الأنبياء يتفقون على الإيمان ويختلفون في الشرائع
Para Nabi Bersepakat dalam Urusan Akidah Iman dan Berbeda dalam Syariat Amaliah
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Para Nabi Bersepakat dalam Urusan Akidah Iman dan Berbeda dalam Syariat Amaliah ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Tsaqafah Islamiyyah
السؤال:
Pertanyaan:
نسمع دائماً الحديث عن أن هناك أديانا وليس ديناً واحداً علماً أن القرآن الكريم في معرض ذكره الأولين والآخرين لم يشر إلا إلى دين واحد هو الدين الإسلامي وما اليهودية والنصرانية إلا مللاً فما هو ردكم على هذا التساؤل؟
Kita kerap mendengar perbincangan bahwasanya ada banyak agama (din) di dunia ini dan bukan hanya satu agama saja. Padahal, Al-Qur’anul Karim di dalam konteks menyebutkan generasi terdahulu hingga generasi akhir tidak pernah mengisyaratkan melainkan hanya kepada satu agama saja, yaitu Agama Islam. Sedangkan sebutan Yahudi dan Nasrani tidak lain hanyalah bentuk sekte/milah (milal). Lalu, bagaimanakah jawaban Anda sekalian atas problematika pertanyaan ini?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فالدين هو ما شرعه الله لعباده من أحكام سواء ما يتصل منها بالعقيدة، أو الأخلاق، أو الأحكام العملية على ألسنة أنبيائه ورسله جميعاً، فالذي جاء به نوح قومه دين، وهكذا إبراهيم الخليل ونبيناً محمد عليه أفضل الصلاة وأزكى التسليم.
Maka ketetapan arti agama (ad-din) adalah apa saja yang disyariatkan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya berupa hukum-hukum; baik hukum yang bertalian dengan masalah akidah, keluhuran akhlak, maupun hukum-hukum amaliah praktis yang disampaikan melalui lisan para nabi dan rasul-Nya secara keseluruhan. Oleh karena itu, apa yang dibawa oleh Nabi Nuh kepada kaumnya adalah agama, demikian pula apa yang dibawa oleh Nabi Ibrahim Al-Khalil serta Nabi kita Muhammad —atas beliau berdua tercurah shalawat yang paling utama dan salam yang paling suci—.
إلا أن الأنبياء جميعاً يتفقون على شيء واحد وهو أمور الإيمان والتوحيد، ويختلفون في الشرائع والمنهاج والأحكام العملية، قال الله تعالى:
Akan tetapi, **seluruh nabi tanpa terkecuali bersepakat pada satu fondasi yang sama**, yaitu urusan keimanan dan ketauhidan (al-iman wat tauhid), namun mereka saling berbeda di dalam rincian syariat, manhaj jalan hidup, serta hukum-hukum amaliah praktisnya. Allah Ta‘ala berfirman:
فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ [المائدة: ٤٨]
“…Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan (syariat) dan jalan yang terang (manhaj). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” [Al-Ma’idah: 48]
والشريعة التي نسخت الشرائع التي قبلها، ولا يصح العمل بغيرها هي شريعة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، قال الله تعالى:
Dan adapun syariat yang bertindak menghapus (nasikh) seluruh syariat-syariat yang ada sebelumnya, serta tidak sah beramal menggunakan selainnya pada masa sekarang adalah syariat Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta‘ala berfirman:
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ [المائدة: ٤٨]
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian (penjaga/saksi) terhadap kitab-kitab yang lain itu…” [Al-Ma’idah: 48]
أي ناسخاً وحاكماً على التوارة والإنجيل وغيرهما مما كان في الكتب المنزلة قبله.
Maknanya adalah: sebagai penghapus (ناسخاً) hukum serta hakim yang memutuskan atas kitab Taurat, Injil, dan kitab suci lainnya yang bersumber dari kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah sebelum masa Al-Qur’an.
وقد بين النبي صلى الله عليه وسلم أن أصل دين الأنبياء واحد وإن اختلفوا في التفريعات.. بَيَّن ذلك في مثالٍ رائع حيث قال: أنا أولى الناس بعيسى، الأنبياء أبناء علات…. أخرجه مسلم وأخرجه أحمد بلفظ: الأنبياء إخوة أبناء علات أمهاتهم شتى… وأبناء العلات هم الإخوة من أب، أبوهم واحد وأمهاتهم شتى.
Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memaparkan secara gamblang bahwasanya fondasi utama dari agama para nabi adalah satu, sekalipun mereka saling berbeda di dalam masalah cabang amaliah praktis (at-tafri‘at). Beliau menguraikan potret tersebut dalam sebuah perumpamaan yang sangat indah di mana beliau bersabda: “Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa. Para nabi itu adalah saudara sebapak (abna’u ‘allat)…” Dikeluarkan oleh Muslim. Dan dikeluarkan pula oleh Ahmad dengan lafaz: “Para nabi adalah saudara sebapak (ikhwatun abna’u ‘allat), ibu-ibu mereka beraneka ragam sedangkan agama mereka adalah satu.” Dan istilah *abna’ul ‘allat* makna esensinya adalah saudara-saudara kandung yang lahir dari satu bapak yang sama, namun terlahir dari rahim ibu yang berbeda-beda.
وبهذا يصح اطلاق الدين على الملل التي جاءت بها الأنبياء قبل نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، واعتقاد أنها آتية من عند الله؛ إلا أن أصحابها حرفوها وبدلوها وغيروها بعد ذلك.
Dan atas dasar pijakan inilah, sah-sah saja menyematkan istilah ‘agama’ (secara majasi penamaan historis) pada ajaran-ajaran sekte (al-milal) yang dibawa oleh para nabi sebelum diutusnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya wajib meyakini bahwa ajaran murninya dahulu benar-benar turun dari sisi Allah. Hanya saja, para pemeluk dari pengikut aliran tersebut telah melancarkan distorsi (tahrif), memodifikasi, serta mengubah-ubah kesucian isinya setelah peninggalan nabi mereka.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply