مذاهب العلماء في استخدام المياه النجسة لسقي الأشجار
Perbedaan Pendapat Ulama Mengenai Penggunaan Air Najis untuk Mengairi Pepohonan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Perbedaan Pendapat Ulama Mengenai Penggunaan Air Najis untuk Mengairi Pepohonan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
ماهوحكم استخدام المياه العادمة (النجسة) أو المختلطة بنجاسة في ري الأشجار المثمرة، وهل هناك قاعدة شرعية تنص على حرمة الانتفاع بالماء النجس؟ أفيدونا جزاكم الله خيراً.
Apa hukum menggunakan air limbah (air najis) atau air yang tercampur dengan najis untuk mengairi pepohonan yang berbuah? Dan apakah ada kaidah syar‘i yang menetapkan haramnya mengambil manfaat dari air najis? Mohon penjelasannya kepada kami, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فقد أجمع العلماء على أن الماء القليل أو الكثير إذا وقعت فيه نجاسة فغيرت طعمه أو لونه أو ريحه فهو نجس، نقل هذا الاجماع ابن المنذر وغيره، وسواء كان الماء جارياً أو راكداً، قليلاً أو كثيراً، تغير تغيراً فاحشاً أو يسيراً.
Sungguh para ulama telah sepakat (ijma‘) bahwasanya air yang berjumlah sedikit maupun banyak, apabila kemasukan najis lalu najis tersebut mengubah rasa, warna, atau aromanya, maka air tersebut berstatus najis. Ibnu al-Mundzir dan ulama lainnya telah menukil kesepakatan ini, baik kondisi airnya mengalir maupun tergenang, berjumlah sedikit maupun banyak, serta mengalami perubahan yang kontras (fatisy) maupun hanya sedikit.
وحكم الماء النجس أنه لا يحل الانتفاع به في الطهارة مطلقاً إجماعاً، ولا في الأكل والشرب إلا لضرورة، كدفع لقمة غص بها أو لعطش خشى معه الهلاك.
Dan hukum air najis adalah tidak halal memanfaatkannya untuk bersuci (at-thaharah) secara mutlak berdasarkan ijma‘, tidak pula untuk makan dan minum kecuali dalam kondisi darurat, seperti untuk mendorong suapan makanan yang menyumbat tenggorokan (tersedak) atau karena rasa haus yang dikhawatirkan dapat membawa kebinasaan.
ويجوز سقيه للبهائم، وبلُّ التراب به وجعله طيناً يطين به ما لا يصلى عليه، جاء في المنثور من القواعد: يحرم تناوله – أي: النجسي – على المكلف إلا في حالة الضرورة.
Namun diperbolehkan memberikan air tersebut sebagai minuman untuk hewan ternak, membasahi tanah dengannya, serta menjadikannya sebagai lumpur/tanah liat untuk menembok bangunan yang tidak digunakan sebagai tempat sholat. Disebutkan di dalam kitab Al-Mansyur fil Qawa‘id: “Haram mengonsumsinya —yaitu perkara yang najis— bagi seorang mukalaf kecuali dalam kondisi darurat.”
وجاء في شرح الخرشي على مختصر خليل (إن كان مُغيره نجساً فلا يستعمل في عبادات ولا عادات، لكنه ينتفع به في غير مسجد وآدمي)
Dan disebutkan dalam Syarh Al-Kharasyp ‘ala Mukhtashar Khalil: “Jika zat yang mengubahnya adalah najis, maka ia tidak boleh digunakan baik dalam aktivitas ibadah maupun adat kebiasaan sehari-hari, akan tetapi ia masih dapat dimanfaatkan untuk keperluan selain masjid dan manusia.”
وأما حكم الأشجار والزروع إذا سقيت بالماء النجس أو سمدت بنجس، فقد اختلف العلماء فيها، وأكثر العلماء على أنها لا تحرم، ولا يحكم بنجاستها لأن النجاسة تستحيل في باطنها فتطهر بالاستحالة، كالدم يستحيل في أعضاء الحيوان، لحماً ويصير لبناً، وهذا قول أكثر الفقهاء منهم أبو حنيفة والشافعي ومالك…
Adapun hukum pepohonan dan tanaman apabila diairi dengan air najis atau diberi pupuk dari zat yang najis, maka para ulama berbeda pendapat di dalamnya. Mayoritas ulama berpendapat bahwasanya hal tersebut tidak diharamkan, dan tidak pula dihukumi najis hasil tanamannya, karena najis tersebut mengalami perubahan wujud (istihalah) di dalam bagian dalamnya sehingga menjadi suci disebabkan faktor perubahan wujud tersebut. Hal ini sebagaimana darah yang berubah wujud di dalam organ tubuh hewan menjadi daging dan berubah menjadi air susu. Ini merupakan pendapat mayoritas fukaha, di antaranya Abu Hanifah, Asy-Syafi‘i, dan Malik…
وذهب الحنابلة إلى نجاسته وحرمة أكله حتى يسقى بماء طاهر يستهلك عين النجاسة، وفي قول آخر لهم هو طاهر.
Sedangkan kalangan Hanabilah berpendapat tentang kenajisannya dan keharaman mengonsumsinya, sampai tanaman tersebut diairi kembali menggunakan air yang suci yang dapat melarutkan sisa-sisa zat najis tersebut. Dan dalam pendapat lain dari mereka dinamakan suci.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply