حكم الانضمام إلى الأحزاب السياسية
Hukum Bergabung dengan Partai Politik
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Bergabung dengan Partai Politik ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Tsaqafah Islamiyyah
السؤال:
Pertanyaan:
ما هو الحكم في انضمامي لحزب من الأحزاب السياسية في بلدي مع أني أنوي أن أحاول كل جهدي لتحقيق هدفي وذلك من خلال انضمامي للحزب السياسي وهو تحويل اقتصاد بلدي لنظام إسلامي وإن شاء الله جعل بلدي أنموذجا للدول الإسلامية؟
Apakah hukum mengenai keikutsertaan saya bergabung dengan salah satu partai politik di negara saya? Padahal saya berniat untuk berusaha sekuat tenaga demi mewujudkan cita-cita saya melalui jalur masuk ke partai politik tersebut, yaitu mengubah sistem perekonomian negara saya menjadi sistem islami, serta —insya Allah— menjadikan negara saya sebagai percontohan bagi negara-negara Islam lainnya?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن حكم الانضمام إلى حزب أو جماعة ينبني على نوع منهج ومجال نشاط ذلك الحزب أو تلك الجماعة.
Sesungguhnya hukum bergabung (afiliasi) ke dalam suatu partai politik ataupun organisasi kemasyarakatan itu dibangun berdasarkan jenis manhaj (landasan ideologi) serta ruang lingkup aktivitas gerakan dari partai atau organisasi tersebut.
فإن كان الحزب علمانياً أو شيوعياً أو قومياً….. يعادي الإسلام ويوالي أعداءه، فإنه لا يجوز الانضمام إليه، ولا التعاون معه لأنه يعد من التعاون على الإثم والعدوان الذي نهى الله عنه في كتابه، فقال تعالى:
Apabila partai tersebut bercorak sekuler, komunis, nasionalisme ashabiyah (chauvinistik), atau sejenisnya, yang mana asasnya memusuhi ajaran Islam serta memberikan loyalitas (wala’) kepada musuh-musuh Islam, maka **tidak diperbolehkan (haram) bergabung ke dalamnya** dan tidak boleh pula bekerja sama dengannya. Hal itu dikarenakan tindakan tersebut terhitung sebagai bentuk tolong-menolong di dalam perbuatan dosa dan permusuhan yang telah dilarang oleh Allah di dalam kitab-Nya. Allah Ta‘ala berfirman:
وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ [المائدة: ٢]
“…dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” [Al-Ma’idah: 2]
أما إذا كان الحزب قائماً على الحق والعدل متمسكاً بكتاب الله تعالى وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وهدي السلف الصالح، ويسعى لنفع الأمة وتعليم الناس، وإقامة الإسلام وتطبيقه في مجالات الحياة، وجمع كلمة المسلمين.
Adapun jika partai atau kelompok tersebut tegak di atas kebenaran dan keadilan, berkomitmen kuat memegang teguh Al-Kitab, Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta petunjuk ulama salaf terdahulu (shalih), ditambah gerakannya bertujuan membawa kemanfaatan bagi umat, mengedukasi masyarakat, menegakkan serta menerapkan syariat Islam dalam berbagai sendi kehidupan, serta menyatukan barisan kaum muslimin;
فإن التعاون معه من الواجبات التي أمر الله بها في محكم كتابه، وعلى لسان رسوله صلى الله عليه وسلم حيث يقول الله تعالى:
Maka tindakan bekerja sama dengannya termasuk bagian dari kewajiban-kewajiban (fardhu kifayah) yang diperintahkan oleh Allah di dalam kitab-Nya yang kokoh, serta melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta‘ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى [المائدة: ٢]
“…dan tolong-menonlonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…” [Al-Ma’idah: 2]
ويقول النبي صلى الله عليه وسلم: عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد….. رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح .
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wajib atas kalian untuk berpegang teguh pada jamaah dan jauhilah oleh kalian perpecahan. Karena sesungguhnya setan itu bersama orang yang menyendiri, dan ia akan menjauh dari dua orang…” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkata bahwa hadits ini berstatus hasan shahih.
وأما عن هدفك فهو هدف إسلامي نبيل ونسأل الله تعالى أن يعينك على تحقيقه، ولكن الغاية لا تبرر الوسيلة، وراجع الفتوى رقم: الفتوى الأخرى هنا.
Adapun mengenai cita-cita yang engkau miliki, maka itu merupakan sebuah target islami yang sangat mulia, dan kami memohon kepada Allah Ta‘ala agar sudi menolongmu di dalam mewujudkannya. Akan tetapi, perlu diingat sebuah kaidah bahwa **tujuan mulia tidak dapat membenarkan segala macam cara** (al-ghayah la tubarriru al-wasilah). Silakan merujuk ulasannya pada fatwa lainnya di sini :
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply