التوفيق بين الأصالة والمعاصرة
Mengompromikan antara Orisinalitas (Al-Ashalah) dan Modernitas (Al-Mu’ashirah)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Mengompromikan antara Orisinalitas (Al-Ashalah) dan Modernitas (Al-Mu’ashirah) ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Da’wah
السؤال:
Pertanyaan:
نريد سيدي الفاضل أن نعرف كيف أن ندمج بين الأصالة والعصرية؟ وشكراً.
Kami ingin mengetahui, wahai Tuan yang mulia, bagaimana cara kita mengintegrasikan (memadukan) antara orisinalitas (al-ashalah) dengan modernitas (al-‘ashriyyah)? Terima kasih.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن الأصالة مصطلح يعنى به الرجوع إلى الأصول، والتي تعني عند أمة الإسلام الوحي المتمثل في الكتاب والسنة، لأنهما مصدرا التشريع الإسلامي.
Maka sesungguhnya orisinalitas (al-ashalah) merupakan sebuah istilah yang dimaksudkan dengannya adalah merujuk kembali kepada fondasi dasar (al-ushul); yang mana di dalam konteks umat Islam, hal tersebut bermakna merujuk kepada wahyu yang terefleksikan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, karena keduanya merupakan dua sumber utama dari pensyariatan Islam.
ويعنى بالمعاصرة مدى صلاحية التشريع لمواكبة مستجدات الأحداث، والتي يعبر عنها بـ”النوازل” بحيث يوجد فيه من الأسس ما يحكم به على هذه النوازل، فمضمون هذا السؤال هو: هل من سبيل إلى التوفيق بين الأصالة والمعاصرة؟
Sementara yang dimaksud dengan modernitas (al-mu‘ashirah) adalah sejauh mana kesesuaian dan kelayakan dari pensyariatan tersebut untuk mengiringi perkembangan peristiwa-peristiwa baru, yang diistilahkan dengan sebutan kontemporer (an-nawazil); dalam arti bahwa di dalam syariat tersebut terdapat landasan-landasan dasar yang dapat digunakan untuk menetapkan hukum atas problematika kontemporer tersebut. Maka, inti substansi dari pertanyaan ini adalah: Apakah ada jalan untuk mengompromikan antara orisinalitas dengan modernitas?
وقبل الجواب عن هذا السؤال نذكر مقدمة مختصرة تمثل مدخلاً لهذا الجواب، وهذه المقدمة هي أن من أبرز خصائص الإسلام الوسطية والتوازن في تشريعاته، وهذا الخاصية قلما تتوفر في أي نظام من النظم الوضعية، ذلك لأنها صادرة عن قصور في العلم والفهم، بخلاف التشريعات الإسلامية فإنها من عند الله الذي خلق ويعلم ما يصلح خلقه، وما يفسدهم، ولا يتسع المجال لبسط الأمثلة على ما ذكرنا، إلا أن ما نحن بصدده يكفي دليلاً على ذلك.
Dan sebelum menjawab pertanyaan ini, kami akan menyebutkan sebuah pengantar ringkas yang merepresentasikan pintu masuk menuju jawaban tersebut. Pengantar ini adalah bahwasanya di antara karakteristik Islam yang paling menonjol adalah sifat moderat (al-wasathiyyah) dan keseimbangan (at-tawazun) di dalam undang-undang syariatnya. Karakteristik ini sangat jarang dapat terpenuhi di dalam sistem mana pun dari sistem-sistem buatan manusia (an-nuzhum al-wadhipyyah); hal itu dikarenakan sistem buatan tersebut lahir dari adanya keterbatasan ilmu dan pemahaman manusia. Berbeda halnya dengan syariat-syariat Islam, karena ia bersumber dari sisi Allah yang telah menciptakan makhluk dan Dia Maha Mengetahui apa saja yang membawa kebaikan bagi makhluk-Nya serta apa saja yang merusak mereka. Dan ruang ini tidaklah cukup luas untuk menjabarkan contoh-contoh atas apa yang telah kami sebutkan, akan tetapi perkara yang sedang kita bahas saat ini sudah cukup menjadi dalil (bukti) atas hal tersebut.
فبالنظر في رسالة الإسلام نجد أنها اشتملت على عنصر الثبات، وعنصر المرونة، وهذا من روائع الإعجاز في هذا الدين، ودليل على صلاحيته لكل زمان ومكان.
Maka dengan melihat pada risalah Islam, kita mendapati bahwasanya ia mencakup unsur stabilitas/tetap (‘unshur ats-tsabat) sekaligus unsur fleksibilitas/lentur (‘unshur al-murunah). Dan ini termasuk di antara keindahan mukjizat yang ada di dalam agama ini, sekaligus menjadi bukti atas kelayakannya untuk diterapkan di setiap ruang zaman dan belahan tempat.
وبيان ذلك: أن الأهداف والغايات، والأصول والكليات، والقيم الدينية والأخلاق تمثل ثوابت لا تتغير بتغير الزمان والمكان، فالإيمان بالله فضيلة، والشرك بالله قبح ورذيلة، والصدق فضيلة، والكذب قبح ورذيلة، وهذه أمور لا تتغير بتغير العصور.
Dan rincian penjelasan hal tersebut: Bahwasanya target-target utama dan tujuan akhir (al-ghayat), asas-asas dasar dan kaidah umum universal (al-kulliyat), serta nilai-nilai keagamaan dan keluhuran akhlak merupakan representasi dari perkara-perkara yang bersifat tetap (thawabit) yang tidak akan pernah berubah dengan berubahnya gerak zaman maupun tempat. Maka, beriman kepada Allah selamanya adalah sebuah keutamaan, sedangkan menyekutukan Allah selamanya merupakan suatu keburukan dan kehinaan. Kejujuran selamanya adalah keutamaan, sedangkan kedustaan selamanya merupakan suatu keburukan dan kehinaan. Dan ini semua merupakan urusan-urusan yang tidak akan berubah dengan bergantinya kurun waktu.
ومن الجانب الآخر فإن معاملات الناس من بيع وشراء وحكم وسياسة، وغير ذلك مما يهم الناس في أمور حياتهم، تمثل جانياً يطرأ عليها كثير من المستجدات، فجعل لها الشارع ضوابط عامة يحكم بها على هذه المسائل الحادثة، ومن هنا كان الاجتهاد أصلاً من أصول التشريع في الإسلام.
Namun dari sisi yang lain, sesungguhnya urusan muamalah (interaksi) antarmanusia; baik yang berupa aktivitas jual beli, sistem pemerintahan, manajemen politik, serta hal lainnya yang menjadi urusan penting bagi manusia dalam roda kehidupan mereka, merupakan sebuah sisi yang sering kali memicu lahirnya banyak perkara baru yang bermunculan. Oleh karena itu, Sang Pembuat Syariat (Allah) meletakkan batasan-batasan umum (dhawabith ‘ammah) yang digunakan untuk memutuskan hukum atas persoalan-persoalan baru yang muncul tersebut. Dan dari sinilah, aktivitas ijtihad diposisikan sebagai salah satu fondasi dari fondasi-fondasi pensyariatan di dalam Islam.
قال ابن القيم في كتابه إغاثة اللهفان: الأحكام نوعان: نوع لا يتغير عن حالة واحدة هو عليها لا بحسب الأزمنة ولا الأمكنة ولا اجتهاد الأئمة كوجوب الواجبات وتحريم المحرمات والحدود المقدرة بالشرع على الجرائم ونحو ذلك، فهذا لا يتطرق إليه تغيير ولا اجتهاد يخالف ما وضع عليه.
النوع الثاني: ما يتغير بحسب اقتضاء المصلحة له زماناً ومكاناً وحالاً كمقادير التعزيرات وأجناسها وصفاتها، فإن الشارع ينوع فيها بحسب المصلحة. انتهى
Ibnu al-Qayyim memaparkan di dalam kitabnya, Ighatsah al-Lahfan: “Hukum itu ada dua macam: Macam yang pertama adalah hukum yang tidak akan pernah berubah dari satu keadaan tunggal yang menjadi ketetapannya; tidak berubah karena faktor perbedaan zaman, tidak karena tempat, dan tidak pula karena ijtihad para imam pemimpin. Contohnya seperti kewajiban atas perkara-perkara yang wajib, keharaman atas perkara-perkara yang haram, serta hukuman pidana yang telah memiliki takaran pasti dari syariat (al-hudud al-muqaddarah) atas tindakan kriminalitas, dan yang sejenis dengannya. Maka macam hukum ini tidak dapat disusupi oleh perubahan, tidak pula oleh ijtihad yang menyelisihi ketentuan awal bagaimana ia diletakkan.
Macam yang kedua: Apa saja yang dapat berubah berdasarkan tuntutan kemaslahatan yang mengiringinya; baik tuntutan karena faktor zaman, tempat, maupun situasi kondisi. Contohnya seperti takaran kadar hukuman takzir (edukatif), jenis-jenisnya, serta sifat-sifatnya; karena sesungguhnya Sang Pembuat Syariat memvariasikan hal tersebut berdasarkan pertimbangan maslahat.” Selesai kutipan.
ويظهر أمر مراعاة الثوابت والتغيرات في سيرة الخلفاء الراشدين وفتاوى الأئمة المهديين، فمن مراعاة الثوابت في عهد أبي بكر الصديق رضي الله عنه موقفه من مانعي الزكاة وقوله في ذلك: والله لأقاتلن من فرق بين الصلاة والزكاة. رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه.
Dan perkara tentang perhatian terhadap hal yang tetap (thawabit) maupun hal yang berubah (mutaghayyirat) ini tampak jelas di dalam sirah perjalanan hidup Khulafaur Rasyidin serta fatwa-fatwa para imam yang mendapat petunjuk. Maka, di antara potret menjaga perkara yang tetap pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu adalah sikap tegas beliau terhadap orang-orang yang enggan menunaikan zakat, di mana beliau berkata dalam urusan tersebut: “Demi Allah, sungguh aku benar-benar akan memerangi siapa saja yang memisahkan antara kewajiban sholat dengan kewajiban zakat.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.
ومن مراعاة المتغيرات في عهد الصديق رضي الله عنه جمعه للقرآن في مصحف واحد، وقصته في ذلك رواها البخاري في صحيحه.
Sementara di antara bentuk perhatian terhadap perkara yang dinamis/berubah pada masa kekhalifahan Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu adalah kebijakan beliau di dalam mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur’an ke dalam satu mushaf tunggal, yang mana kisah historis mengenai masalah tersebut telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab Shahihnya.
أما الفاروق عمر رضي الله عنه فقد كثر في عهده النوازل والمستجدات لطول فترة خلافته، واتساع الفتوحات في عهده، فهو الذي توقف عند النص في قصة الفرار من الطاعون في قصة الطاعون بالشام لأنه لا مجال للاجتهاد مع وجود النص، وهذه القصة رواها البخاري ومسلم عن ابن عباس رضي الله عنهما.
Adapun Al-Faruq Umar radhiallahu ‘anhu, maka sungguh pada masa kekhalifahannya telah banyak bermunculan problematika kontemporer serta peristiwa-peristiwa baru, dikarenakan panjangnya rentang masa kekhalifahannya ditambah semakin meluasnya wilayah ekspansi pembebasan (futurhat) pada zamannya. Beliau adalah sosok yang menahan diri (berhenti) pasrah pada ketetapan dalil tekstual (nash) dalam kisah melarikan diri dari wabah penyakit menular, yaitu pada peristiwa wabah thauun yang melanda negeri Syam; hal itu karena tidak ada ruang bagi aktivitas ijtihad apabila dalil nash yang pasti telah eksis berdiri. Dan kisah ini telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.
وعمر رضي الله عنه هو الذي صالح نصارى بني تغلب على أن تُضعَّف عليهم الزكاة مرتين، كما روى ذلك ابن أبي شيبة في مصنفه.
Dan Umar radhiallahu ‘anhu pulalah sosok yang mengadakan perjanjian damai dengan kaum Nasrani dari kabilah Bani Taghlib, atas kesepakatan bahwa besaran nilai zakat (sebagai pengganti jizyah) dilipatgandakan atas mereka sebanyak dua kali lipat, sebagaimana hal tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab Mushannafnya.
وقد وردت كثير من الفتاوى عن أئمة المذاهب الأربعة، وغيرهم من الأئمة، والتي اعتبروا فيها العمل بالمصالح المرسلة.
Dan sungguh telah ada banyak fatwa yang bersumber dari para imam mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali) serta para imam lainnya, yang mana di dalam fatwa-fatwa tersebut mereka melegitimasi (mengakui) praktik beramal menggunakan konsep Maslahah Mursalah (kemaslahatan yang tidak disebutkan secara spesifik oleh dalil namun selaras dengan tujuan syariat).
قال الزركشي في كتابه البحر المحيط -وهو في أصول الفقه الشافعي- وهو يتحدث عن أقسام المصالح قال: القسم الثالث: ألَّا يعلم اعتباره ولا إلغاؤه، وهو الذي لا يشهد له أصل معين من أصول الشريعة بالاعتبار، وهو المسمى بـ”المصالح المرسله” وسيأتي الكلام فيه، والمشهور اختصاص المالكية بها وليس كذلك، فإن العلماء في جميع المذاهب يكتفون بمطلق المناسبة، ولا معنى للمصلحة المرسلة إلا ذلك. انتهى.
Imam Az-Zarkasyi memaparkan di dalam kitabnya, Al-Bahr al-Muhith —yang mana kitab ini merupakan rujukan dalam bidang Ushul Fiqh mazhab Syafi’i— saat beliau mengulas tentang klasifikasi pembagian kemaslahatan, beliau berkata: “Bagian yang ketiga: Perkara yang tidak diketahui apakah ia diakui (oleh syariat) ataukah digugurkan; yaitu suatu perkara yang tidak dipersaksikan oleh satu fondasi dasar tertentu dari fondasi-fondasi syariat tentang pengakuannya, dan perkara inilah yang dinamakan dengan sebutan ‘Al-Mashalih al-Mursalah’ dan akan datang penjelasan khusus mengenainya nanti. Adapun opini yang masyhur yang menyatakan bahwa konsep ini hanya khusus berlaku di kalangan mazhab Maliki saja, maka ketahuilah bahwa faktanya tidaklah demikian. Karena sesungguhnya para ulama di seluruh lintas madzhab fiqh pada hakikatnya mencukupkan diri dengan mutlak adanya kesesuaian sifat (muthlaq al-munasabah), dan tidak ada makna bagi maslahah mursalah melainkan esensi hal tersebut.” Selesai kutipan.
ثم إن علماء الأمة مازالوا في كل عصر من العصور يجتهدون في النوازل التي تستجد على الناس في أمور الاقتصاد والاجتماع والسياسة والطب، وإن الناظر إلى قرارات مجمع الفقه الإسلامي يجد هذه الجهود واضحة وجلية.
Kemudian daripada itu, sesungguhnya para ulama umat ini senantiasa di setiap masing-masing kurun waktu dari pergantian zaman selalu melakukan aktivitas ijtihad di dalam memecahkan problematika kontemporer (an-nawazil) yang baru melanda manusia; baik di dalam urusan-urusan ekonomi (keuangan), tatanan sosial, konstelasi politik, maupun bidang kedokteran. Dan sesungguhnya bagi siapa saja yang sudi menelaah keputusan-keputusan resmi dari Lembaga Fikih Islam Internasional (Majma‘ al-Fiqh al-Islami), niscaya ia akan mendapati rekam jejak usaha-usaha ijtihad ini tertuang secara gamblang dan jelas.
ونذكر على سبيل المثال القرارات بشأن التأمين بأنواعه، وتشريح الجثث، ونقل الأعضاء وغيرها من القرارات، ليبقى كل ذلك شاهداً على صلاحية هذا الدين لكل زمان ومكان.
Dan kami sebutkan sebagai contoh nyata dari hal tersebut adalah keputusan-keputusan hukum mengenai masalah asuransi dengan segala macam ragam jenisnya, hukum melakukan pembedahan (autopsi) terhadap mayat (tasyrih al-jutstsat), hukum transplantasi (donor) organ tubuh, serta keputusan-keputusan hukum lainnya; agar itu semua tetap tegak berdiri menjadi saksi abadi atas kelayakan dan kesesuaian dari agama Islam ini untuk diterapkan di setiap ruang zaman dan belahan tempat.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply