Perubahan Air pada Anggota Wudhu atau Mandi Tidak Menghilangkan Sifat Mensucikannya



تغير الماء في محل الوضوء أو الغسل، لا يخرجه عن طهوريته

Perubahan Air pada Anggota Wudhu atau Mandi Tidak Menghilangkan Sifat Mensucikannya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Perubahan Air pada Anggota Wudhu atau Mandi Tidak Menghilangkan Sifat Mensucikannya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

قرأت على موقعكم الكريم عددًا من الفتاوى حول الماء المتغير، ومدى إمكانية التطهر به، وقرأت ما ذهب إليه شيخ الإسلام ابن تيمية من أن الماء المتغير بشيء من الطاهرات يصح التطهير به، مستدلاً بعدد من الأدلة من ضمنها: أن النبي صلى الله عليه وسلم اغتسل من قصعة فيها أثر العجين، وأنه استخدم الماء والسدر، وغيرهما من الأدلة. وعلمت أن هناك قولاً آخر، أحسبه رأي الجمهور، مفاده أنه لا يجوز التطهر بهذا الماء المتغير. سؤالي هو: عندما أضع كريمًا، أو زيتـًا على شعري وأتوضأ. من الطبيعي أن يتغير الماء الذي أستخدمه لمسح الرأس، بهذا الكريم أو الزيت. فهل يعد هذا الماء متغيرًا بالكريم أو الزيت الذي أضعه على شعري، ومن ثم لا يجوز التطهر به؟ وإذا كان هذا الماء سيعد ماءً متغيرًا، هل حينئذ يجب غسل الرأس قبل الوضوء لإزالة االكريم أو الزيت الموجود على الشعر؟ أفتوني في هذا الأمر أفادكم الله، وقولوا لي ما هو القول الذي ترجحونه في هذه المسألة. جزاكم الله خيرًا. ومرة أخرى أحبكم في الله.

Saya telah membaca beberapa fatwa di situs Anda yang mulia mengenai air yang berubah sifatnya (al-ma’ al-mutaghayyir) serta sejauh mana keabsahan bersuci dengannya. Saya juga telah membaca pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwasanya air yang berubah disebabkan oleh sesuatu dari zat yang suci adalah sah digunakan untuk bersuci, dengan berlandaskan beberapa dalil, di antaranya: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari wadah besar yang di dalamnya terdapat sisa adonan tepung, dan bahwasanya beliau menggunakan air dan daun bidara, serta dalil-dalil lainnya. Saya pun mengetahui adanya pendapat lain, yang saya kira merupakan pendapat mayoritas ulama (jumhur), yang menyatakan tidak boleh bersuci dengan air yang berubah tersebut. Pertanyaan saya: Ketika saya memakai krim atau minyak pada rambut saya lalu saya berwudhu, secara alami air yang saya gunakan untuk mengusap kepala akan berubah disebabkan oleh krim atau minyak tersebut. Apakah air ini dianggap sebagai air yang telah berubah sifatnya karena krim atau minyak yang saya pakaikan di rambut, sehingga tidak boleh digunakan untuk bersuci? Jika air tersebut dianggap sebagai air yang berubah, apakah pada saat itu saya wajib mencuci kepala terlebih dahulu sebelum berwudhu guna menghilangkan krim atau minyak yang ada pada rambut? Berikanlah fatwa kepada saya dalam urusan ini, semoga Allah memberikan manfaat kepada Anda, dan katakanlah kepada saya pendapat mana yang Anda kuatkan (rajihkan) dalam masalah ini. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Dan sekali lagi, saya mencintai Anda karena Allah.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فما ذكرته من خلاف العلماء في الماء المتغير بطاهر، صحيح، ولكن الفقهاء قد نصوا على أن تغير الماء بطاهر في محل التطهير ليس مانعاً من صحة الطهارة ما دام الماء المصبوب على العضو ماء طهوراً يصح التطهر به.

Maka apa yang Anda sebutkan mengenai silang pendapat para ulama tentang air yang berubah disebabkan zat yang suci adalah benar. Akan tetapi, para fukaha telah menegaskan bahwasanya perubahan air karena zat suci yang terjadi langsung pada tempat pembersihan (anggota tubuh yang dibasuh/diusap) bukanlah penghalang bagi keabsahan bersuci, selama air yang dituangkan ke atas anggota tubuh tersebut adalah air yang suci lagi mensucikan (ma’ thahur) yang sah untuk digunakan bersuci.

وعلى هذا فلو تغير الماء على العضو بما عليه من طاهر كالزيت أو غيره، فإن هذا لا يمنع صحة الطهارة.

Oleh karena itu, seandainya air tersebut berubah sifatnya di atas anggota tubuh disebabkan oleh zat suci yang melekat padanya seperti minyak atau selainnya, maka hal ini sama sekali tidak menghalangi keabsahan bersuci.

قال ابن قدامة في المغني: وَإِذَا كَانَ عَلَى الْعُضْوِ طَاهِرٌ، كَالزَّعْفَرَانِ وَالْعَجِينِ، فَتَغَيَّرَ بِهِ الْمَاءُ وَقْتَ غَسْلِهِ، لَمْ يَمْنَعْ حُصُولَ الطَّهَارَةِ بِهِ؛ لِأَنَّهُ تَغَيُّرٌ فِي مَحَلِّ التَّطْهِيرِ، أَشْبَهَ مَا لَوْ تَغَيَّرَ الْمَاءُ الَّذِي تُزَالُ بِهِ النَّجَاسَةُ فِي مَحَلِّهَا. انتهى.

Ibnu Qudamah berkata di dalam kitab Al-Mughni: “Dan apabila pada anggota tubuh terdapat zat yang suci, seperti za’faran (koma-koma) dan adonan tepung, lalu air berubah karenanya pada saat membasuhnya, maka hal itu tidak menghalangi tercapainya keabsahan bersuci dengannya; karena perubahan tersebut terjadi langsung di tempat pembersihan (fi mahallit tathhir), menyerupai kondisi seandainya air yang digunakan untuk menghilangkan najis berubah sifatnya di tempat najis itu berada.” Selesai kutipan.

وفي كشاف القناع: لو تغير الماء بزعفران في محل الوضوء أو الغسل، فهو طهور ما دام في محل التطهير لمشقة التحرز. انتهى.

Dan disebutkan di dalam kitab Kasysyaf al-Qina‘: “Seandainya air berubah karena za’faran di tempat wudhu atau mandi, maka air tersebut tetap berstatus suci mensucikan (thahur) selama ia berada di tempat pembersihan karena adanya kesulitan untuk menghindarinya (li masyaqqatit taharruz).” Selesai kutipan.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.