Istilah ‘Agama-Agama Langit’ (Agama Samawi) Adalah Ungkapan yang Kurang Tepat



تعبير الديانات السماوية غير دقيق

Istilah ‘Agama-Agama Langit’ (Agama Samawi) Adalah Ungkapan yang Kurang Tepat

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Istilah ‘Agama-Agama Langit’ (Agama Samawi) Adalah Ungkapan yang Kurang Tepat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Tsaqafah Islamiyyah

السؤال:

Pertanyaan:

ما هي الديانات السماوية؟ مع ذكر دليل من القرآن على ذلك.

Apakah yang dimaksud dengan istilah agama-agama langit (agama samawi)? Mohon sertakan dalil dari Al-Qur’an mengenai hal tersebut.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فالدين الذي ارتضاه الله تعالى دين واحد هو الإسلام، كما قال عز وجل:

Maka ketahuilah bahwasanya agama yang diridai oleh Allah Ta‘ala itu hanyalah satu agama saja, yaitu Agama Islam. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ [آل عمران: ١٩]

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” [Ali ‘Imran: 19]

وقال سبحانه:

Dan Dia Subhaanahu berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران: ٨٥]

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]

وهذا دين يقوم على توحيد الله تعالى، والإيمان بأنبيائه وملائكته ورسله واليوم الآخر، وهو دين نوح، وإبراهيم وموسى ومحمد صلى الله عليه وسلم وسائر الأنبياء.

Dan agama tunggal ini tegak di atas fondasi mentauhidkan Allah Ta‘ala, serta beriman kepada para nabi-Nya, para malaikat-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir. Islam inilah yang menjadi agamanya Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta seluruh nabi-nabi lainnya.

وقد صرح القرآن بأن دين هؤلاء الأنبياء جميعاً هو الإسلام، قال الله تعالى عن نوحٍ عليه السلام:

Sungguh Al-Qur’an telah menyatakan secara eksplisit (tegas) bahwasanya agama para nabi tersebut keseluruhannya adalah Islam. Allah Ta‘ala berfirman mengenai perkataan Nabi Nuh ‘alaihi as-salaam:

فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ [يونس: ٧٢]

“Jika kamu berpaling, aku tidak meminta upah sedikitpun darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah semata, dan aku diperintah agar termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (muslimin).” [Yunus: 72]

وقال عن إبراهيم عليه السلام:

Dan Dia berfirman mengenai Nabi Ibrahim ‘alaihi as-salaam:

مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ [الحج: ٧٨]

“…(Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu…” [Al-Hajj: 78]

وقال عن موسى عليه السلام:

Dan Dia berfirman mengenai Nabi Musa ‘alaihi as-salaam:

إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ [يونس: ٨٤]

Berkata Musa: “Wahai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang-orang yang berserah diri (muslimin).” [Yunus: 84]

ومثل هذا عن يعقوب ويوسف عليهما السلام.

Dan redaksi senada yang menegaskan status kemusliman ini juga berlaku pada kisah Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf ‘alaihimas salaam.

والخلاف الواقع بين الأنبياء إنما هو في تفاصيل الشرائع، ففي شريعة موسى عليه السلام ما هو محرم قد أبيح في شريعة عيسى ومحمد صلوات الله وسلامه عليهم، ونحو هذا، كما قال سبحانه:

Adapun wilayah perbedaan yang terjadi di antara para nabi tidak lain hanyalah berada pada tataran rincian hukum amaliah praktis (tafashil as-syara’i‘). Maka di dalam syariat Nabi Musa ‘alaihi as-salaam ada perkara yang hukumnya diharamkan, namun kemudian perkara tersebut dihalalkan di dalam koridor syariat Nabi Isa maupun syariat Nabi Muhammad —semoga shalat dan salam Allah senantiasa tercurah atas mereka—. Hal ini sebagaimana firman-Nya Subhaanahu:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا [المائدة: ٤٨]

“…Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan (syariat) dan jalan yang terang (manhaj)…” [Al-Ma’idah: 48]

وبهذا نرى أن هذا التعبير الأديان، أو الديانات السماوية تعبير غير دقيق، ولو قيل: الشرائع الإلهية، أو السماوية لكان أولى.

Melalui paparan ini, kita dapat melihat secara jelas bahwasanya penggunaan istilah plural ‘agama-agama’ atau istilah ‘Agama-Agama Samawi/Langit’ merupakan ungkapan yang kurang tepat (tidak akurat). Dan seandainya ungkapan tersebut diganti dengan istilah: “Syariat-Syariat Ilahi” (as-syara’i‘ al-ilahiyyah) atau “Syariat-Syariat Samawi”, maka hal itu tentu jauh lebih utama dan tepat secara ilmiah.

وينبغي أن يكون معلوماً أن اليهودية والنصرانية الموجودتان الآن محرفتان، ولم تكن شريعة موسى عليه السلام تسمى اليهودية، ولا كانت شريعة عيسى عليه السلام تسمى النصرانية. وأما دينهما، فهو الإسلام كما سبق، وانظر لمزيد الفائدة الفتوى الأخرى هنا.

Dan sudah semestinya menjadi hal yang dipahami bersama, bahwasanya identitas Yahudi dan Nasrani yang eksis berdiri pada masa sekarang merupakan ajaran yang telah mengalami distorsi (muharrafatan). Ketahuilah bahwa dahulu syariat yang dibawa oleh Nabi Musa ‘alaihi as-salaam tidak pernah dinamai dengan nama ‘Agama Yahudi’, tidak pula syariat yang dibawa oleh Nabi Isa ‘alaihi as-salaam dinamai dengan nama ‘Agama Nasrani’. Adapun esensi agama dari kedua nabi mulia tersebut, tidak lain adalah Agama Islam sebagaimana penjelasan yang telah lalu. Silakan merujuk pada fatwa lainnya di sini untuk tambahan berkas faidah ulasan.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.