طهارة ماء البحر وحكم التبول فيه وفي بركة السباحة
Kesucian Air Laut dan Hukum Buang Air Kecil di Dalamnya Serta di Kolam Renang
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Kesucian Air Laut dan Hukum Buang Air Kecil di Dalamnya Serta di Kolam Renang ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
هل ماء البحر طاهر للوضوء؟ وهل هناك من حرمة في التبول في البحر وبركة السباحة؟
Apakah air laut itu suci untuk digunakan berwudhu? Dan apakah ada keharaman dalam buang air kecil (kencing) di dalam laut serta di kolam renang?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فماء البحر طاهر مطهر لا يكره البول فيه ولا يضره، وأما بركة السباحة فإن بلغت حد الاستبحار بحيث لا تعافه نفس البتة لم يكره البول فيها، فإن لم تبلغ ذلك الحد كره البول فيها سواء بلغت القلتين أم لا.
Maka air laut adalah suci lagi mensucikan (thahir mutahhir), tidak dimakruhkan buang air kecil di dalamnya dan hal itu tidak membahayakannya (tidak merusak kesuciannya). Adapun kolam renang, apabila luasnya telah mencapai ukuran yang sangat besar menyerupai lautan (hadd al-istibhar) sekiranya jiwa sama sekali tidak merasa jijik menggunakannya, maka tidak dimakruhkan buang air kecil di dalamnya. Namun, jika luasnya belum mencapai ukuran tersebut, maka dimakruhkan buang air kecil di dalamnya, baik volume airnya telah mencapai ukuran dua qulah (al-qullatain) maupun belum.
وهذا مذهب الشافعية والحنابلة، وذهب الحنفية والمالكية إلى حرمة البول في الماء الراكد القليل لأنه ينجسه، ويتلف ماليته، ويغر غيره باستعماله.
Dan ini merupakan mazhab Syafiiyah dan Hanabilah. Sedangkan Mazhab Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat tentang haramnya buang air kecil di dalam air tergenang yang berjumlah sedikit, karena tindakan tersebut dapat menajiskannya, merusak nilai kemanfaatannya (malatahu), serta memperdaya orang lain yang hendak menggunakannya.
ولم يحرم الشافعية والحنابلة البول في القليل الراكد لأن الماء عادة غير متمول، ولأنه يمكن تطهيره بالإضافة إليه. ولا شك أن الأحوط هو مذهب الحنفية والمالكية.
Dan kalangan Syafiiyah serta Hanabilah tidak mengharamkan buang air kecil di air tergenang yang sedikit karena air pada galibnya tidak dinilai sebagai harta komoditas (ghairu mutamawwal), dan karena air tersebut masih memungkinkan untuk disucikan kembali dengan cara menambahkan air (al-idhafah) kepadanya. Namun, tidak diragukan lagi bahwasanya pendapat yang lebih berhati-hati (al-ahwath) adalah mazhab Hanafiyah dan Malikiyah.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply