قالت أنى يكون لي غلام
Dia Berkata: Bagaimana Mungkin Aku Mempunyai Seorang Anak Laki-Laki
Oleh : ‘Afaaf ‘Abdul Wahhaab Shadiiq
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Dia Berkata: Bagaimana Mungkin Aku Mempunyai Seorang Anak Laki-Laki ini masuk dalam Kategori Tadabur Al-Qur’an
أحبتي، هنا سنرى كيف استقبلتِ السيدة مريم البَتُول نَبَأ الأمومة، وذاك الاختبار في أن تكونَ أمًّا لغلام بلا زَوْج، مما لا شَكَّ فيه أنَّ الشُّعور بالأمومة شيء عظيم، وكلُّ امرأةٍ تسعى لهذا الشَّرَف؛ لأنَّه قمَّة غايتها، وقدِ اخْتَصَّ الرحمن الأنثى بِجَعْله وعاءً للنَّسل .
Kekasihku sekalian, di sini kita akan melihat bagaimana Sayyidah Maryam yang perawan (al-batuul) menerima kabar tentang keibuan, serta ujian dalam menjadi seorang ibu bagi anak laki-laki tanpa adanya suami. Tidak diragukan lagi bahwa perasaan keibuan adalah sesuatu yang agung, dan setiap wanita mendambakan kehormatan ini; karena hal itu merupakan puncak dari tujuannya, dan Ar-Rahman telah mengkhususkan kaum wanita dengan menjadikannya wadah bagi garis keturunan.
أما البَتُول مريم فقد كان هذا الأمر عليها عظيمًا؛ يقول رب العالمينَ :
Adapun bagi Maryam yang perawan, perkara ini terasa sangat besar baginya; Tuhan semesta alam berfirman:
قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا [مريم: 20]
“Maryam berkata: ‘Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!’.” [Maryam: 20]
بالرغم منَ الدَّهشة التي انْتَابَتْها، والرَّهْبة مِن وجودِ رجلٍ في مِحْرابها، وخوفها منه، وبالرغم مِن اطْمِئْنانها له بعد أن أَخْبَرَها أنَّه رسولُ ربِّها، وقد جاء لِيَهَبَ لها بأمرٍ منَ الله وقدرته غلامًا زكيًّا، إذ بها تُسارِعُ قائلةً: كيف لأُنثى عَذْراء أن حمل بدون ذَكَر؟!
Terlepas dari rasa heran yang meliputinya, kecemasan akan kehadiran seorang pria di dalam mihrabnya (mihraabihaa), serta rasa takutnya terhadap pria tersebut, dan terlepas dari rasa tenangnya setelah pria itu mengabarkan kepadanya bahwa ia adalah utusan Tuhannya yang datang untuk menganugerahkan seorang anak laki-laki yang suci kepadanya atas perintah dan kuasa Allah; ia pun bergegas bertanya: Bagaimana mungkin seorang wanita yang masih perawan bisa mengandung tanpa adanya laki-laki?!
وبِعِزَّة المرأة وثِقتها حين تكون حجتها قوية، وسيرتها عطرة ونقية، وهى العابدة الناسِكة العَذْراء الطَّاهرة، قالتْ: قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ [مريم: 20]، ولستُ بغيًّا، والبغيُّ: هي المرأة الزَّانية، التي ذهبَ الحياء منها، ولا تبالي إن حملتْ، أو وضَعَتْ سفاحًا، ومعروفة بين الناس بتلك الرَّذِيلة، أمَّا الطَّاهِرة مريم، التي أَحْصَنَتْ فَرْجها، فلمْ يَقْتَرِبْ منها أو حتى يمسها بَشَر، هي التي اتخذتْ من دون الناس حجابًا؛ لتكونَ عبادتها خالِصَة لله؛ لكن رُوح القُدُس يُخْبِرها بقول الله :
Dan dengan kemuliaan seorang wanita serta rasa percaya dirinya ketika hujjahnya kuat, serta rekam jejak hidupnya harum lagi suci—di mana beliau adalah seorang ahli ibadah yang tekun, perawan, lagi suci—beliau berkata: “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki” [Maryam: 20], sedangkan aku bukanlah seorang wanita penzina (baghiyya). Dan al-baghiyy adalah wanita pezina yang telah hilang rasa malu darinya, tidak peduli apakah ia mengandung atau melahirkan dari hubungan gelap (sifaahan), dan ia dikenal di antara manusia dengan maksiat tersebut. Adapun Maryam yang suci, yang senantiasa menjaga kesucian dirinya, tidak pernah ada seorang manusia pun yang mendekatinya atau menyentuhnya. Dialah yang membuat tabir (pemisah) dari manusia agar ibadahnya murni hanya untuk Allah; akan tetapi Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) mengabarkan kepadanya tentang firman Allah:
قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ [مريم: 21]
“Dia (Jibril) berkata: ‘Demikianlah’. Tuhanmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku’.” [Maryam: 21]
نعم؛ أوليس هو الذي أَمْره بين الكاف والنون . وقال جَلَّ في علاه :
Benar; bukankah Dia yang urusan-Nya berada di antara huruf kaf dan nun (yakni firman-Nya *Kun*). Dan Allah Jalla fii ‘Ulaahu berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [الروم: 27]
“Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Ruum: 27]
ذلك لِيَكُونَ هذا الغُلام آيةً للناس، فالذي خَلَق آدم بدون أب، وبدون أمٍّ قادرٌ على أن يخلقَ ولدًا مِن أنثى عَذْراء، بلا زوج، وهو أَهْوَن عليه، وقد كان :
Hal tersebut agar anak laki-laki ini menjadi tanda kekuasaan (aayah) bagi manusia. Maka Dzat yang telah menciptakan Adam tanpa ayah dan tanpa ibu, tentu Mahakuasa untuk menciptakan seorang anak dari wanita perawan tanpa adanya suami, dan itu sangat mudah bagi-Nya. Dan telah terjadi:
فَنَفَخْنَا فِيهَا مِنْ رُوحِنَا [الأنبياء: 91]
“Maka Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami.” [Al-Anbiyaa’: 91]
والرُّوح من أمْرِ رَبِّي؛ فأصْبَح الذي هو كلمة منَ الله وروح منه في بطنها شيئًا مذكورًا بِقُدْرة اللهِ الخالقِ، وكانتِ البُشْرَى؛ قال اللَّهُ تعالى :
Dan ruh itu termasuk urusan Tuhanku; maka menjadilah dia yang merupakan kalimat dari Allah dan ruh dari-Nya berada di dalam perutnya sebagai sesuatu yang nyata dengan kuasa Allah Sang Pencipta, dan datanglah kabar gembira tersebut; Allah Ta‘aala berfirman:
إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ [آل عمران: 45]
“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya’.” [Aali ‘Imraan: 45]
نعم فَرِحَتْ مريمُ في نَفْسِها بهذه البُشْرى وهذا الغلام، الذي سَيَرِثُ منها الدِّين والحكمة، ويدعو الناس لِعِبَادة الله وتوحيده؛ ولكنها خَشِيَتْ مَن حولها والناس، وكيف سَيَتَقَبَّلُون هذا الواقع؟
Benar, Maryam merasa bahagia dalam dirinya atas kabar gembira ini dan anak laki-laki ini, yang akan mewarisi agama dan hikmah darinya, serta menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah dan mentauhidkan-Nya; akan tetapi beliau merasa khawatir terhadap orang-orang di sekitarnya serta manusia, bagaimana mereka akan menerima kenyataan ini?
أرقُّ تحياتي،،،
Salam hangat terdalam,,,
والله أعلم .
Wallahu a’lam.
Sumber : Alukah
Leave a Reply