Hukum Membuka Keran Air Selama Beberapa Menit Agar Airnya Menjadi Dingin



حكم فتح صنبور المياه لعدة دقائق لتبرد المياه

Hukum Membuka Keran Air Selama Beberapa Menit Agar Airnya Menjadi Dingin

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Membuka Keran Air Selama Beberapa Menit Agar Airnya Menjadi Dingin ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

الحمد لله وبعد.. نحن طلاب في بلاد الغرب..ونواجه مشاكل ومنها:

 

Alhamdulillah, amma ba’du. Kami adalah para mahasiswa yang berada di negeri Barat, dan kami menghadapi beberapa masalah, di antaranya:

أولا: هل يعد من الإسراف في استعمال الماء لو فتحنا صنبور المياه لعدة دقائق لتبرد المياه؟ وإذا كان نعم فما هو التكييف الفقهي لهذه المسألة مع الدليل؟

 

Pertama: Apakah termasuk perbuatan boros (israf) dalam penggunaan air jika kami membuka keran air selama beberapa menit agar airnya menjadi dingin? Jika ya, bagaimana gambaran hukum fikih (at-takyif al-fiqhi) untuk masalah ini beserta dalilnya?

ثانيا: لما يذهب أحدنا للشراء من المطاعم السريعة عبر النافذة، فتكون هناك امرأة فعند مبادلة المال بلا شك أن أصابع يدها تلمس كف المسلم، فما هو الحل هل هذا من المس المحرم؟ مع الأدلة، الله يوفقكم.

Kedua: Ketika salah seorang dari kami pergi membeli makanan di restoran cepat saji melalui layanan lantatur (drive-thru), lalu pelayannya adalah seorang wanita, saat proses penyerahan uang tidak diragukan lagi bahwa jari-jari tangannya menyentuh telapak tangan muslim tersebut. Bagaimanakah solusinya? Apakah ini termasuk sentuhan yang diharamkan? Mohon sertakan dalil-dalilnya, semoga Allah memberikan taufik kepada Anda.

ثالثا: لما أحد يأكل فإذا تبقى شيء من الطعام من الوجبة..فإذا أبقاه لليوم الثاني إما أنه يتعفن أو يتجمد فيلجأ لرميه..فهل هذا من الإسراف؟ وأنا آسف لعدم اقتصاري على سؤال واحد، فان الضرورات تبيح المحظورات..والسلام.

Ketiga: Ketika seseorang makan, lalu tersisa sebagian makanan dari porsi tersebut. Jika ia menyimpannya untuk hari berikutnya, makanan itu adakalanya membusuk atau membeku sehingga ia terpaksa membuangnya. Apakah tindakan ini termasuk perbuatan boros? Saya memohon maaf karena tidak membatasi pada satu pertanyaan saja, karena kondisi darurat membolehkan hal-hal yang dilarang. Wassalam.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن فتح صنبور الماء عدة دقائق لتبرد المياه لا يعد إسرافًا إذا كان استعماله للوضوء والشرب ونحوها يحتم ذلك، وإلا فإنه يعد إسرافًا.

Sesungguhnya membuka keran air selama beberapa menit agar airnya menjadi dingin tidaklah dianggap sebagai perbuatan boros jika tujuan penggunaannya untuk wudhu, minum, atau keperluan semisalnya memang mengharuskan kondisi air tersebut dingin. Namun jika tidak mengharuskan demikian, maka tindakan itu dianggap sebagai perbuatan boros.

فإن الإسراف عرفه ابن عابدين بكونه صرف الشيء فيما ينبغي زائدًا على ما ينبغي.

Sebab, perbuatan boros (al-israf) didefinisikan oleh Ibnu ‘Abidin sebagai tindakan membelanjakan atau menggunakan sesuatu untuk perkara yang semestinya, namun dalam kadar yang melebihi batas yang semestinya.

وقد أخرج أحمد وابن ماجه عن عبد الله بن عمرو أن النبي صلى الله عليه وسلم مرّ بسعد وهو يتوضأ، فقال:

Dan sungguh Ahmad serta Ibnu Majah telah mengeluarkan riwayat dari Abdullah bin ‘Amru bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati Sa‘ad yang sedang berwudhu, lalu beliau bersabda:

مَا هَذَا السَّرَفُ يَا سَعْدُ؟ فَقَالَ سَعْدٌ: أَفِي الْوُضُوءِ سَرَفٌ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ

“Keborosan apa ini, wahai Sa’ad?” Sa’ad bertanya: “Apakah di dalam wudhu ada keborosan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya, walaupun engkau berada di tepi sungai yang mengalir deras.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

وانظر الفتوى رقم: الفتوى الأخرى هنا.

Dan silakan lihat rinciannya pada fatwa lainnya di sini :

وأما عن سؤالك الثاني فإن الحل أن لا تمس يدك يد أجنبية، فليس يلزم في المبادلات التجارية أن تمس يدك يد من تتبايع معه. فالمس الذي ذكرت محرم.

Adapun mengenai pertanyaan Anda yang kedua, maka solusinya adalah jangan sampai tangan Anda menyentuh tangan wanita asing (non-mahram), karena di dalam aktivitas tukar-menukar perdagangan sama sekali tidak diharuskan tangan Anda bersentuhan dengan tangan orang yang bertransaksi dengan Anda. Sentuhan yang Anda sebutkan tersebut hukumnya haram.

روى معقل بن يسار عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

Ma‘qil bin Yasar telah meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

“Sekiranya kepala salah seorang di antara kamu ditusuk dengan jarum besi, itu sungguh lebih baik baginya daripada ia menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” (HR. At-Thabrani)

رواه الطبراني وصححه الشيخ الألباني.

Diriwayatkan oleh At-Thabrani dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani.

وأما عن سؤالك الثالث، فإن الطعام إذا كان زائدًا على الحاجة فالأحسن إعطاؤه للفقراء، وإذا لم يوجدوا فللدواب، وإن لم يوجد شيء من ذلك فلا حرج في رميه إن كان لا يقبل الادخار. وانظر ذلك في الفتوى رقم: الفتوى الأخرى هنا.

Adapun mengenai pertanyaan Anda yang ketiga, sesungguhnya makanan tersebut apabila jumlahnya melebihi kebutuhan, maka yang paling baik adalah memberikannya kepada orang-orang fakir. Jika mereka tidak didapatkan, maka diberikan kepada hewan ternak. Namun jika tidak didapatkan satu pun dari hal tersebut, maka tidak ada halangan (haraj) untuk membuangnya apabila makanan itu memang jenis yang tidak dapat diawetkan atau disimpan lama. Dan silakan lihat rincian mengenai hal itu pada fatwa lainnya di sini :

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.