Persatuan Bangsa Arab (Pan-Arabisme): Sebuah Tinjauan Syariat



الوحدة العربية.. رؤية شرعية

Persatuan Bangsa Arab (Pan-Arabisme): Sebuah Tinjauan Syariat

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Persatuan Bangsa Arab (Pan-Arabisme): Sebuah Tinjauan Syariat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Tsaqafah Islamiyyah

السؤال:

Pertanyaan:

أرغب في معرفة حكم الدين فيما يسمى الوحدة العربية، وهل هي مشروعة؟ حيث إننا نعلم بأن هناك مسلمين عرب وكذلك هناك مسيحيون ويهود عرب، فكيف تكون هذه الوحدة في نظر الشرع؟

Saya ingin mengetahui hukum agama mengenai apa yang diistilahkan sebagai ‘Persatuan Bangsa Arab’ (Pan-Arabisme/al-wahdah al-‘arabiyyah), dan apakah gerakan tersebut disyariatkan? Mengingat yang kita ketahui bersama bahwa di sana ada orang Arab yang beragama Islam, dan ada pula orang Arab yang beragama Kristen maupun Yahudi. Lalu, bagaimana konsep persatuan ini dipandang di dalam kacamata syariat?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فالشرع الحنيف قد أمر بنبذ كل دعوة إلى العصبية المذمومة، سواء كانت دعوة إلى قومية أو قبلية أو غيرها من دعاوى الجاهلية.

Maka sesungguhnya syariat yang lurus ini telah memerintahkan untuk mencampakkan setiap bentuk seruan yang mengarah pada fanatisme golongan yang tercela (al-‘ashabiyyah al-madzmumah); baik itu berupa seruan yang berbasis nasionalisme kesukuan (al-qaumiyyah), rasisme tribalisme (al-qabaliyyah), maupun jargon-jargon seruan berbau jahiliah lainnya.

ففي الصحيحين من حديث جابر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ. يعني العصبية المذمومة.

Maka di dalam kitab Ash-Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari hadits Jabir radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tinggalkanlah ia (jargon fanatisme golongan), karena sesungguhnya ia adalah sesuatu yang busuk (menjijikkan).” —yakni yang dimaksud beliau adalah fanatisme golongan yang tercela—.

والذي على المرء أن يتعصب فيه ويوالي هو الإسلام، وقد أحسن الشاعر في قوله:

Dan satu-satunya perkara yang wajib bagi seseorang untuk berkomitmen kuat (fanatik positif) di dalamnya serta memberikan loyalitas (al-wala’) kepadanya adalah Agama Islam. Sungguh sangat indah untaian bait syair yang diucapkan oleh seorang penyair:

أَبِي الْإِسْلَامُ لَا أَبَ لِي سِوَاهُ … إِذَا افْتَخَرُوا بِقَيْسٍ أَوْ تَمِيمِ

“Ayahku adalah Islam, tidak ada ayah bagiku selainnya…
Di saat mereka bangga menyombongkan suku Qais atau Tamim.”

ومع هذا، فالمذموم من الانتماء العرقي إنما هو الانتماء الذي يراد منه التعاضد والتناصر لا باعتبار الحق والباطل، بل بالاعتبار العرقي فقط. وأما إذا كان يراد منه التناصر بالحق، فلا بأس به.

Namun demikian, sisi yang tercela dari sebuah ikatan sentimen kesukuan/ras (al-intima’ al-‘irqi) itu hanyalah apabila ikatan tersebut dijadikan landasan untuk saling mendukung dan saling membela (chauvinisme) tanpa memedulikan neraca kebenaran (al-haq) atau kebatilan, melainkan murni semata-mata dibela karena faktor kesamaan ras saja. Adapun jika ikatan kesukuan tersebut justru digunakan sebagai sarana untuk saling tolong-menolong di dalam menegakkan kebenaran, maka hal tersebut tidaklah mengapa (boleh).

قال شيخ الإسلام: المحذور من ذلك إنما هو تعصب الرجل لطائفته مطلقاً، فعلى أصل الجاهلية. فأما نصرها بالحق من غير عدول فحسن واجب أو مستحب.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memaparkan: “Perkara yang dilarang (al-mahdzur) dari hal tersebut tidak lain adalah tindakan fanatisme seseorang terhadap kelompoknya secara mutlak (membabi buta); karena tindakan ini berjalan di atas prinsip dasar jahiliah. Adapun membelanya di dalam koridor kebenaran tanpa mencederai hak orang lain, maka itu merupakan perbuatan baik yang hukumnya bisa menjadi wajib atau mustahab (dianjurkan).”

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.