الفأرة والنجاسة تقع في الطعام أو الشراب
Tikus dan Najis yang Jatuh ke Dalam Makanan atau Minuman
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tikus dan Najis yang Jatuh ke Dalam Makanan atau Minuman ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
لدي كمية من رب التمر كان معداً للبيع في قدر كبير سعة عشرين لتر تقريبا، سقط في القدر فأر، فهل يجوز إخراج الفأر وبيع كمية الرب؟ أم التخلص من كمية الرب وعدم بيعها؟ وفي حالة علمي بوقوع الفأر في القدر ولكني لم أجده بعد تفتيش القدر هل يجوز بيع كمية الرب؟ أفتونا مأجورين؟
Saya memiliki sejumlah rubb kurma (sirup/selai kental sari kurma) yang disiapkan untuk dijual di dalam sebuah panci besar berkapasitas sekitar dua puluh liter. Seekor tikus jatuh ke dalam panci tersebut. Apakah diperbolehkan mengeluarkan tikus itu lalu menjual seluruh sediaan rubb kurma tersebut? Ataukah saya harus membuang sediaan rubb kurma itu dan tidak menjualnya? Dan dalam kondisi jika saya mengetahui secara pasti jatuhnya tikus ke dalam panci namun saya tidak menemukannya setelah memeriksa panci tersebut, apakah diperbolehkan menjual sediaan rubb kurma tersebut? Berikanlah fatwa kepada kami, semoga Anda mendapatkan pahala.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, and para shahabatnya. Amma ba’du:
فإذا أخرج الفأر حياً فإن الرُّب لا ينجس، أما إذا مات الفأر في الرُّب أو وقع فيه ميتاً، فإنه ينظر في الرب إن كان جامداً لا تسري النجاسة فيه، ألقي الفأر وما يغلب على الظن أنه لامسه من الجامد، والباقي طاهر، لقوله صلى الله عليه وسلم لما سئل عن فأرة وقعت في السمن:
Maka apabila tikus tersebut dikeluarkan dalam keadaan hidup, sesungguhnya rubb kurma itu tidak menjadi najis. Adapun jika tikus tersebut mati di dalam rubb kurma atau jatuh ke dalamnya dalam keadaan sudah menjadi bangkai, maka harus ditinjau kondisi rubb kurma tersebut: Jika kondisinya padat/kental (jamid) sekiranya zat najis tidak dapat menjalar di dalamnya, maka tikus tersebut dibuang beserta bagian padat yang kuat diduga kuat telah bersentuhan dengannya, sedangkan sisa bagian lainnya berstatus suci. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang seekor tikus yang jatuh ke dalam samin (lemak minyak):
أَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا وَكُلُوهُ
“Buanglah tikus itu beserta bagian di sekelilingnya, dan makanlah ia (samin tersebut).” (HR. Bukhari)
قال ابن قدامة : وحد الجامد الذي لا تسري النجاسة على جميعه، هو المتماسك الذي فيه قوة تمنع انتقال أجزاء النجاسة عن الموضع الذي وقعت عليه النجاسة إلى ما سواه.
Ibnu Qudamah berkata: “Dan batasan benda padat (al-jamid) yang mana najis tidak dapat menjalar ke seluruh bagiannya adalah benda yang teksturnya konsisten/padat, yang memiliki daya tahan untuk menghalangi perpindahan partikel-partikel najis dari titik lokasi jatuhnya najis tersebut ke bagian lainnya.”
وإن كان الرب مائعاً تنجس كله، وكذلك إذا وقعت الفأرة فيه فاستهلكت ولم يبق لها أثر. ولا يجوز بيعه في هذه الحال، ولكن يجوز الانتفاع به في غير أكل الآدمي وشربه.
Namun jika rubb kurma tersebut dalam kondisi cair (ma’i‘an), maka ia otomatis menjadi najis secara keseluruhan. Demikian pula hukumnya apabila tikus tersebut jatuh ke dalamnya lalu hancur terlarut (ustuhlikat) hingga tidak tersisa lagi bekas fisiknya. Maka tidak diperbolehkan menjualnya dalam kondisi demikian, akan tetapi masih diperbolehkan memanfaatkannya untuk keperluan selain konsumsi makanan dan minuman manusia.
وانظر الفتوى الأخرى هنا.
Dan silakan merujuk pada fatwa lainnya di sini :
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply