Perbedaan Pendapat Ulama Mengenai Air Bervolume Kurang dari Dua Qulah yang Kemasukan Najis



مذاهب العلماء في ملاقاة النجاسة للماء وكان دون القلتين

Perbedaan Pendapat Ulama Mengenai Air Bervolume Kurang dari Dua Qulah yang Kemasukan Najis

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Perbedaan Pendapat Ulama Mengenai Air Bervolume Kurang dari Dua Qulah yang Kemasukan Najis ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

رجحتم في إحدى الفتاوى أن المائع -خلاف الماء- يتنجس بمجرد ملاقاة النجاسة تغير أم لا. ثم رجحتم في أخرى أن المائع والماء لا يتنجسان بملاقاة النجاسة ما لم يتغيرا. فأيهما القول الأخير؟ وأيهما أرجح؟ لأني أعرف أن الماء فيه خلاف، وذلك لظاهر اختلاف الأحاديث، فما هو رد المالكية والحنفية على حديث: إذا بلغ الماء قلتين لم يحمل الخبث؟ وما قال به الشافعية والحنابلة من تنجس الماء دون القلتين لمجرد ملاقاة النجاسة؟

Anda sekalian telah menguatkan (merajihkan) di salah satu fatwa bahwasanya zat cair (al-ma’i‘) —selain air murni— statusnya otomatis menjadi najis hanya karena kemasukan najis, baik zat cair tersebut berubah sifatnya maupun tidak. Kemudian di fatwa yang lain, Anda sekalian menguatkan pendapat bahwa zat cair dan air tidaklah menjadi najis karena kemasukan najis selama keduanya tidak mengalami perubahan sifat. Maka, manakah keputusan pendapat yang terakhir? Dan manakah pendapat yang lebih kuat (rajih)? Karena setahu saya di dalam masalah hukum air ini memang terdapat silang pendapat yang disebabkan oleh adanya perbedaan lahiriah dari hadits-hadits. Lalu, apa sanggahan (jawaban) dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah terhadap hadits: *”Jika air telah mencapai ukuran dua qulah, maka ia tidak mengandung kotoran (najis)”*? Serta apa argumentasi yang dipegang oleh Syafiiyah dan Hanabilah mengenai kenajisan air yang kurang dari dua qulah hanya karena semata-mata kemasukan najis?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فلم تذكر لنا أرقام الفتاوى التي أشكل عليك تعارضها لنزيل عنك الإشكال، ولكن على كل حال فإننا نقول: إن العلماء اختلفوا في المائع إذا لاقته النجاسة هل ينجس بمجرد ملاقاتها قلَّ أو كثر، أم ينجس إن كان قلتين فأقل، أم لا ينجس إلا بالتغير؟

Anda tidak menyebutkan kepada kami nomor-nomor fatwa yang Anda rasa saling bertentangan tersebut agar kami dapat menghilangkan kemusykilan Anda. Namun, terlepas dari hal itu, kami sampaikan: Sesungguhnya para ulama telah berselisih pendapat mengenai zat cair (selain air) apabila kemasukan najis; apakah zat cair tersebut otomatis menjadi najis hanya karena semata-mata kemasukan najis tersebut baik volumenya sedikit maupun banyak? Ataukah ia menjadi najis jika volumenya dua qulah atau kurang? Ataukah ia tidak dihukumi najis kecuali jika terjadi perubahan sifat pada zat cair itu?

والقول الثالث هو الذي نصره شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله- وقرره في رسالة مطبوعة ضمن الجزء الحادي والعشرين من مجموع الفتاوى، وأما المفتى به عندنا في هذه المسألة: فانظره في الفتاوى الأخرى هنا.

Pendapat ketiga (bahwa zat cair tidak najis kecuali jika berubah sifatnya) adalah pendapat yang dibela oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan beliau tetapkan di dalam risalah yang dicetak dalam Juz 21 dari kitab Majmu‘ al-Fatawa. Adapun pendapat yang difatwakan di situs kami dalam masalah zat cair ini, silakan merujuk perinciannya pada fatwa lainnya di sini :

وأما الماء: فالخلاف فيه مشهور، والقائلون بأنه لا ينجس إلا بالتغير هم المالكية ورواية عن أحمد اختارها شيخ الإسلام ابن تيمية.

Adapun mengenai air murni: Maka silang pendapat di dalamnya sudah sangat masyhur. Pihak yang berpendapat bahwasanya air tidak menjadi najis kecuali jika terjadi perubahan sifat (pada rasa, warna, atau bau) adalah kalangan Malikiyah, serta merupakan salah satu riwayat dari Ahmad yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

وأما الحنفية فهم وإن كانوا لا يقولون بحديث القلتين لكنهم ينجسون قليل الماء بملاقاة النجاسة على تفصيل معروف في مذهبهم يفرقون به بين القليل والكثير.

Sedangkan kalangan Hanafiyah, walaupun mereka tidak menggunakan hujah hadits dua qulah, namun mereka tetap menajiskan air yang berjumlah sedikit akibat kemasukan najis, berdasarkan perincian yang makruf di dalam mazhab mereka yang mana mereka membedakan antara batasan air sedikit (al-qalil) dan air banyak (al-katsir).

وأما جواب من لم ير العمل بحديث القلتين ورأى أن الماء لا ينجس بملاقاة النجاسة إلا بالتغير فلهم عن الحديث أجوبة، منها تقرير ضعفه وعدم صلاحيته للاحتجاج، وممن ضعفه أبو عمر ابن عبد البر -رحمه الله-، حيث قال:

Adapun jawaban (sanggahan) dari ulama yang tidak mengamalkan hadits dua qulah dan memandang bahwasanya air tidak menjadi najis karena kemasukan najis kecuali jika berubah sifatnya, maka mereka memiliki beberapa jawaban terhadap hadits tersebut. Di antaranya adalah menetapkan status daif (lemah) pada hadits tersebut sehingga tidak layak dijadikan hujah. Di antara ulama yang mendaifkannya adalah Abu ‘Umar Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah, di mana beliau berkata:

“وهذا اللفظ محتمل للتأويل، ومثل هذا الاضطراب في الإسناد يوجب التوقف عن القول بهذا الحديث إلى أن القلتين غير معروفتين، ومحال أن يتعبد الله عباده بما لا يعرفونه.” انتهى.

“Dan lafaz ini mengandung multitafsir (kemungkinan takwil). Kerancuan (idhthirab) yang semisal ini pada sanad mengharuskan kita untuk bersikap tawaquf (menahan diri) dari berpendapat menggunakan hadits ini, ditambah lagi ukuran dua qulah itu tidak diketahui secara pasti takarannya secara meluas, sedangkan mustahil bagi Allah membebani hamba-Nya dengan suatu syariat yang tidak mereka ketahui definisinya.” Selesai kutipan.

ومنها على تقدير صحته دعوى أن مفهومه معارض بعموم حديث: “إن الماء طهور لا ينجسه شيء.” وأن هذا العموم مقدم على مفهوم هذا الحديث لموافقته عمل أهل المدينة وموافقته القياس الجلي، ولكون المفهوم جاء لبيان الواقع.

Dan di antara jawaban lainnya —dengan asumsi seandainya hadits dua qulah itu dinilai sahih— adalah klaim bahwasanya makna tersiratnya (mafhum mukhalafah) bertentangan dengan keumuman makna tekstual (manthuq) dari hadits: *”Sesungguhnya air itu suci lagi mensucikan, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.”* Dan keumuman makna ini wajib didahulukan daripada makna tersirat (mafhum) dari hadits dua qulah, karena ia selaras dengan amalan penduduk Madinah (‘amal ahli al-Madinah) serta sesuai dengan analogi yang sangat jelas (al-qiyas al-jali), ditambah lagi bahwa penyebutan angka dua qulah tersebut dipahami hanya untuk menggambarkan realitas kondisi yang terjadi saat itu (bayanul waqi‘).

قال ابن القيم -رحمه الله- في تهذيب السنن: وَإِذَا ثَبَتَ هَذَا فَمَنْطُوق حَدِيث الْقُلَّتَيْنِ لَا نُنَازِعكُمْ فِيهِ وَمَفْهُومه لَا عُمُوم لَهُ فَبَطَل الِاحْتِجَاج بِهِ مَنْطُوقًا وَمَفْهُومًا.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitab Tahdzib as-Sunan: “Dan apabila hal ini telah tetap, maka mengenai makna tekstual (manthuq) dari hadits dua qulah kami tidak mendebat kalian di dalamnya, namun makna tersiratnya (mafhum) tidak memiliki cakupan makna yang umum, maka batallah berhujah dengannya baik secara tekstual maupun tersirat.”

وَأَمَّا قَوْلكُمْ إِنَّ الْعَدَد خَرَجَ مَخْرَج التَّحْدِيد وَالتَّقْيِيد كَنُصُبِ الزَّكَوَات: فَهَذَا بَاطِل مِنْ وُجُوه؛ أَحَدهَا: أَنَّهُ لَوْ كَانَ هَذَا مِقْدَارًا فَاصِلًا بَيْن الْحَلَال وَالْحَرَام وَالطَّاهِر وَالنَّجِس لَوَجَبَ عَلَى النَّبِيّ بَيَانه بَيَانًا عاماً.

“Adapun perkataan kalian bahwasanya bilangan (dua qulah) tersebut keluar sebagai batasan pasti (at-tahdid) dan pengikatan hukum sebagaimana ukuran minimal (nisab) zakat, maka klaim ini adalah batil dari beberapa sisi; Salah satunya: Bahwasanya seandainya ukuran ini merupakan kadar pemisah resmi antara yang halal dan haram, serta antara yang suci dan najis, niscaya wajib bagi Nabi untuk menjelaskannya secara umum…”

فَإِنَّ هَذَا أَمْر يَعُمّ الِابْتِلَاء بِهِ كُلّ الْأُمَّة فَكَيْف لَا يُبَيِّنهُ حَتَّى يَتَّفِق سُؤَال سَائِل لَهُ عَنْ قَضِيَّة جُزْئِيَّة فَيُجِيبهُ بِهَذَا، وَيَكُون ذَلِكَ حَدًّا عَامًّا لِلْأُمَّةِ كُلّهَا لَا يَسَع أَحَدًا جَهْله… بَلْ يُحَالُونَ فِيهِ عَلَى مَفْهُوم ضَعِيف شَأْنه مَا ذَكَرْنَاهُ قَدْ خَالَفَتْهُ الْعُمُومَاتُ وَالْأَدِلَّة الْكَثِيرَة، وَلَا يَعْرِفهُ أَهْل بَلْدَته وَلَا أَحَد مِنْهُمْ يَذْهَب إِلَيْهِ؟!

“…Sebab, masalah air ini merupakan perkara yang umumnya melanda seluruh umat dalam kehidupan sehari-hari (ya‘ummu al-ibtila’ bihi). Bagaimana mungkin beliau tidak menjelaskannya secara luas sampai menunggu adanya pertanyaan dari seorang penanya mengenai sebuah kasus parsial saja lalu beliau menjawabnya dengan ini? Kemudian jawaban parsial itu dijadikan batasan umum bagi seluruh umat tanpa terkecuali yang tidak boleh tidak diketahui oleh siapa pun… Bahkan mereka justru dialihkan dalam masalah ini kepada pemahaman tersirat (mafhum) yang lemah kondisinya sebagaimana yang telah kami sebutkan, yang mana ia telah diselisihi oleh dalil-dalil umum serta dalil-dalil lain yang banyak, bahkan penduduk kota beliau (Madinah) sendiri tidak mengetahuinya dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang berpendapat dengannya?!”

الثَّانِي: أَنَّ اللَّه -سُبْحَانه وَتَعَالَى- قَالَ: {وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ}، وَقَالَ: {وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ}، فَلَوْ كَانَ الْمَاء الَّذِي لَمْ يَتَغَيَّر بِالنَّجَاسَةِ مِنْهُ مَا هُوَ حَلَال وَمِنْهُ مَا هُوَ حَرَام لَمْ يَكُنْ فِي هَذَا الْحَدِيث بَيَان لِلْأُمَّةِ مَا يَتَّقُونَ. إلى آخر كلامه -رحمه الله-.

“Sisi kedua: Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: *’Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi.’* [At-Taubah: 115] dan Dia berfirman: *’Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atas kamu.’* [Al-An’am: 119]. Maka seandainya air yang tidak berubah karena najis itu ada yang berstatus halal dan ada yang berstatus haram (hanya karena masalah volume qulah), niscaya tidak ada kejelasan di dalam hadits ini bagi umat mengenai apa yang harus mereka jauhi.” Hingga akhir perkataan beliau rahimahullah.

وقد أطال المحقق ابن القيم في هذا الموضع في أول تهذيب السنن في إيراد حجج الطائفتين، وقرر أن الماء لا ينجس إلا بالتغير، وأجاب عن حجج المخالفين، فأجاد وأفاد، فارجع إليه إن شاء الله للزيادة.

Dan sungguh Al-Muhaqqiq Ibnu al-Qayyim telah memperpanjang pemaparan di tempat ini pada bagian awal kitab Tahdzib as-Sunan dalam menyajikan hujah-hujah dari kedua belah pihak. Beliau menetapkan hukum bahwasanya air tidak menjadi najis kecuali jika terjadi perubahan sifat, dan beliau menjawab hujah-hujah pihak yang menyelisihi pendapat tersebut dengan sangat baik lagi penuh faedah. Maka silakan merujuk ke kitab tersebut insya Allah untuk tambahan ulasan.

وأما المعتمد في موقعنا فهو مذهب الشافعية والمشهور عند الحنابلة وهو تنجس الماء بملاقاة النجاسة إذا كان دون القلتين.

Adapun pendapat yang menjadi mu’tamad (dasar utama yang dipegang) di situs kami adalah mazhab Syafiiyah dan pendapat yang masyhur di kalangan Hanabilah, yaitu: **Air otomatis menjadi najis hanya karena kemasukan najis apabila volumenya kurang dari dua qulah (dun al-qullatain)**.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.