Hukum Memanfaatkan Minyak Zaitun yang Kemasukan Ayam Lalu Mati di Dalamnya



حكم الانتفاع بزيت وقعت فيه دجاجة فماتت

Hukum Memanfaatkan Minyak Zaitun yang Kemasukan Ayam Lalu Mati di Dalamnya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Memanfaatkan Minyak Zaitun yang Kemasukan Ayam Lalu Mati di Dalamnya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

ما حكم الشرع في دجاجة وقعت في كمية كبيرة من زيت الزيتون فماتت. هل يجوز أكلها وبيعها?

Apa hukum syariat mengenai seekor ayam yang jatuh ke dalam minyak zaitun dalam jumlah banyak, lalu ayam tersebut mati di dalamnya. Apakah diperbolehkan untuk memakan serta menjualnya?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فأما الدجاجة فإنها ميتة ولا يجوز أكلها، وأما الزيت فإن كان مائعا غير جامد فإنه يتنجس بموت الدجاجة فيه ولا يجوز أكله ولا بيعه.

Adapun mengenai ayam tersebut, maka statusnya adalah bangkai (maitah) dan tidak boleh dimakan. Sedangkan mengenai minyaknya, apabila kondisinya berupa zat cair (ma’i‘an) bukan zat padat/membeku, maka minyak tersebut otomatis menjadi najis disebabkan matinya ayam di dalamnya, sehingga tidak boleh dimakan dan tidak boleh pula dijual.

وإن كان جامدا جاز الانتفاع منه بما لم يماسس جسم الدجاجة، وذلك لما رواه أبوداود وغيره أن النبي صلى الله عليه وسلم لما سئل عن الفأرة تقع في السمن؟ قال:

Namun jika minyak tersebut dalam kondisi padat/membeku (jamidan), maka diperbolehkan mengambil manfaat dari bagian minyak yang tidak bersentuhan langsung dengan tubuh ayam tersebut. Hal itu berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang seekor tikus yang jatuh ke dalam samin (lemak minyak)? Beliau bersabda:

إِنْ كَانَ جَامِدًا فَأَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا، وَإِنْ كَانَ مَائِعًا فَلَا تَقْرَبُوهُ

“Jika samin itu dalam kondisi padat, maka buanglah tikus itu beserta bagian samin di sekelilingnya. Namun jika samin itu dalam kondisi cair, maka janganlah kalian mendekatinya (memanfaatkannya).” (HR. Abu Dawud)

وجاء في منتهى الإرادات وهو حنبلي المذهب: وإن مات حيوان ينجس بموت أو وقع ميتا في دقيق ونحو كسمن جامد ألقي الميت وما حوله من دقيق ونحوه لملاقاته النجس واستعمل الباقي، وإن اختلط النجس بغيره ولم ينضبط حرم الكل تغليبا للحظر وكذا لو كان مائعا للخبر.

Dan disebutkan di dalam kitab Muntaha al-Iradat dari kalangan Mazhab Hambali: “Dan jika seekor hewan yang dihukumi najis karena mati, atau ia jatuh dalam kondisi sudah menjadi bangkai ke dalam tepung atau yang semisalnya seperti samin padat, maka dibuanglah bangkai tersebut beserta apa yang ada di sekelilingnya baik berupa tepung atau semisalnya karena faktor bersentuhan dengan najis, dan sisa bagian lainnya boleh digunakan. Namun, jika najis tersebut bercampur dengan yang lain dan posisinya tidak dapat dilokalisasi (tidak beraturan), maka haram hukumnya menggunakan semuanya demi memenangkan unsur kehati-hatian/larangan (taghliban lil hazhr). Demikian pula hukumnya jika zat tersebut cair berdasarkan dalil hadits.” Selesai kutipan.

وذهب بعض أهل العلم إلى أنه لا يتنجس إلا إذا تغير، وسبق بيان ذلك بالتفصيل وأقوال أهل العلم في الفتاوى الأخرى هنا.

Di sisi lain, sebagian ahli ilmu ada yang berpendapat bahwasanya zat cair tersebut tidaklah menjadi najis kecuali jika terjadi perubahan sifat padanya. Dan penjelasan mengenai hal itu telah dipaparkan sebelumnya secara terperinci beserta perkataan para ulama pada fatwa-fatwa lainnya di sini :

وإذا حكم بنجاسته جاز الانتفاع به في غير الصلاة والأكل والشرب، قال العلامة خليل المالكي في المختصر: وينتفع بمتنجس لا نجس في غير مسجد وآدمي.

Dan apabila minyak tersebut telah dihukumi terkena najis (mutanajjis), maka masih diperbolehkan memanfaatkannya untuk keperluan selain sholat, makan, dan minum. Al-‘Allamah Khalil al-Maliki berkata di dalam kitab Al-Mukhtashar: “Dan diperbolehkan mengambil manfaat dari benda yang terkena najis (mutanajjis) —bukan benda yang zat aslinya najis (najis al-‘ain)— untuk keperluan selain di dalam masjid dan selain yang berkaitan langsung dengan fisik manusia.”

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.