذهب أبو حنيفة وأحمد في الرواية الأخرى عنه.

Pendapat kedua: Diperolehkan bersuci dengannya, karena tidak ada perbedaan antara air yang berubah berdasarkan asal penciptaannya dengan air yang berubah karena faktor luar, selama ia masih dinamakan sebagai ‘air’ dan dzat lain tersebut tidak mendominasi atau mengubah identitasnya secara total. Pendapat ini dipilih oleh Abu Hanifah dan Ahmad dalam riwayat lainnya dari beliau.

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية في فتاويه: وهذا القول هو الصواب؛ لأن الله تعالى قال: فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً [النساء:43، والمائدة:6] فيعم كل ما هو ماء لا فرق في ذلك بين نوع ونوع انتهى.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitab fatwanya: “Dan pendapat inilah yang benar (ash-shawab); karena Allah Ta‘ala berfirman: ‘Lalu kamu tidak memperoleh air…’ [An-Nisa: 43, Al-Ma’idah: 6]. Kata ‘air’ di sini bermakna umum untuk segala hal yang dinamakan air, tidak ada perbedaan di dalam hal itu antara satu jenis dengan jenis lainnya.” Selesai kutipan.

ومن هذا يعلم السائل جواز الاغتسال بالماء المخلوط بالصابون، إلا أن الاغتسال بالماء وحده أحوط، وسواء كان ذلك قبل الغسل بالصابون أو بعده.

Dari penjelasan ini, penanya dapat mengetahui kebolehan mandi wajib menggunakan air yang bercampur dengan sabun. Akan tetapi, mandi menggunakan air saja (tanpa campuran di wadah) adalah langkah yang lebih berhati-hati (al-ahwath), baik hal itu dilakukan sebelum membasuh badan dengan sabun ataupun setelahnya.

وأما إذا كان المراد غسل الجسم بالصابون ثم صب الماء عليه بنية التطهر، فالغسل صحيح بلا إشكال، فقد نص الفقهاء على أن تغير الماء بطاهر في محل التطهير ليس مانعا من صحة الطهارة، وانظر في ذلك الفتاوى الأخرى هنا.

Adapun jika yang dimaksud adalah menyabuni tubuh terlebih dahulu kemudian menyiramkan air ke atasnya dengan niat bersuci (mandi wajib), maka mandinya sah tanpa ada kemusykilan (persoalan) sama sekali. Karena para fukaha telah menegaskan bahwasanya perubahan sifat air disebabkan zat suci yang terjadi langsung pada tempat pembersihan (anggota tubuh yang dibasuh) bukanlah penghalang bagi keabsahan bersuci. Silakan merujuk pada fatwa-fatwa lainnya di sini untuk perincian lebih lanjut.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.