حكم استعمال مياه الصرف الصحي بعد معالجتها
Hukum Menggunakan Air Limbah Guna Ulang Setelah Proses Pengolahan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Menggunakan Air Limbah Guna Ulang Setelah Proses Pengolahan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
ما حكم استعمال مياه الصرف الصحي – بعد تكريرها معمليا وتنقيتها بشكل تام من كل الشوائب – في العادات والعبادات، في الشرب والأكل وفي الوضوء والغسل وسائر الطهارات ؟ علما بأن هذه المياه- كما جاء في النشرات الحكومية – بأنها أنقى من مياه الآبار المستعملة قبل ذلك والتي نضب جزء كبير منها .. أفيدونا جزاكم الله خيراً .. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Apa hukum menggunakan air limbah (saluran pembuangan) —setelah melalui proses daur ulang di laboratorium dan disucikan secara sempurna dari segala bentuk kotoran— untuk keperluan adat kebiasaan sehari-hari maupun ibadah, baik untuk minum, makan, wudhu, mandi, serta seluruh aktivitas bersuci lainnya? Perlu diketahui bahwa air ini —sebagaimana tercantum dalam rilis resmi pemerintah— statusnya lebih murni daripada air sumur yang digunakan sebelum ini, yang mana sebagian besarnya telah mengalami kekeringan. Mohon penjelasannya kepada kami, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإذا أمكن تكرير هذه المياه وتنقيتها من آثار النجاسة طعماً ولونا ورائحة فلا حرج في استعمالها للطهارة.
Maka apabila air tersebut memungkinkan untuk didaur ulang serta disucikan dari bekas-bekas najis baik rasa, warna, maupun aromanya, maka tidak ada halangan (haraj) untuk menggunakannya dalam bersuci (at-thaharah).
ولا حرج في استعمالها كذلك في الأكل والشرب إذا ثبت خلوها من الضرر، وذلك لما قرره أهل العلم من أن الماء الكثير المتغير بنجاسة يطهر إذا زال تغيره بنفسه أو بإضافة ماء طهور إليه أو إزالة تغيره بطول مكث ونحوه.
Dan tidak ada halangan pula untuk menggunakannya dalam keperluan makan dan minum apabila telah terbukti secara nyata bahwa air tersebut terbebas dari bahaya (dharar). Hal itu berdasarkan apa yang telah ditetapkan oleh para ahli ilmu bahwasanya air dalam jumlah banyak (al-ma’ al-katsir) yang berubah sifatnya karena najis, statusnya dapat kembali suci apabila perubahan sifatnya tersebut hilang dengan sendirinya, atau dengan ditambahkan air yang suci mensucikan (ma’ thahur) kepadanya, atau dengan hilangnya perubahan itu karena lama berdiam diri, dan yang semisalnya.
فزوال علة النجاسة وهي التغير، والحكم يزول بزوال علته.
Maka dengan ini telah lenyap sebab (‘illah) kenajisan tersebut, yaitu perubahan sifat air; sedangkan hukum itu berputar bersama sebabnya, ia akan lenyap seiring dengan lenyapnya sebab tersebut.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply