Hukum Menerima Dana Bantuan Sosial dari Negara Non-Muslim



حكم قبول معونة الدول غير المسلمة

Hukum Menerima Dana Bantuan Sosial dari Negara Non-Muslim

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Menerima Dana Bantuan Sosial dari Negara Non-Muslim ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Tsaqafah Islamiyyah

السؤال:

Pertanyaan:

أنا مسلم عربى أمريكى الجنسيه وتقدم الحكومة الأمريكية شهرياً مبلغا من المال لكل من يحمل الجنسية ولكن أبي يرفض أخذ هذا المال باعتباره مالاً حراماً لأن التعامل المالي في أمريكا كله ربوي مع العلم أننا لا نعلم مصدر هذه الأموال ولكن فقط هي إعانة شهرية تقدمها الحكومة الأمريكية لكل من يحمل الجنسية فهل يجوز أخذ هذا المال للمنفعة الشخصية وإن كان لا يجوز فهل يجوز أخذه والتصدق به على المسلمين بدلا من تركه للكفار، أفتونا بأسرع ما يمكن؟ وجزاكم الله خيراً……

Saya adalah seorang muslim keturunan Arab berkewarganegaraan Amerika Serikat. Pemerintah Amerika memberikan dana tunjangan bulanan kepada setiap orang yang memegang kewarganegaraan di sana. Akan tetapi, ayah saya menolak untuk mengambil uang tersebut karena beliau menganggapnya sebagai harta yang haram, dengan alasan bahwa seluruh sistem transaksi keuangan di Amerika berbasis riba. Perlu diketahui bahwa kami tidak mengetahui secara pasti dari mana sumber kas dana tersebut, melainkan ia murni bantuan bulanan (subsidi sosial) yang disalurkan pemerintah Amerika bagi warga negaranya. Apakah diperbolehkan mengambil uang tersebut untuk kemanfaatan pribadi? Dan jika seandainya tidak diperbolehkan, apakah boleh tetap diambil lalu disedekahkan kepada kaum muslimin daripada membiarkan dana tersebut mengendap bagi orang kafir? Berikanlah fatwa kepada kami secepat mungkin, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فلا حرج في الاستفادة من تلك المعونة المقدمة من طرف الدولة، لمن استحقها حسب شروط الاستحقاق عند الدولة.

Maka tidak ada halangan (la haraja) untuk memanfaatkan dana bantuan yang diberikan oleh pihak negara tersebut, bagi siapa saja yang memang berhak menerimanya sesuai dengan regulasi dan kriteria kelayakan yang ditetapkan oleh negara.

ولا التفات إلى كون بعض أموال الدولة مكتسبا من وجه حرام؛ إذ لها كذلك أموال أخرى مكتسبة من غير ذلك الوجه، وبهذا تكون مثل صاحب المال المختلط.

Dan tidak perlu menoleh (menghiraukan) pada status bahwasanya sebagian kas kekayaan negara diperoleh dari jalur yang haram (seperti pajak riba). Karena bagaimanapun, negara tersebut juga memiliki sumber pemasukan kas lainnya yang diperoleh dari jalur selain itu. Dengan demikian, posisi hukum kas negara ini adalah menyerupai kepemilikan seseorang yang memiliki harta campuran antara yang halal dan yang haram (al-mal al-mukhtalith).

وقد نص جمع من أهل العلم على جواز قبول هديته، والتعامل معه في البيع والشراء، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يقبل هدايا الملوك ويبايع تجار اليهود وغيرهم من المشركين، ولا شك أن أموالهم مخلوط حلالها بالحرام.

Sungguh sekelompok dari ahli ilmu telah menegaskan tentang kebolehan menerima hadiah dari pemilik harta campuran, serta diperbolehkan berinteraksi dengannya dalam urusan jual beli. Hal ini dikarenakan dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkenan menerima hadiah-hadiah dari para raja (non-muslim) serta melakukan transaksi niaga dengan para pedagang Yahudi maupun kaum musyrik lainnya, yang mana tidak diragukan lagi bahwa harta kekayaan mereka pun bercampur baur antara perkara yang halal dengan yang haram.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.