Memasuki Negeri Non-Muslim dengan Jaminan Keamanan Tidak Menghalalkan Hartanya dan Mengkhianati Mereka



دخول دار الكفر بأمان لا يبيح أموالهم والغدر بهم

Memasuki Negeri Non-Muslim dengan Jaminan Keamanan Tidak Menghalalkan Hartanya dan Mengkhianati Mereka

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Memasuki Negeri Non-Muslim dengan Jaminan Keamanan Tidak Menghalalkan Hartanya dan Mengkhianati Mereka ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Tsaqafah Islamiyyah

السؤال:

Pertanyaan:

نحن نعيش في دولة كافرة لأسباب سياسية، ونحاول -قدر الإمكان- أن نعمل للهجرة، فما حكم التزوير في الأوراق الرسمية؛ للحصول على مرتب من الدولة، لا نستطيع الحصول عليه إلا بذلك؟ علمًا أنه ليس في ذلك ضرر على المسلمين، ولا حتى على أحد، وإن أهل البلد يفعلون ذلك أيضًا، وهو شيء قد يكون عاديًّا، وأنا أرى أن منعي من هذه المساعدة ظلم.

Kami tinggal di sebuah negara non-muslim karena alasan-alasan politik, dan kami berusaha —sekuat kemampuan kami— untuk mengupayakan hijrah. Lalu apa hukum melakukan pemalsuan (at-tazwir) pada dokumen-dokumen resmi demi mendapatkan tunjangan dana dari negara, yang mana kami tidak mampu memperolehnya kecuali dengan cara tersebut? Perlu diketahui bahwasanya tindakan itu tidak menimbulkan dampak bahaya (mudarat) bagi kaum muslimin, bahkan tidak juga bagi siapa pun. Terlebih penduduk asli negara tersebut juga jamak melakukan hal itu, dan perkara itu sudah menjadi sesuatu yang dinilai biasa. Sementara saya pribadi memandang bahwa tindakan menghalangi saya untuk mendapatkan bantuan sosial ini merupakan sebuah bentuk kezaliman.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن الفقهاء يقررون أن من دخل دار الكفر بأمان، فلا يحل له الغدر بهم بشيء من أموالهم، وأنفسهم، هذا إن كانوا حربيين، فإن كانوا غير ذلك، فمن باب أولى.

Sesungguhnya para fukaha telah menetapkan kaidah bahwasanya barang siapa yang memasuki negeri non-muslim (darul kufr) dengan jaminan keamanan (bil aman / seperti visa, suaka, atau izin tinggal resmi), maka **tidak halal baginya untuk berkhianat (al-ghadr) kepada mereka** sedikit pun; baik yang berkaitan dengan harta kekayaan mereka maupun jiwa mereka. Ketentuan hukum ini berlaku jika status mereka adalah kafir harbi (yang dalam kondisi memerangi), maka apabila status mereka bukan kafir harbi tentu hukum larangan berkhianat ini menjadi jauh lebih utama (min babi aula).

وعليه؛ فنقول للأخ السائل: طالما أنك دخلت هذا البلد بأمان، فلا يحل لك أن تأخذ من أموالهم ما يعتبرونه خيانة، وغدرًا.

Berdasarkan hal tersebut, maka kami sampaikan kepada saudara penanya: Selama dirimu memasuki negara ini dengan jaminan keamanan resmi, maka tidak halal bagimu mengambil harta kekayaan mereka melalui cara apa pun yang dikategorikan sebagai tindakan khianat dan makar menurut regulasi mereka (seperti memalsukan dokumen negara).

وعليك أن تسعى جاهدًا للخروج من بلاد الكفر، وطلب الرزق في بلاد المسلمين. فإن اضطررت إلى البقاء، فاستعن بالله، واطلب الرزق الحلال.

Dan wajib bagimu untuk berusaha sekuat tenaga agar dapat keluar dari negeri non-muslim tersebut, serta berikhtiar mencari rezeki di negeri-negeri kaum muslimin. Namun, apabila dirimu terpaksa (darurat) untuk tetap tinggal di sana, maka memohonlah pertolongan kepada Allah dan carilah jalur mata pencaharian yang halal.

ولا يحملنك كفر القوم على أن تأخذ ما لا يحل لك، وتذكر أن النبي صلى الله عليه وسلم يقول:

Jangan sampai kekufuran yang ada pada kaum tersebut memicu dirimu untuk mengambil apa yang tidak dihalalkan bagimu. Dan ingatlah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

نَفِي لَهُمْ بِعَهْدِهِمْ ، وَنَسْتَعِينُ اللَّهَ عَلَيْهِمْ

“Kita penuhi janji/kesepakatan kepada mereka, dan kita memohon pertolongan kepada Allah di dalam menghadapi mereka.” (HR. Muslim)

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.