Zamzam dan Al-Kautsar: Makna Serta Keutamaannya



زمزم والكوثر.. معناهما.. وفضلهما

Zamzam dan Al-Kautsar: Makna Serta Keutamaannya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Zamzam dan Al-Kautsar: Makna Serta Keutamaannya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

الحمد لله وبعد.. شيخنا ـ المحترم ـ ما هو الأفضل، ماء زمزم أو ماء الكوثر؟ مع ذكر الأدلة، ولماذا سمي زمزم؟ وكذلك كوثر، وأخيرا، ادع لي يا شيخ وانصحني، والله ولي التوفيق.

Alhamdulillah, amma ba’du. Syaikh kami yang terhormat, manakah yang lebih utama, air Zamzam atau air Al-Kautsar? Mohon sebutkan dalil-dalilnya, dan mengapa dinamakan Zamzam? Begitu pula mengapa dinamakan Al-Kautsar? Terakhir, mohon doakan saya, ya Syaikh, dan berikan nasihat kepada saya. Hanya Allah pemilik taufik.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فقد قال ابن منظور في لسان العرب: والكوثر الكثير من كل شيء. اهـ وقال: ورجل كوثر: كثير العطاء والخير. اهـ. وقال: والكوثر نهر في الجنة يتشعب منه جميع أنهارها، وهو للنبي صلى الله عليه وسلم. اهـ

Sungguh Ibnu Manzhur telah berkata di dalam kitab Lisan al-‘Arab: “Dan Al-Kautsar bermakna sesuatu yang banyak dari segala hal.” Selesai kutipan. Beliau juga berkata: “Dan seorang laki-laki yang kautsar bermakna orang yang banyak memberi dan banyak kebaikannya.” Selesai kutipan. Beliau melanjutkan: “Dan Al-Kautsar adalah nama sungai di surga yang dari sungai itulah bercabang seluruh sungai-sungai surga lainnya, dan sungai itu diperuntukkan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Selesai kutipan.

والذي يظهر مما ذكرناه هنا، ومما هو مذكور في كتب اللغة والتفسير: أن هذا النهر سُمي بالكوثر، لكثرة مائه وخيره، ولذلك قال ابن منظور: فالكثير والكوثر واحد. اهـ

Dan apa yang tampak secara jelas dari apa yang kami sebutkan di sini, serta dari apa yang termaktub di dalam kitab-kitab bahasa dan tafsir adalah: Bahwasanya sungai ini dinamakan Al-Kautsar karena saking melimpahnya air dan kebaikan di dalamnya. Oleh karena itu, Ibnu Manzhur berkata: “Maka kata al-katsir (yang banyak) dan al-kautsar adalah satu makna.” Selesai kutipan.

وأما زمزم، فقد ذكر العلماء أسبابا كثيرة لتسميتها بهذا الاسم، وعللوا كل تسمية بعلة تناسب ما رجحوه، وإنما حصل هذا الخلاف لعدم ورود نص من الشرع بذلك.

Adapun mengenai Zamzam, para ulama telah menyebutkan banyak alasan di balik penamaannya dengan nama tersebut, dan mereka menguraikan argumen (‘illah) pada setiap penamaan tersebut sesuai dengan pendapat yang mereka kuatkan. Terjadinya perbedaan pendapat ini tidak lain karena tidak adanya dalil tekstual (nash) yang eksplisit dari syariat mengenai hal itu.

وقد لخص هذه الأسماء الجمل في حاشيته على منهج الطلاب بقوله: وأصلها من ضرب جبريل الأرض بجناحه حين عطشت هاجر وولدها إسماعيل، لما وضعها إبراهيم عليه الصلاة والسلام هناك بأمر الله تعالى.

Sungguh Al-Jamal telah merangkum nama-nama ini di dalam kitab Hasyiyah ‘ala Manhaj at-Thullab dengan perkataannya: “Dan asal-usul sumur ini bermula dari hentakan sayap Malaikat Jibril ke tanah saat Hajar dan putranya, Ismail, mengalami kehausan yang sangat, yaitu ketika Ibrahim ‘alaihi as-shalaatu was salaam menempatkan keduanya di sana atas perintah Allah Ta‘ala.”

ولما فاض منها الماء على وجه الأرض قالت له هاجر: زم زم، أي اجتمع يا مبارك، فاجتمع فسميت زمزم، ويقال لها: زمازم.

“Dan ketika air memancar dan meluap darinya ke permukaan tanah, Hajar berkata kepadanya: *’Zam zam’*, yang artinya: *’Berkumpullah, wahai air yang penuh berkah!’* Maka air itu pun berkumpul, sehingga sumur tersebut dinamakan Zamzam. Disebutkan pula baginya nama: Zamazim.”

وقيل: لأن الماء حين خرج منها ساح يمينا وشمالا فزم أي منع بجمع التراب حوله، وروي: لولا أمكم هاجر حوطت عليها لملأت أودية مكة.

“Dan dikatakan pula dinamakan demikian karena air tersebut ketika keluar mengalir ke arah kanan dan kiri, lalu ditahan (fuzumma) —artinya dibendung— dengan cara mengumpulkan tanah di sekelilingnya. Dan diriwayatkan dalam hadits: *’Sekiranya bukan karena ibu kalian, Hajar, membendung air tersebut, niscaya air itu akan memenuhi lembah-lembah di Makkah.’*”

وقيل: لأنه سمع منها حينئذ صوتاً يشبه صوت الفرس عند شربها المسمى بذلك، ولها أسماء كثيرة: زمزم، وهزمة جبريل، وسقيا الله إسماعيل، وبركة، وسيدة نافعة، ومصونة، وعونة، وبشرى، وصاحبة، وبرة، وعصمة، وسالمة، وميمونة، ومعذبة، وكافية، وطاهرة، وحرمية، ومرورية، ومؤنسة، وطيبة، وشباعة العيال، وطعام طعم، وشفاء سقم. اهـ.

“Dan pendapat lain mengatakan karena pada saat itu terdengar dari dalam sumur tersebut suara yang menyerupai ringkikan kuda ketika sedang minum, yang mana suara tersebut dinamai dengan istilah itu dalam bahasa Arab. Sumur ini memiliki banyak nama, di antaranya: Zamzam, Hazmatu Jibril (hentakan Jibril), Suqya Allah Isma‘il (air minum dari Allah untuk Ismail), Barakah, Sayyidah Nafi‘ah (pemimpin yang bermanfaat), Mashunah (yang terjaga), ‘Aunah, Busyra, Shahibah, Barrah, ‘Ishmah, Salimah, Maimunah, Mu‘adzdzabah, Kafiyah (yang mencukupi), Thahirah (yang suci), Haramiyah, Marwiyah, Mu’nisah, Thayyingah, Syaba‘ul ‘Iyal (pemuas lapar keluarga), Tha‘amu Thu‘min (makanan yang mengenyangkan), dan Syifa’u Saqamin (penawar penyakit).” Selesai kutipan.

أما عن المقارنة بين ماء زمزم وماء الكوثر، فلا وجه له، لأن ماء زمزم من مياه الدنيا، وماء الكوثر من مياه الجنة، فلا وجه للمقارنة بينهما أصلا.

Adapun mengenai komparasi (perbandingan keutamaan) antara air Zamzam dengan air Al-Kautsar, maka tidak ada jalan untuk membandingkannya. Sebab, air Zamzam termasuk bagian dari air dunia, sedangkan air Al-Kautsar termasuk bagian dari air surga. Maka, sama sekali tidak ada celah untuk membandingkan antara keduanya dari sisi itu.

فقد روى البخاري وغيره من حديث سهل بن سعد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

Sungguh Al-Bukhari dan ulama lainnya telah meriwayatkan dari hadits Sahl bin Sa‘ad bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dan tempat cemeti salah seorang di antara kalian di surga itu sungguh lebih baik daripada dunia beserta apa yang ada di dalamnya.” (HR. Bukhari)

وما أعد الله في الجنة، كما قال الرسول صلى الله عليه وسلم: أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر ذُخْرا، بله ما اطلعتم عليه، ثم قرأ:

Dan mengenai apa yang telah Allah persiapkan di dalam surga, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh berupa apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas di dalam hati manusia sebagai simpanan pahala, terlebih lagi dari apa yang telah diperlihatkan kepada kalian.” Kemudian beliau membaca ayat:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [السجدة: ١٧]

“Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [As-Sajdah: 17] (HR. Bukhari)

وراجع الفتوى رقم: الفتوى الأخرى هنا.

