لا حرج في الوضوء بالماء المتجمع من الأمطار ما لم يتغير
Tidak Mengapa Berwudhu Menggunakan Air Hujan yang Tergenang Selama Tidak Berubah Sifatnya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tidak Mengapa Berwudhu Menggunakan Air Hujan yang Tergenang Selama Tidak Berubah Sifatnya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
هل يجوز الوضوء بماء الأمطار المتجمع في مكان ترتاده الكلاب بوجود ماء طاهر؟
Apakah diperbolehkan berwudhu menggunakan air hujan yang tergenang di suatu tempat yang sering didatangi oleh anjing, padahal di waktu yang sama ada air suci lainnya?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإنه لا حرج في الوضوء ولا في الغسل من الماء المتجمع من الأمطار، ولو لعقت فيه الكلاب ما لم يتغير من النجاسة ولو وجد ماء غيره.
Sesungguhnya tidak ada halangan (haraj) untuk berwudhu maupun mandi menggunakan air hujan yang tergenang, bahkan sekalipun anjing-anjing menjilat air di tempat tersebut, selama air itu tidak berubah salah satu sifatnya karena najis, dan sekalipun didapatkan air bersih jenis lainnya.
إذ لا فرق بين هذا الماء المتجمع من السيول ولو وردته الكلاب ما دام لم يتغير وبين غيره من المياه، والدليل حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه ولفظه كما في الترمذي:
Sebab, tidak ada perbedaan antara air genangan yang berasal dari aliran hujan ini —walaupun didatangi oleh anjing-anjing selama sifatnya belum berubah— dengan jenis air murni lainnya. Dalilnya adalah hadits Abu Sa‘id al-Khudri radhiallahu ‘anhu yang lafaznya sebagaimana tercantum di dalam riwayat At-Tirmidzi:
قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُلْقَى فِيهَا الْحَيْضُ وَلُحُومُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ
Ditanyakan kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, apakah kami boleh berwudhu dari sumur Budha’ah? Padahal ia adalah sumur yang dilemparkan ke dalamnya kain bekas haid, daging anjing, dan benda-benda yang berbau busuk.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya air itu suci lagi mensucikan, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ahmad)
وهذا في ما بلغ قلتين من الماء، وأما ما كان دون ذلك فمحل خلاف بين أهل العلم، انظره في الفتوى الأخرى هنا.
Dan ketentuan ini berlaku pada volume air yang telah mencapai ukuran dua qulah (al-qullatain). Adapun air yang volumenya kurang dari ukuran tersebut, maka ia merupakan tempat terjadinya silang pendapat (khilaf) di antara ahli ilmu. Silakan merujuk perinciannya pada fatwa lainnya di sini :
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply