حكم الدخول في الانتخابات بنية تحقيق المصلحة الشرعية
Hukum Ikut Serta dalam Pemilu dengan Niat Mewujudkan Kemaslahatan Syariat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Ikut Serta dalam Pemilu dengan Niat Mewujudkan Kemaslahatan Syariat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Tsaqafah Islamiyyah
السؤال:
Pertanyaan:
ما حكم الانتخابات التي تقام في البلدان الآن مع ذكر الدليل من الكتاب والسنة الصحيحة؟ وما حكم انتخاب غير المسلم مع وجود مرشح مسلم؟
Apakah hukum pemilihan umum (pemilu) yang diselenggarakan di negara-negara pada masa sekarang dengan menyebutkan dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih? Serta apakah hukum memilih kandidat non-muslim padahal di waktu yang sama terdapat kandidat dari kalangan muslim?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba’du:
الانتخابات النيابية والدخول فيها انقسم حولها العلماء في العصر الحاضر واختلفت آراؤهم فيها، فمنهم من يقطع بعدم جوازها وأن الدخول فيها لا يصح في ظل الوضع الراهن، ومن قائل إنه يتعين على المسلمين دخولها وعليهم ألا يضيعوا ذلك ومنهم من يقول إن ذلك جائز بشروط.
Pemilu parlemen/legislatif (al-intikhabat an-niyabiyyah) serta keterlibatan di dalamnya merupakan perkara yang memicu perpecahan pandangan di kalangan ulama pada masa kontemporer sekarang ini. Pendapat mereka saling bersilang; sebagian ulama memastikan hukum ketidakbolehannya (haram) secara mutlak dan memandang keikutsertaan di dalamnya tidak sah di bawah bayang-bayang realitas sistem saat ini. Sebagian lain menyatakan bahwa kaum muslimin justru wajib (fardhu kifayah) untuk terjun di dalamnya dan tidak boleh menyia-nyiakan momentum tersebut. Sementara sebagian ulama lainnya mengambil jalan tengah bahwa perkara tersebut diperbolehkan namun terikat oleh syarat-syarat tertentu.
ولتجلية الأمر الصواب من هذه الآراء ـ فيما نحسب ـ ننقل كلاماً لشيخ الإسلام ابن تيمية، قال رحمه الله: ” يجب أن يعلم أن ولاية الناس من أعظم واجبات الدين بل لا قيام للدين ولا الدنيا إلا بها..إلى أن قال: فالواجب اتخاذ الإمارة دينا وقربة يتقرب بها إلى الله”.
Dan demi menyingkap pandangan yang paling tepat dari sekian opsi pendapat ini —menurut penilaian kami— maka kami akan menukil sebuah ulasan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau memaparkan: “Wajib untuk diketahui bahwasanya mengurusi otoritas kepemimpinan manusia (wilayatun nas) termasuk di antara kewajiban agama yang paling besar. Bahkan, tidak akan tegak urusan agama maupun dunia melainkan dengannya…” Hingga perkataan beliau: “Maka yang wajib adalah menjadikan institusi kepemimpinan (al-imarah) ini sebagai bagian dari pengamalan agama dan bentuk taat (qurbah) untuk mendekatkan diri kepada Allah.”
وقال رحمه الله: “ولما غلب على كثير من ولاة الأمور إرادة المال والشرف وصاروا بمعزل عن حقيقة الإيمان في ولايتهم رأى كثير من الناس أن الإمارة تنافي الإيمان وكمال الدين، ثم منهم من غلب الدين وأعرض عما لا يتم الدين إلا به، ومنهم من رأى حاجته إلى ذلك فأخذه معرضاً عن الدين لاعتقاده أنه مناف لذلك وصار الدين عنده في محل الرحمة والذل لا في محل العلو والعز، وهاتان السبيلان الفاسدتان سبيل من انتسب إلى الدين ولم يكمله بما يحتاج إليه من السلطان والجهاد والمال، وسبيل من أقبل على السلطان والمال والحرب ولم يقصد بذلك إقامة الدين هما سبيل المغضوب عليهم والضالين.
Beliau rahimahullah melanjutkan: “Dan tatkala ambisi menumpuk harta serta mengejar kehormatan telah mendominasi mayoritas para penguasa (wulatul umur), sehingga mereka terisolasi dari hakikat keimanan di dalam kepemimpinannya, mulailah banyak orang memandang bahwa kekuasaan itu bertolak belakang dengan iman dan kesempurnaan agama. Kemudian di antara mereka, ada kelompok yang fanatik agama lalu berpaling total dari instrumen kekuasaan —padahal agama tidak akan bisa tegak sempurna melainkan dengannya—. Di sisi lain, ada kelompok yang melihat besarnya kebutuhan mereka terhadap kekuasaan tersebut lalu merebutnya dengan mencampakkan agama, karena meyakini kekuasaan memang kontradiktif dengan agama; akibatnya agama di mata mereka berada pada posisi yang inferior (lemah/terhina) bukan berada pada posisi yang superior (tinggi/mulia). Dua jalan yang rusak ini —yaitu jalannya orang yang menisbatkan diri pada agama namun tidak menyempurnakannya dengan instrumen kekuasaan (as-sulthan), jihad, dan logistik harta; serta jalannya orang yang rakus pada kekuasaan, harta, dan perang tanpa meniatkannya demi menegakkan agama— masing-masing merupakan representasi dari jalannya kaum yang dimurkai dan kaum yang sesat.”
إلى أن قال رحمه الله: “فالواجب على المسلم أن يجتهد في ذلك حسب الوسع فمن وُليِّ ولاية يقصد بها طاعة الله وإقامة ما يمكنه من دينه ومصالح المسلمين وأقام فيها ما يمكنه من الواجبات واجتناب ما يمكنه من المحرمات لا يؤاخذ بما يعجز عنه، فإن تولية الأبرار خير للأمة من تولية الفجار، ومن كان عاجزاً عن إقامة الدين بالسلطان والجهاد ففعل ما يقدر عليه من الخير لم يكلف ما يعجز عنه فإن قوام الدين بالكتاب الهادي والحديد الناصر” انتهى كلامه. انظر مجموع الفتاوى ج٢٨ ص ٣٩٠-٣٩٦.
Hingga beliau berkata: “Maka kewajiban atas seorang muslim adalah berijtihad di dalam urusan tersebut sesuai batas kemampuannya (hasabal wus‘i). Barang siapa yang mengemban suatu otoritas kepemimpinan dengan niat menaati Allah serta menegakkan apa yang memungkinkannya dari perkara agama dan kemaslahatan kaum muslimin, lalu ia menjalankan kewajiban yang mampu ia pikul serta menjauhi keharaman yang mampu ia hindari, maka ia tidak akan dihukum atas apa yang ia tidak mampu (lemah) atasnya. Sebab, **terpilihnya para pemimpin yang baik (al-abrar) itu jauh lebih membawa maslahat bagi umat daripada berkuasanya para pendosa (al-fujjar)**. Dan barang siapa yang lemah untuk menegakkan agama lewat jalur kekuasaan penuh dan jihad, lalu ia melakukan kebaikan apa saja yang mampu ia jangkau, maka ia tidak dibebani perkara yang di luar batas kuasanya. Karena sesungguhnya tegaknya agama ini ditopang oleh Kitab yang memberi petunjuk (Al-Qur’an) serta besi yang menolong (kekuatan fisik/militer).” Selesai kutipan dari kitab Majmu‘ al-Fatawa, Juz 28, hal. 390-396.
وقد طلب يوسف الصديق عليه السلام من ملك مصر أن يجعله على خزائن الأرض لما واتته الفرصة فاهتبلها ولم يهملها لأنه سيكون في موقع يستطيع حسب طاقته أن يقيم العدل ويأمر به قال تعالى:
Dan sungguh Nabi Yusuf As-Siddiq ‘alaihi as-salaam telah meminta kepada Raja Mesir agar menempatkan dirinya untuk mengurusi perbendaharaan negara ketika kesempatan tersebut terbuka di hadapannya. Beliau segera memanfaatkan momentum tersebut dan tidak menyia-nyiakannya, karena beliau mengetahui bahwa dengan berada di pos jabatan tersebut, beliau akan mampu menegakkan keadilan serta memerintahkannya sesuai batas kemampuannya. Allah Ta‘ala berfirman:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ [يوسف: ٥٥]
Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendahara negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” [Yusuf: 55]
ومعلوم أن يوسف طلب ولاية من نظام كافر على الأصح.
Dan telah makruf berdasarkan pendapat yang paling sahih (di antara para mufasir) bahwasanya Nabi Yusuf meminta otoritas jabatan tersebut di bawah naungan sebuah sistem pemerintahan yang belum beriman (sistem kafir).
وقال الشيخ عبد الرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله في تفسيره “تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان”. عند قوله تعالى: {قالوا يا شعيب ما نفقه كثيرا مما تقول وإنا لنراك فينا ضعيفاً ولولا رهطك لرجمناك وما أنت علينا بعزيز} [هود:٩١] قال رحمه الله في الفوائد المتحصلة من هذه الآية العظيمة ومنها: أن الله يدفع عن المؤمنين بأسباب كثيرة، وقد يعلمون بعضها وقد لا يعلمون شيئاً منها وربما دفع عنهم بسبب قبيلتهم وأهل وطنهم الكفار كما دفع الله عن شعيب رجمة قومه بسبب رهطه، وأن هذه الروابط التي يحصل بها الدفع عن الإسلام والمسلمين لا بأس بالسعي فيها بل ربما تعين ذلك لأن الإصلاح مطلوب حسب القدرة والإمكان .
Dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah memaparkan di dalam kitab tafsirnya, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, saat mengulas firman Allah Ta‘ala: *”Mereka berkata, ‘Wahai Syuaib, kami tidak banyak mengerti apa yang engkau katakan itu, sedang kami benar-benar melihat engkau seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah merajam engkau, sedang engkau pun bukan seorang yang berwibawa di lingkungan kami.'”* [Hood: 91]. Beliau berkata mengenai faidah-faidah hukum yang dapat dipetik dari ayat yang agung ini: “Di antaranya: Bahwasanya Allah menolak keburukan dari orang-orang beriman melalui perantara sebab yang sangat banyak; adakalanya mereka mengetahui sebagian sebab tersebut dan adakalanya mereka tidak menyadarinya sama sekali. Terkadang, perlindungan itu datang melalui perantara faktor kabilah (suku) maupun sesama warga negara mereka yang kafir, sebagaimana Allah melindungi Nabi Syuaib dari tindakan rajam kaumnya disebabkan faktor eksistensi keluarganya (rahthuhu). Maka, segala bentuk simpul ikatan (seperti konstitusi/hukum negara) yang dengannya dapat memicu perlindungan bagi Islam dan kaum muslimin, adalah **tidak mengapa (boleh) untuk diupayakan**, bahkan adakalanya perkara itu hukumnya menjadi wajib karena gerakan perbaikan (al-ishlah) itu dituntut sesuai kadar batas kemampuan dan potensi yang ada.”
جاء في كتاب “معوقات تطبيق الشريعة الإسلامية” للشيخ مناع القطان رحمه الله حيث ذكر فتوى لسماحة الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله رداً على سؤال: عن شرعية الترشيح لمجلس الشعب وحكم الإسلام في استخراج بطاقة انتخابات بنية انتخاب الدعاة والاخوة المتدينين لدخول المجلس فأجاب رحمه الله قائلاً:
Disebutkan di dalam kitab Mu‘awwiqat Tathbiq as-Syari‘ah al-Islamiyyah karya Syaikh Manna‘ al-Qatthan rahimahullah, di mana beliau menukil sebuah fatwa dari Samahatus Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah untuk menjawab pertanyaan mengenai legitimasi mencalonkan diri (at-tarsyih) ke Majelis Rakyat (Parlemen) serta hukum Islam dalam membuat kartu pemilu dengan niat memilih para dai dan ikhwan yang religius agar dapat masuk ke parlemen. Maka beliau menjawab:
إن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى” فلا حرج في الالتحاق بمجلس الشعب (البرلمان) إذا كان المقصود من ذلك تأييد الحق وعدم الموافقة على الباطل لما في ذلك من نصر الحق والانضمام إلى الدعاة إلى الله، كما أنه لا حرج كذلك في استخراج البطاقة التي يستعان بها على انتخاب الدعاة الصالحين وتأييد الحق وأهله والله الموفق. ونسأله سبحانه وتعالى أن يوفق المسلمين لما فيه صلاحهم.
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: *’Sesungguhnya amal perbuatan itu sah berdasarkan niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.’* Maka tidak ada halangan (boleh) untuk bergabung ke dalam Majelis Rakyat (Parlemen) apabila target tujuan dari tindakan tersebut adalah untuk membela kebenaran serta menolak persetujuan terhadap kebatilan, karena di dalam aktivitas tersebut terkandung unsur menolong kebenaran dan menggabungkan barisan bersama para dai di jalan Allah. Sebagaimana tidak ada halangan pula di dalam membuat kartu pemilu yang mana ia dijadikan sarana bantu untuk memilih para dai yang saleh serta menyokong kebenaran beserta para pemegangnya. Dan Allah adalah pemilik taufik. Kita memohon kepada-Nya Subhaanahu wa Ta’ala agar sudi memberikan taufik kepada kaum muslimin menuju apa yang mendatangkan kemaslahatan bagi mereka.”
أما انتخاب غير المسلمين فلا يجوز، لأن ذلك يعني منه الثقة والولاء، وقد قال الله تعالى:
“Adapun memilih kandidat dari kalangan non-muslim, maka **hukumnya tidak diperbolehkan (haram)**. Hal itu karena tindakan memilih tersebut mengandung unsur pemberian kepercayaan (mandat) serta loyalitas (al-wala’) kepadanya. Padahal Allah Ta‘ala telah berfirman:”
يَا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذينَ اتَّخَذُوا دينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنينَ [المائدة: ٥٧]
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil menjadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu وdan (orang-orang) kafir. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” [Al-Ma’idah: 57]
والذي يجب عليكم أن تختاروا وتنتخبوا أكثر المرشحين المسلمين جدارة وكفاءة، ومن يتوسم فيه أن يحقق للمسلمين مصالح أكثر، ويدفع عنهم ما استطاع دفعه من المضار، والمسلم وإن كان فيه ما فيه من قصور فهو خير من غير المسلم وإن بدا ناصحاً قال تعالى:
“Dan perkara yang wajib atas kalian adalah memilih dan menjatuhkan suara pada kandidat muslim yang paling memiliki kelayakan (kapabilitas) dan kompetensi (akuntabilitas), serta sosok yang dirasa kuat dapat mewujudkan kemaslahatan yang lebih banyak bagi kaum muslimin, sekaligus mampu membendung marabahaya dari mereka sekuat kemampuannya. Karena seorang muslim —bagaimanapun adanya kekurangan/kelemahan yang melekat pada dirinya— tetaplah jauh lebih baik daripada orang non-muslim sekalipun orang non-muslim tersebut menampakkan citra diri sebagai pemberi nasihat (simpatik). Allah Ta‘ala berfirman:”
وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّفْ مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ [البقرة: ٢٢١]
“…Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu…” [Al-Baqarah: 221]
كما أن انتخاب غير المسلم وتقديمه على المسلم هو من جعل السبيل للكافرين على المؤمنين وهو منهي عنه، لقوله سبحانه وتعالى:
“Ditambah lagi bahwasanya tindakan memilih non-muslim serta mendahulukannya di atas kandidat muslim termasuk ke dalam perbuatan memberikan jalan bagi orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman, yang mana perkara ini dilarang keras, berdasarkan firman-Nya Subhaanahu wa Ta’ala:”
وَلَن يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا [النساء: ١٤١]
“…dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” [Al-Nisa’: 141]
لكن هذه المسألة من موارد الاجتهاد، فقد تتحقق المصلحة الشرعية في بلد من دخول البرلمانات، ولا تتحقق في بلد آخر فعلى المسلمين في كل بلد الموازنة بين المصالح والمفاسد، وترجيح ما يرونه مناسباً.
Akan tetapi, masalah (keterlibatan pemilu) ini termasuk ke dalam wilayah ijtihad (mawarid al-ijtihad). Adakalanya kemaslahatan syariat dapat terwujud nyata di suatu negara melalui jalur masuk ke parlemen, namun tidak dapat terwujud di negara yang lain. Maka, wajib bagi kaum muslimin di setiap masing-masing negara untuk melakukan komparasi timbangan (neraca) antara kemaslahatan (al-mashalih) dan kerusakan (al-mafasid), kemudian menguatkan (merajihkan) apa yang mereka pandang paling maslahat dan kondusif.
ولا يجوز أن يتخذ الخلاف في حكم الانتخابات، ودخول البرلمانات خلافاً في الأصول، فإنها من المسائل الاجتهادية التي ليس في منعها نص قطعي حتى نجعلها من مسائل الأصول مع تفريقنا بين هذه المسألة، وبين حكم النظام الديمقراطي والتعددية الحزبية، فإن هذا النظام لا شك فيه ولا ريب أنه نظام غير إسلامي ومباين لدين الله، ولكن دخول البرلمانات في مثل هذا الوضع يتوقف على جلب المصلحة، ودفع المفسدة كما سبق بيانه.
Dan tidak diperbolehkan menjadikan silang pendapat mengenai hukum pemilu serta masuk parlemen ini sebagai bentuk perselisihan di dalam masalah fondasi agama (khilaf fil ushul). Sebab, ia murni bagian dari masalah-masalah ijtihadiah yang tidak memiliki dalil tekstual yang mutlak (nash qath‘i) di dalam pelarangannya, sehingga tidak boleh kita seret ke dalam ranah usuluddin. Hal ini wajib dipahami bersamaan dengan pemisahan tegas dari kami antara masalah keterlibatan parlemen ini dengan status hukum sistem demokrasi serta pluralisme partai (at-ta‘addudiyyah al-hizbiyyah). Jika yang dibahas adalah esensi sistem demokrasinya, maka tidak ada keraguan dan kebimbangan sedikit pun bahwasanya ia merupakan sistem non-islami yang bertolak belakang dengan agama Allah. Namun, keputusan memasuki parlemen di dalam pusaran situasi seperti ini status hukumnya digantungkan pada pertimbangan menarik kemaslahatan (jalbul mashlahah) serta membendung kerusakan (dar’ul mfsadah) sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply