Hukum Membuang Sisa Makanan ke Tempat Sampah



حكم رمي الطعام في القمامة

Hukum Membuang Sisa Makanan ke Tempat Sampah

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Membuang Sisa Makanan ke Tempat Sampah ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

1-ما هو حكم فضلا ت الطعام؟هل يجوز رميها؟

1- Apa hukum sisa-sisa makanan? Apakah diperbolehkan membuangnya?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فما كان من الطعام صالحاً غير تالف فلا يجوز رميه، بل الواجب إعطاؤه للفقراء والمساكين إن وجدوا، أو حفظه لوجبات أخرى، ولا يرمى إلا إذا خشي حصول ضرر باستعماله، أو كانت النفوس تعافه وترغب عنه، فليصرف حينئذ للحيوان الداجن، فإن لم يوجد فنرجو أن لا يكون برميه بأس.

Maka makanan yang kondisinya masih baik dan belum rusak tidak diperbolehkan untuk dibuang. Bahkan, wajib hukumnya untuk memberikannya kepada kaum fakir dan miskin apabila mereka didapatkan, atau menyimpannya untuk hidangan pada waktu makan yang lain. Makanan tersebut tidak boleh dibuang kecuali jika dikhawatirkan timbulnya bahaya (dharar) akibat mengonsumsinya, atau kondisi jiwa manusia memang sudah merasa jijik dan enggan memakannya. Jika demikian, maka sisa makanan tersebut hendaknya dialokasikan untuk hewan ternak piaraan. Namun, jika hewan ternak pun tidak didapatkan, kami berharap tidak mengapa jika makanan tersebut dibuang.

وعلى المسلم أن يحذر من الإسراف، وهو الإنفاق من غير اعتدال، ووضع المال في غير موضعه، كما قال ابن عابدين: إن الإسراف: صرف الشيء فيما ينبغي زائداً على ما ينبغي، والتبذير: صرف الشيء فيما لا ينبغي.

Dan wajib bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari perbuatan boros (al-israf), yaitu membelanjakan sesuatu secara berlebihan tanpa sikap pertengahan, serta meletakkan harta bukan pada tempat yang semestinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abidin: “Sesungguhnya israf adalah membelanjakan sesuatu untuk perkara yang semestinya namun melebihi batas yang semestinya, sedangkan tabdzir adalah membelanjakan sesuatu untuk perkara yang tidak semestinya.”

وعلى المسلم أن يضع بين عينيه -وهو يريد إعداد الطعام- قوله تعالى:

Dan wajib bagi seorang muslim untuk meletakkan di depan kedua matanya —ketika ia hendak menyiapkan makanan— firman Allah Ta‘ala:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا [الفرقان: ٦٧]

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” [Al-Furqan: 67]

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.