حكم بيع العسل إذا وقعت فيه فأرة
Hukum Menjual Madu yang Kemasukan Tikus
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Menjual Madu yang Kemasukan Tikus ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
في منحل لعسل النحل سقط فأر في كمية العسل المعدة للبيع وتم إبعاده فهل يجوز بيع العسل بعد استخراج الفأر؟ منه
Di sebuah peternakan lebah madu, seekor tikus jatuh ke dalam sejumlah madu yang telah disiapkan untuk dijual, kemudian tikus tersebut disingkirkan. Apakah diperbolehkan menjual madu tersebut setelah dikeluarkan tikusnya?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن الفأر من الحيوانات الطاهرة، فإذا سقط في العسل، أو غيره من المائعات، وأخرج منه حياً، فإنه لا ينجسه.
Sesungguhnya tikus termasuk kategori hewan yang suci (selama hidup fisik luarnya). Maka apabila ia jatuh ke dalam madu atau zat cair (al-ma’i‘at) lainnya, kemudian dikeluarkan dalam keadaan hidup, maka ia tidak menajiskannya.
أما إذا وقع فيه ميتاً، أوسقط فيه حياً وأخرج ميتاً، فإنه ينظر في العسل: هل هو جامد؟ – وهو ما لو فتح وعاؤه لم يسل أو هو الذي لا تسري النجاسة فيه – فإذا كان جامداً ألقي الفأر، وما يغلب على الظن أنه قد مسه من الجامد، والباقي طاهر، لقوله صلى الله عليه وسلم لما سئل عن فأرة وقعت في السمن؟:
Adapun jika tikus tersebut jatuh ke dalamnya dalam keadaan mati, atau jatuh dalam keadaan hidup lalu dikeluarkan dalam keadaan mati, maka harus ditinjau kondisi madu tersebut: Apakah dalam kondisi padat/membeku (jamid)? —yaitu kondisi yang jika wadahnya dibuka, ia tidak mengalir, atau sekiranya zat najis tidak dapat menjalar di dalamnya—. Jika kondisinya padat, maka tikus tersebut dibuang beserta bagian madu padat yang kuat diduga kuat telah bersentuhan dengannya, sedangkan sisa madu lainnya tetap suci. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang seekor tikus yang jatuh ke dalam samin (lemak minyak):
أَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا وَكُلُوا سَمْنِكُمْ
“Buanglah tikus itu beserta bagian samin di sekelilingnya, dan makanlah samin kalian.” (HR. Bukhari)
وإذا كان مائعاً، فإنه يتنجس بمجرد وقوع الفأر فيه ميتاً، أو موته فيه، ولو لم يتغير على رأي الجمهور، بدليل ما رواه الإمام أحمد والترمذي وأبو داود من قوله صلى الله عليه وسلم:
Namun jika madu tersebut dalam kondisi cair (ma’i‘an), maka ia otomatis menjadi najis hanya karena semata-mata jatuhnya tikus dalam keadaan mati di dalamnya, atau matinya tikus tersebut di dalamnya, meskipun tidak terjadi perubahan sifat (rasa, warna, bau) menurut pendapat mayoritas ulama (jumhur). Hal ini berdasarkan dalil yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Abu Dawud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا كَانَ جَامِدًا فَأَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا، وَإِذَا كَانَ مَائِعًا فَلَا تَقْرَبُوهُ
“Jika ia dalam kondisi padat, maka buanglah tikus itu beserta bagian di sekelilingnya. Namun jika ia dalam kondisi cair, maka janganlah kalian mendekatinya.” —yakni maksudnya adalah tikus yang jatuh ke dalam samin—. (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Abu Dawud)
ويرى شيخ الإسلام ابن تيمية أنه لا يتنجس إلا إذا تغير، وقال: إن ما استدل به الجمهور ضعيف، وما اختاره شيخ الإسلام من عدم نجاسة العسل، أو غيره من المائعات إذا لم تغيره النجاسة هو مذهب الزهري والبخاري، وروي عن الإمام مالك، وهو مذهب أبي حنيفة، وإحدى الروايتين عن الإمام أحمد. قال شيخ الإسلام: لا دليل على نجاسته من كتاب ولا سنة.
Di sisi lain, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwasanya zat cair tersebut tidaklah menjadi najis kecuali jika mengalami perubahan sifat. Beliau menyatakan bahwa dalil yang dijadikan sandaran oleh jumhur statusnya lemah (daif secara lafaz umum ma’i‘an). Pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam mengenai tidak najisnya madu atau zat cair lainnya apabila tidak diubah oleh najis tersebut adalah mazhab Az-Zuhri dan Al-Bukhari, serta diriwayatkan pula dari Imam Malik, merupakan mazhab Abu Hanifah, dan salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad. Syaikhul Islam berkata: “Tidak ada dalil atas kenajisannya baik dari Al-Kitab maupun As-Sunnah.”
وحيث حكمنا بنجاسة العسل منع بيعه، وحيث حكمنا بطهارته جاز بيعه، وحيث وجد خلاف، وكان قوياً فلاشك أن الأولى هو عدم الاستعمال، وعدم البيع.
Dan sekiranya kita menetapkan hukum atas kenajisan madu tersebut, maka dilarang menjualnya. Sebaliknya, sekiranya kita menetapkan hukum atas kesuciannya, maka diperbolehkan menjualnya. Namun, dikarenakan adanya silang pendapat (khilaf) yang kuat dalam masalah ini, maka tidak diragukan lagi bahwa yang lebih utama (al-aula) adalah tidak menggunakannya dan tidak menjualnya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply