لا يستوي الماء الذي خالطه طاهر والمائعات في الحكم
Tidak Sama Hukum Antara Air yang Tercampur Zat Suci dengan Zat Cair Lainnya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tidak Sama Hukum Antara Air yang Tercampur Zat Suci dengan Zat Cair Lainnya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
الحمد لله.. وبعد: يا شيخ، رجح البعض أن الماء المتغير بطاهر كالصابون طهور، ولكن كيف يحكي ابن المنذر الإجماع على أن الماء إذا خالطه طاهر، فغلب على أجزائه حتى زال عنه اسم الماء، كما لو صار، حبراً أو خلا، أو كالقهوة، فلا يجوز التطهر به.. ما هو الفرق بين تغير الماء بالكلية كالكلور وبين ما نقله ابن المنذر وما معنى حتى زال عنه اسم الماء، مع أن الكلور يزول عنه اسم الماء..؟ وشكراً.
Alhamdulillah, amma ba’du. Ya Syaikh, sebagian ulama menguatkan pendapat bahwa air yang berubah karena zat suci seperti sabun statusnya tetap suci mensucikan (thahur). Namun, bagaimana mungkin Ibnu al-Mundzir menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) bahwa air apabila tercampur zat suci, lalu zat tersebut mendominasi bagian-bagian air hingga hilang nama ‘air’ darinya —seperti berubah menjadi tinta, cuka, atau kopi— maka tidak diperbolehkan bersuci dengannya? Lalu, apa perbedaan antara perubahan air secara total seperti yang terkena klorin (kaporit) dengan apa yang dinukil oleh Ibnu al-Mundzir? Serta apa makna dari frasa *”hingga hilang nama ‘air’ darinya”*, padahal air yang terkena klorin pun hilang nama ‘air’-nya (karena jamak disebut air kaporit)? Terima kasih.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فمحل الإجماع الذي حكاه ابن المنذر هو أن غير النبيذ من المائعات غير الماء لا يجوز به وضوء ولا غسل.
Maka letak ijma‘ yang dinukil oleh Ibnu al-Mundzir adalah: Bahwasanya selain perasan buah (an-nabidz), jenis zat cair lainnya (al-ma’i‘at) yang bukan air murni, tidak diperbolehkan dengannya melakukan wudhu maupun mandi wajib.
قال ابن قدامة رحمه الله: فأما غير النبيذ من المائعات غير الماء، كالخل والدهن والمرق واللبن، فلا خلاف بين أهل العلم -في ما نعلم- أنه لا يجوز بها وضوء ولا غسل، لأن الله تعالى أثبت الطهورية للماء بقوله تعالى:
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Adapun selain nabidz dari jenis zat cair yang bukan air murni, seperti cuka, minyak, kuah, dan susu, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara ahli ilmu —sepanjang pengetahuan kami— bahwasanya tidak diperbolehkan dengannya melakukan wudhu maupun mandi wajib. Karena Allah Ta‘ala menetapkan sifat mensucikan itu hanya untuk air, berdasarkan firman-Nya Ta‘ala:”
وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ [الأنفال: ١١]
“…dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu…” [Al-Anfal: 11]
وهذا لا يقع عليه اسم الماء. انتهى.
“Sedangkan perkara-perkara zat cair tersebut tidak lagi masuk ke dalam penamaan air.” Selesai kutipan.
وتغير الماء بالكلور ليس مما ذكر في كلام ابن المنذر وكلام ابن قدامة السابق، بل هو من قسم الماء الذي خالطه طاهر يمكن التحرز منه فغير إحدى صفاته ولم يزل عنه اسم الماء، بل يبقى اسم الماء وإن قيد، كماء الزعفران وماء الحمص وماء الباقلاء.
Dan perubahan air disebabkan klorin bukanlah termasuk apa yang disebutkan dalam perkataan Ibnu al-Mundzir maupun perkataan Ibnu Qudamah di atas. Melainkan, air klorin masuk ke dalam kategori air yang tercampur zat suci yang sebenarnya mungkin untuk dihindari (yumkinu al-taharruzu minhu), lalu zat tersebut mengubah salah satu sifatnya namun **tidak sampai menghilangkan esensi nama ‘air’ secara mutlak**. Nama ‘air’ tetap melekat padanya walaupun terikat (muqayyad), sebagaimana halnya penyebutan air za’faran, air kacang babi (baqilla’), atau air rebusan buncis (himmas).
وهذا النوع فيه خلاف مذكور في الفتاوى الأخرى هنا.
Dan jenis air yang seperti ini memiliki silang pendapat (khilaf) di antara ulama yang telah disebutkan secara rinci pada fatwa-fatwa lainnya di sini :
- Hukum Mandi Menggunakan Air yang Berubah Disebabkan Sabun
- Apakah Najis Dapat Hilang dengan Metode Cuci Kering (Dry Cleaning) sebagai Pengganti Air?
- Pembagian Jenis Air dan Hukum Masing-Masing Bagiannya
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply