قالت في القرآن
Qoolat (Dia [Perempuan] Berkata) di Dalam Al-Qur’an
Oleh : ‘Afaaf ‘Abdul Wahhaab Shadiiq
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Qoolat (Dia [Perempuan] Berkata) di Dalam Al-Qur’an ini masuk dalam Kategori Tadabur Al-Qur’an
بدايةً: الحمد لله الذي هدانا لهذا، وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله . أحبتي في الله، لا أزعم لنفسي تفسيرًا، لكنَّنا مدعوُّون جميعًا إلى التدبُّر في القرآن الكريم، وإنها لبُشرى لكل مَن أَخلص النية في أن يتأمل ويتدبر معانيَه، ولقد يسَّر اللهُ القرآنَ للذكر ؛
Sebagai permulaan: Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (Islam) ini, dan kami tidak akan mendapat petunjuk kalau sekiranya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami. Kekasihku sekalian karena Allah, aku tidak mengklaim sebuah tafsir bagi diriku sendiri, akan tetapi kita semua diajak untuk melakukan tadabur (at-tadabbur) terhadap Al-Qur’an Al-Karim. Dan sesungguhnya ini merupakan kabar gembira bagi setiap orang yang mengikhlaskan niatnya untuk merenungkan dan mentadaburi makna-maknanya, dan sungguh Allah telah memudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran;
ولكوني امرأة منَّ اللهُ عليها أن تكون شيئًا مذكورًا، هذا وشرفٌ لي أن جعلني الوهَّاب ممَّن خلق أنثى؛ فسوف أعبِّر برأي عنها بصدق وموضوعية؛ مبتغيةً في ذلك لكل فتاة وامرأة أن ترتقي لتكون كما وصف الحبيبُ سيدُنا محمد – صلى الله عليه وسلم -: إنهن قوارير، ذلك أنها رقيقة المشاعر وسريعة التأثر، وقلبُها يسبق عقلَها ؛
Dan karena aku adalah seorang wanita yang telah Allah anugerahkan karunia untuk menjadi sesuatu yang disebut, dan ini merupakan suatu kehormatan bagiku bahwa Al-Wahhab (Dzat Yang Maha Pemberi) menjadikanku termasuk dari golongan yang Dia ciptakan sebagai perempuan; maka aku akan mengekspresikan pandanganku tentangnya secara jujur dan objektif; dengan harapan agar setiap gadis dan wanita dapat mengupgrade dirinya agar menjadi sebagaimana yang disifatkan oleh kekasih kita, junjungan kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya mereka itu bagaikan kaca-kaca (qawaariir)”, hal itu dikarenakan wanita memiliki perasaan yang lembut, cepat terpengaruh, dan hatinya mendahului akalnya;
وقد كرم الله بني آدم – عليه السلام – على كثير ممن خلق، آدم الذي ما كانت ذريته لتأتي بدون خير متاع الدنيا أمنا حواء، وسبحان من جعل لكل شيء سببًا . يقول رب العالمين :
Dan sungguh Allah telah memuliakan anak cucu Adam ‘alaihis salaam di atas kebanyakan makhluk yang telah Dia ciptakan. Adam yang mana keturunannya tidak akan lahir tanpa adanya sebaik-baik perhiasan dunia, yaitu ibunda kita Hawa. Dan Mahasuci Dzat yang telah menjadikan segala sesuatu itu memiliki sebab. Tuhan semesta alam berfirman:
إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّراً فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ [آل عمران: 35]
“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” [Aali ‘Imraan: 35]
إنها امرأةُ عمران الزاهدة العابدة، شأنها شأن كل امرأة حين تشتاق أن تَحمل في بطنها طفلًا، وذاك إحساس فطري جُبلت عليه؛ فكل أنثى تتمنَّى أن تكون يومًا أمًّا لطفل تغمره بحنانها الفياض، وبرغم الشوق واللهفة لأن تصبح أمًّا .
Dialah istri ‘Imran, seorang wanita yang zuhud lagi ahli ibadah. Keadaannya sama seperti keadaan setiap wanita ketika sangat merindukan untuk mengandung seorang anak di dalam rahimnya, dan hal tersebut merupakan perasaan fitrah (fithriyy) yang menjadi tabiat dasar baginya. Maka setiap perempuan berharap suatu hari nanti dapat menjadi seorang ibu bagi anak yang akan dia limpahi dengan kasih sayangnya yang tercurah ruah, meskipun ada rasa rindu dan dambaan yang mendalam untuk menjadi seorang ibu.
إلا أنها ليست ككل النساء اللاتي يُردن الحملَ رغبة في الإنجاب والتكاثر وحسْب، بل نذرتْ ما في بطنها حبًّا لله، وطاعةً له، وجُلُّ ما تريده أن يكون خالصًا لعبادة الله جل وعلا، وترجو ربها السميع العليم بصفاء نيتها أن يتقبله منها، وهي بعدُ لا تعلم أذكَرٌ هو أم أنثى، وهذا يدل على قوة الإيمان واليقين بأن الله هو العليم القدير وهو الذي قال وقوله حق :
Akan tetapi, beliau tidaklah seperti kebanyakan wanita yang menginginkan kehamilan sekadar karena dorongan untuk memiliki anak dan berkembang biak semata. Sebaliknya, beliau menazarkan apa yang ada di dalam rahimnya karena kecintaan kepada Allah serta ketaatan kepada-Nya. Dan target utama yang beliau inginkan adalah agar anak tersebut murni dikhususkan untuk beribadah kepada Allah Jalla wa ‘Alaa. Beliau berharap kepada Tuhannya Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dengan kesucian niatnya agar berkenan menerima nazar tersebut darinya, padahal beliau saat itu belum mengetahui apakah janin tersebut berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Hal ini menunjukkan kuatnya keimanan dan keyakinan (al-yaqiin) bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa, dan Dialah yang telah berfirman, dan firman-Nya adalah kebenaran:
وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ [فاطر: 11]
“Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya.” [Faathir: 11]
نذرتْه لله، وكان في نذْرها العجب! فمِن المعروف أن النذر الذي روي فيه أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ :
Beliau menazarkannya untuk Allah, dan di dalam nazarnya ini terdapat perkara yang menakjubkan! Sebab telah diketahui bersama mengenai perkara nazar (an-nadzr) ini, di mana diriwayatkan di dalamnya bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ النَّذْرَ لاَ يُقَدِّمُ شَيْئاً، وَلاَ يُؤَخِّرُ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِالنَّذْرِ مِنَ الْبَخِيلِ
“Sesungguhnya nazar itu tidak dapat memajukan sesuatu dan tidak pula dapat memundurkannya, melainkan hanyalah dikeluarkan dengan nazar itu dari orang yang bakhil (pelit).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
وقد وجَب على مَن نذَر طاعةً لله تعالى أن يفِيَ بنذْره . إلا أن سواد الناس لا يُوفُون بنذْرهم، وقد اشترطوا على ربهم إنْ كان كذا سنفعل كذا، وقد شقوا على أنفسِهم بما نذروا، وما أشدَّ عقوبةَ مَن نذروا ولم يُوفوا؛ فقد أعقَبَ في قلوبهم النفاقَ .
Dan sungguh telah wajib bagi siapa saja yang bernazar untuk melakukan suatu ketaatan kepada Allah Ta‘aala agar memenuhi nazarnya. Akan tetapi, mayoritas manusia tidak memenuhi nazar mereka, di mana mereka memberikan syarat kepada Tuhan mereka bahwa “jika terjadi begini maka kami akan melakukan begitu”, sehingga mereka memberatkan diri mereka sendiri dengan apa yang mereka nazarkan. Dan alangkah kerasnya hukuman bagi orang-orang yang bernazar namun tidak memenuhinya; karena hal tersebut menumbuhkan kemunafikan (an-nifaaq) di dalam hati mereka.
إلا امرأة عمران فقد نذرتْ لله أعزَّ ما كانت تريدُه مِن الله لله؛ وليس لنفْع نفسِها، وليس لأمومة فيها؛ فلذةَ كبدِها، تودُّ أن تسعد بها، وأن تكتمل بها زينةُ حياتها . لا ليس كل ذلك . بل نذرتْ ووفتْ بما في بطنها، ومِن قيْد الأمومة محررًا لعبادة الله وخدْمة بيته المقدس، وكان ما تمنَّتْ .
Berbeda halnya dengan istri ‘Imran, beliau justru menazarkan kepada Allah sesuatu yang paling berharga yang beliau inginkan dari Allah murni untuk Allah; bukan demi kemanfaatan dirinya sendiri, dan bukan pula demi ego keibuan pada dirinya terhadap belahan jiwanya, yang mana beliau ingin berbahagia bersamanya serta melengkapkan perhiasan kehidupannya dengannya. Tidak, tidaklah semua itu yang beliau inginkan. Sebaliknya, beliau bernazar dan memenuhi apa yang ada di dalam kandungan rahimnya, membebaskannya dari belenggu ikatan kepemilikan keibuan untuk murni beribadah kepada Allah dan berkhidmat di Baitul Maqdis, dan jadilah apa yang beliau dambakan tersebut kenyataan.
والله أعلم .
Wallahu a’lam.
Sumber : Alukah
Leave a Reply