Dan silakan lihat rinciannya pada fatwa lainnya di sini.

أما ما رواه عبد الرزاق في مصنفه عن معمر قال: سقط رجل في زمزم فمات فيها، فأمر ابن عباس أن تُسد عيونها وتنزح، قيل إن فيها عينا قد غلبتنا، قال: إنها من الجنة، فأعطاهم مطرفا من خز، فحشوه فيها، ثم نزح ماؤها حتى لم يبق فيها نتن.

Adapun apa yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq di dalam kitab Al-Mushannaf-nya dari Ma‘mar, ia berkata: “Pernah ada seorang laki-laki jatuh terperosok ke dalam sumur Zamzam lalu ia meninggal dunia di dalamnya. Maka Ibnu ‘Abbas memerintahkan agar mata-mata airnya disumbat terlebih dahulu kemudian dikuras airnya. Seseorang berkata bahwa di dalam sumur tersebut ada sebuah mata air yang aliran airnya mengalahkan kami (sangat deras). Ibnu ‘Abbas berkata: ‘Sesungguhnya mata air itu berasal dari surga.’ Lalu beliau memberikan kepada mereka sehelai kain selendang tebal dari sutra (muthrafan min khazzin), maka mereka pun menyumbatkannya ke mata air tersebut, kemudian airnya dikuras habis hingga tidak tersisa lagi bau busuk di dalamnya.”

فالمقصود هنا تشبيه مائها بماء الجنة من حيث كثرة خيره وعدم انقطاعه، لا أنها من الجنة حقيقة، كما أخبر الرسول صلى الله عليه وسلم عن أشياء أنها من الجنة، قاصدا بذلك كثرة خيرها بركتها، ففي صحيح الجامع أنه قال: نهران من الجنة: النيل والفرات.

Maka yang dimaksud (dari perkataan Ibnu ‘Abbas) di sini adalah bentuk penyerupaan (tasybih) air Zamzam dengan air surga dari sisi melimpahnya kebaikan serta tidak pernah terputus alirannya, bukan berarti air tersebut secara hakiki mengalir langsung dari surga fisik. Hal ini sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai beberapa perkara bahwasanya hal tersebut berasal dari surga, yang mana maksud beliau dengannya adalah melimpahnya kebaikan serta keberkatan perkara tersebut. Di dalam kitab Shahih al-Jami‘ disebutkan bahwasanya beliau bersabda: “Ada dua sungai yang berasal dari surga: Nil dan Eufrat.”

وهذا القول منقول عن بعض العلماء، ومنهم القرطبي رحمه الله. قال ابن حجر في الفتح: وقال -يعني القرطبي – وقيل: إنما أطلق على هذه الأنهار أنها من الجنة تشبيها لها بأنهار الجنة لما فيها من شدة العذوبة والحسن والبركة. اهـ

Dan pendapat ini dinukil dari sebagian ulama, di antaranya adalah Al-Qurthubi rahimahullah. Ibnu Hajar berkata di dalam kitab Fathul Bari: “Beliau berkata —yakni Al-Qurthubi—: Dan dikatakan, sesungguhnya disematkan mutlak atas sungai-sungai ini bahwasanya ia berasal dari surga sebagai bentuk penyerupaan dengan sungai-sungai surga karena karakteristiknya yang memiliki kelezatan rasa (kemurnian) yang luar biasa, keindahan, serta keberkatan.” Selesai kutipan.

ونسأل الله لنا ولك الهداية والسداد والتوفيق والرشاد.

Dan kami memohon kepada Allah bagi kami dan bagi Anda petunjuk, ketepatan di dalam bersikap, taufik, serta kelurusan bimbingan.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.