Kapan Suatu Air Dihukumi sebagai Air Najis



متى يحكم على الماء بالنجاسة

Kapan Suatu Air Dihukumi sebagai Air Najis

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Kapan Suatu Air Dihukumi sebagai Air Najis ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.. كيف يمكن لي الصلاة عندما أذهب للسباحة من الصباح إلى المساء.. فهل أستطيع الوضوء بطريقة عاديةعلماً بأن المياه التي تصل إلى باقي جسدي يمكن أن تكون نجسة.. أم أنه علي الاغتسال أولا ثم الوضوء بما أنه يصعب علي تغيير ملابس السباحة ومعاودة لبسها فهل أستطيع أن أبقى بملابس السباحة أثناء وضوء الصلاة ولبس ملابس فوقها وهل بهذه الطريقة تكون ملابس السباحة طاهرة عند الاغتسال بها..أم أنه يفضل الانتظار حتى العودة إلى المنزل والاغتسال وتغيير الملابس وقضاء الصلوات التي فاتتني ؟ ولكم جزيل الشكر

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Bagaimana cara saya melakukan sholat ketika pergi berenang dari pagi hingga sore hari? Apakah saya bisa berwudhu dengan cara biasa, mengingat air yang mengenai seluruh tubuh saya ada kemungkinan najis? Ataukah saya harus mandi terlebih dahulu baru kemudian berwudhu? Dikarenakan sulit bagi saya untuk mengganti pakaian renang dan mengenakannya kembali, apakah saya boleh tetap memakai pakaian renang tersebut saat berwudhu untuk sholat lalu mengenakan pakaian biasa di luarnya? Apakah dengan cara ini pakaian renang tersebut menjadi suci saat saya mandi mengenakannya? Ataukah lebih utama menunggu sampai kembali ke rumah untuk mandi, mengganti pakaian, dan meng-qadha sholat yang terlewat? Terima kasih banyak atas jawaban Anda.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن الصلاة كما هو معروف هي الركن الثاني من أركان الإسلام، وقد جاء الوعيد الشديد في حق تاركها أو المتهاون في أدائها المؤخر لها عن أوقاتها.

Sesungguhnya sholat, sebagaimana telah diketahui bersama, merupakan rukun kedua dari rukun-rukun Islam. Sungguh telah datang ancaman yang sangat keras bagi orang yang meninggalkannya, meremehkan penunaiannya, atau mengakhirkannya dari waktu-waktunya.

ومن المتفق عليه أنه لا يجوز للمكلف أن يؤخرها حتى يخرج وقتها -في غير الجمع عند وجود سببه- مهما كانت الظروف، وإنما الواجب على المكلف هو الإتيان بها في وقتها حسب استطاعته، فإن كان قادراً على الإتيان بها بكامل شروطها وأركانها وواجباتها لزمه ذلك، وإلا فعليه أن يؤديها حسب استطاعته، ولا يؤاخذ بما فوق طاقته مما لا يقدر عليه، إذ لا يكلف الله نفساً إلا وسعها.

Dan termasuk perkara yang disepakati bersama bahwasanya tidak diperbolehkan bagi seorang mukalaf untuk menunda sholat hingga keluar waktunya —kecuali untuk menjamak sholat ketika ada sebabnya— bagaimanapun kondisinya. Kewajiban seorang mukalaf adalah menunaikannya tepat pada waktunya sesuai batas kemampuannya. Jika ia mampu menunaikannya dengan memenuhi seluruh syarat, rukun, dan kewajibannya, maka ia wajib melakukan hal tersebut. Jika tidak mampu, maka ia wajib menunaikannya sesuai dengan kemampuannya, dan ia tidak dihukum atas apa yang di luar batas kemampuannya yang tidak sanggup ia lakukan, karena Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

إذا تقرر هذا.. فلتعلم الأخت السائلة أن الطهارة من الحدث وفي الخبث شرط في صحة الصلاة، ولا تصح الطهارة إلا بالماء الطهور مادام الشخص واجداً له قادراً على استعماله، كما أن ستر العورة أيضاً شرط في صحة الصلاة للقادر عليه.

Apabila perkara ini telah jelas, maka hendaklah Saudari penanya mengetahui bahwasanya suci dari hadats dan suci dari najis (khabats) merupakan syarat sahnya sholat. Bersuci tidak dianggap sah kecuali dengan air yang suci lagi mensucikan (ma’ thahur) selama seseorang mendapatinya dan mampu menggunakannya. Demikian pula menutup aurat merupakan syarat sahnya sholat bagi orang yang mampu melakukannya.

وبناء على ما تقدم فإن على السائلة أن تستعد لأداء صلاتها بمجرد دخول الوقت فتتطهر أو تتوضأ بماء طهور…. وهو الماء الباقي على أصل خلقته الذي لم يتغير لونه أو طعمه أو رائحته بما لا يلازمه غالباً، ثم تلبس ثياباً طاهرة ساترة لجميع بدنها عدا الوجه والكفين فلا يلزمها سترهما في الصلاة ما لم تكن بحضرة أجنبي، ثم تصلي الصلاة في وقتها.

Berdasarkan apa yang telah berlalu, sesungguhnya wajib bagi Saudari penanya untuk bersiap-siap menunaikan sholat-nya segera setelah masuknya waktu, lalu ia bersuci atau berwudhu dengan air yang thahur… yaitu air yang masih tetap berada di atas asal penciptaannya, yang mana tidak berubah warna, rasa, atau aromanya oleh zat yang pada umumnya tidak melekat padanya. Kemudian ia mengenakan pakaian yang suci lagi menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan, karena ia tidak wajib menutup keduanya di dalam sholat selama tidak berada di hadapan laki-laki asing (non-mahram), lalu ia menunaikan sholat tepat pada waktunya.

فإذا لم تجد ماء طهوراً تيممت وصلت، وإذا لم تجد أيضاً ثياباً طاهرة أو ساترة وجب عليها أن تؤدي الصلاة حسب حالتها، ولا يجوز لها تأخيرها حتى يخرج وقتها بحجة عدم طهارة الماء أو الثياب أو نحو ذلك.

Jika ia tidak mendapati air yang thahur, maka ia bertayamum dan tetap sholat. Apabila ia juga tidak mendapati pakaian yang suci atau pakaian yang menutup aurat, maka wajib baginya untuk menunaikan sholat sesuai dengan keadaannya saat itu, dan tidak diperbolehkan baginya menunda sholat hingga keluar waktunya dengan alasan ketidaksucian air, pakaian, atau alasan semisalnya.

وننبه السائلة إلى أمرين الأول: أن الماء خلق طهوراً فلا يحكم عليه بالنجاسة حتى يتيقن ذلك، والثاني أنه إذا كان الماء نجساً نجاسة محققة، فلا يجوز لها السباحة فيه، لأن ملامسة النجاسة لغير الحاجة منهي عنها شرعاً، ولمزيد فائدة عن حكم سباحة المرأة، راجعي الفتوى الأخرى هنا.

Dan kami mengingatkan Saudari penanya pada dua perkara. Pertama: Bahwasanya air diciptakan dalam keadaan suci lagi mensucikan (thahur), maka air tersebut tidak boleh dihukumi sebagai air najis sampai ia meyakini hal tersebut. Kedua: Bahwasanya apabila air tersebut benar-benar najis dengan kenajisan yang pasti (najasah muhaqqaqah), maka tidak diperbolehkan baginya berenang di dalamnya, karena menyentuh najis tanpa adanya kebutuhan adalah perkara yang dilarang secara syar‘i. Untuk tambahan manfaat mengenai hukum berenang bagi wanita, silakan merujuk pada fatwa lainnya di sini :

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.