الفرق بين الغزو الفكري والغزو الثقافي
Perbedaan antara Invasi Pemikiran (Ghazwul Fikri) dan Invasi Budaya (Ghazwul Tsaqafi)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Perbedaan antara Invasi Pemikiran (Ghazwul Fikri) dan Invasi Budaya (Ghazwul Tsaqafi) ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Tsaqafah Islamiyyah
السؤال:
Pertanyaan:
ماالفرق بين الغزو الفكري والغزو الثقافي؟ وما الفرق بين الغزو والفتح مع التعريف؟
Apakah perbedaan antara invasi pemikiran (al-ghazwu al-fikri) dengan invasi budaya (al-ghazwu al-tsaqafi)? Serta apakah perbedaan antara ekspedisi militer/invasi (al-ghazwu) dengan pembebasan wilayah (al-fathu) disertai definisinya?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فيمكن القول بأن بين الغزو الفكري والثقافي تقارباً أو عموماً وخصوصاً، ويتضح ذلك من خلال التعريف:
Maka dapat dikatakan bahwasanya antara invasi pemikiran dengan invasi budaya terdapat kedekatan makna, atau hubungan umum dan khusus (‘umum wa khushush). Hal tersebut dapat tampak jelas melalui definisinya:
فالغزو الفكري يقصد به: (إغارة الأعداء على أمة من الأمم بأسلحة معينة، وأساليب مختلفة، لتدمير قواها الداخلية، وعزائمها ومقوماتها، وانتهاب كل ما تملك).
Invasi Pemikiran (Ghazwul Fikri) maksudnya adalah: Serangan terencana yang dilancarkan oleh musuh terhadap suatu umat menggunakan persenjataan tertentu serta metode yang beraneka ragam, dengan tujuan menghancurkan kekuatan internalnya, mematahkan tekad dan pilar-pilar pondasinya, serta merampas segala potensi yang dimilikinya.
والفرق بينه وبين الغزو العسكري، أن الغزو العسكري يأتي للقهر وتحقيق أهداف استعمارية دون رغبة الشعوب المستعمرة، أما الغزو الفكري فهو لتصفية العقول والأفهام، لتكون تابعة للغازي. انظر: في الغزو الفكري للدكتور أحمد عبد الرحيم السائح من إصدارات كتاب الأمة (ص: 33).
Dan perbedaan antara invasi pemikiran dengan invasi militer (al-ghazwu al-‘askari) adalah: Bahwasanya invasi militer datang untuk melakukan penundukan fisik serta mewujudkan target-target kolonialisme (penjajahan) tanpa adanya kerelaan dari bangsa yang dijajah. Sedangkan invasi pemikiran bertujuan untuk mencuci akal pikiran dan pemahaman suatu bangsa, agar mereka secara sukarela menjadi pengekor (bebek) yang tunduk pada agenda sang penjajah. Lihat kitab Fil Ghazwil Fikri karya Dr. Ahmad ‘Abdurrahim as-Saih dari penerbitan Kitabul Ummah (hal. 33).
والغزو الثقافي يراد به: أن تقوم مجموعة سياسية أو اقتصادية بالهجوم على الأسس والمقومات الثقافية لأمة من الأمم بقصد تحقيق مآربها، ووضع تلك الأمة في إسار تبعيتها وفي سياق هذا الغزو تعمد المجموعة الغازية إلى أن تُحِّل في ذلك البلد -وبالقسر- معتقدات وثقافة جديدة مكان الثقافة والمعتقدات الأصلية.
Sementara Invasi Budaya (Ghazwul Tsaqafi) yang dimaksud dengannya adalah: Tindakan dari suatu kekuatan politik atau ekonomi yang melancarkan gempuran terhadap nilai-nilai dasar dan pilar kebudayaan suatu umat, demi melancarkan target-target terselubung mereka serta menjerumuskan umat tersebut ke dalam belenggu ketergantungan (depedensi). Di dalam pusaran invasi ini, kelompok penjajah sengaja memasukkan —secara paksa/hegemoni— keyakinan-keyakinan dan kebudayaan baru guna menggeser kebudayaan dan keyakinan asli milik bangsa tersebut.
والغزو يأتي في اللغة بمعنى القصد والطلب والسير إلى قتال الأعداء، وأما الفتح فهو ما يعقب الغزو، فإذا غزا قوم بلداً من البلاد فقد يتوج غزوهم بالنجاح فتكون النتيجة فتحه، وقد لا يتوج بالنجاح فيرجعوا خائبين.
Adapun kata *Al-Ghazwu* (الغزو) secara bahasa bermakna: menuju, menuntut, serta berjalan untuk memerangi musuh. Sementara *Al-Fathu* (الفتح) merupakan fase lanjutan yang mengiringi aktivitas *al-ghazwu* tersebut. Apabila suatu kaum melakukan ekspedisi militer ke suatu negeri, adakalanya gerak ofensif mereka dianugerahi keberhasilan sehingga buah hasilnya adalah pembebasan wilayah (fathuhu), namun adakalanya tidak membuahkan keberhasilan sehingga mereka kembali dalam keadaan gagal.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply