Syariat Beraneka Ragam dan Inti Kandungannya Adalah Tauhid



الشرائع متعددة وأصل مضمونها التوحيد

Syariat Beraneka Ragam dan Inti Kandungannya Adalah Tauhid

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Syariat Beraneka Ragam dan Inti Kandungannya Adalah Tauhid ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

ما هي الأديان السماوية؟ وهل نزل على سيدنا عيسى عليه السلام الدين المسيحي، وعلى سيدنا موسى عليه السلام الدين اليهودي؟

Apakah yang dimaksud dengan agama-agama langit (agama samawi)? Dan apakah yang diturunkan kepada junjungan kita Nabi Isa ‘alaihi as-salaam itu adalah Agama Kristen (Masehi), serta yang diturunkan kepada junjungan kita Nabi Musa ‘alaihi as-salaam itu adalah Agama Yahudi?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه؛ أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فالأديان السماوية هي الأديان التي أنزلها الله تعالى على أنبيائه صلوات الله وسلامه عليهم جميعاً، وأرسلهم بها إلى الخلق، وهي في الحقيقة دين واحد في أصله، وهو دين الإسلام. قال سبحانه:

Maka yang dimaksud dengan agama-agama samawi adalah agama yang diturunkan oleh Allah Ta‘ala kepada para nabi-Nya —semoga shalat dan salam Allah senantiasa tercurah atas mereka semua— dan Dia mengutus mereka dengannya kepada umat manusia. Agama-agama tersebut pada hakikat esensinya adalah satu agama yang tunggal pada fondasinya, yaitu Agama Islam. Allah Subhaanahu berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ [آل عمران: ١٩]

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” [Ali ‘Imran: 19]

قال ابن كثير في تفسيرها: إخبار منه تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم، فمن لقي الله بعد بعثته بدين على غير شريعته، فليس بمتقبل منه، كما قال الله تعالى: {وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [آل عمران:٨٥]. انتهى.

Imam Ibnu Katsir memaparkan di dalam kitab tafsirnya saat mengulas ayat ini: “Ini merupakan kabar informasi dari Allah Ta‘ala bahwasanya tidak ada agama di sisi-Nya yang Dia terima dari seorang pun selain Islam. Yaitu aktivitas konsisten mengikuti para rasul pada setiap kurun waktu saat mereka diutus oleh Allah, hingga para nabi tersebut ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana dengannya Allah menutup seluruh jalur menuju kepada-Nya kecuali jalur yang ditempuh dari arah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barang siapa yang menghadap Allah setelah masa pengutusannya dengan membawa suatu agama yang berdiri di atas selain syariat beliau, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala: ‘Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.’ [Ali ‘Imran: 85].” Selesai kutipan.

فإن الديانات السماوية متفقة فيما تدعو إليه من توحيد الله تعالى التوحيد الخالص، وعدم الإشراك به، وإن اختلفت في بعض التشريعات الفرعية حكمة من الله وابتلاء لعباده ليتبين المطيع من العاصي، قال الله تعالى:

Maka sesungguhnya seluruh syariat langit itu saling bersepakat (seia sekata) pada perkara pokok yang mereka serukan, yaitu mentauhidkan Allah Ta‘ala dengan tauhid yang murni serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Meskipun mereka saling berbeda di dalam sebagian rincian undang-undang hukum yang bersifat cabang (at-tasyri‘at al-far‘iyyah), sebagai bentuk hikmah dari Allah sekaligus ujian bagi hamba-hamba-Nya agar tampak jelas siapa golongan yang taat dan siapa golongan yang bermaksiat. Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ [النحل: ٣٦]

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’…” [Al-Nahl: 36]

وقال تعالى:

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ [المائدة: ٤٨]

“…Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan (syariat) dan jalan yang terang (manhaj). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” [Al-Ma’idah: 48]

وفي صحيح البخاري ومسند الإمام أحمد وغيرهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الأنبياء أخوة لعلاّت، أمهاتهم شتى، ودينهم واحد.

Dan di dalam kitab Shahih al-Bukhari serta Musnad Imam Ahmad dan selain keduanya, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Para nabi itu adalah saudara sebapak (abna’u ‘allat), ibu-ibu mereka beraneka ragam sedangkan agama mereka adalah satu.”

وقد ختم الله الرسالات برسالة محمد صلى الله عليه وسلم، ونسخ بشريعته كل الشرائع، وجعلها باقية إلى يوم القيامة، وأرسله بها إلى الناس كافة، لا يقبل الله من أحد بعد مبعثه ديناً غير الإسلام، قال تعالى: {وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [آل عمران:٨٥].

Dan sungguh Allah telah menutup segala risalah samawi dengan diutusnya risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menghapus (nasakha) seluruh syariat terdahulu dengan syariat beliau. Allah menjadikan syariat ini abadi berlaku hingga hari kiamat, dan mengutus beliau dengannya kepada segenap umat manusia secara keseluruhan (kaffah). Allah tidak akan menerima agama apa pun dari seseorang setelah masa pengutusan beliau selain Agama Islam, sebagaimana firman-Nya Ta‘ala: ‘Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.’ [Ali ‘Imran: 85].

والذي أنزله الله تعالى على موسى عليه السلام التوراة فيها تفصيل لكل شيء، والذي أنزل على عيسى عليه السلام هو الإنجيل وفيه هدى ونور، وإباحة لبعض ما حرم في التوراة، وقد نسخ الله ذلك كله بالقرآن الكريم، وختم الرسالات برسالة محمد صلى الله عليه وسلم.

Maka adapun kitab yang diturunkan oleh Allah Ta‘ala kepada Nabi Musa ‘alaihi as-salaam adalah Kitab Taurat yang di dalamnya memuat penjelasan rinci bagi segala sesuatu (pada masanya). Sedangkan kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihi as-salaam adalah Kitab Injil yang di dalamnya mengandung petunjuk dan cahaya, serta membawa hukum kebolehan (legalitas) atas sebagian perkara yang sebelumnya diharamkan di dalam Kitab Taurat. Dan sungguh Allah telah menghapus lembaran kitab-kitab tersebut seluruhnya dengan diturunkannya Al-Qur’anul Karim, serta mematri penutup risalah dengan risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وما يدين به الآن اليهود أو النصارى محرف غاية التحريف، ومبدل كل التبديل بشهادة القرآن، وكفى به شهيداً، وبشهادة بعضهم على بعض.

Oleh karena itu, apa yang dipeluk dan diyakini oleh kaum Yahudi maupun Nasrani pada masa sekarang merupakan ajaran yang telah terdistorsi dengan puncak distorsi (muharrafun ghayatal tahrif), serta telah diubah dengan perombakan total, berdasarkan persaksian langsung dari Al-Qur’an —dan cukuplah Allah sebagai saksi— serta berdasarkan persaksian internal di antara sesama sekte mereka sendiri.

ولو لم يحرفوا ويبدلوا ما جاءتهم به أنبياؤهم وعملوا بمقتضى ذلك لكان لزاماً عليهم أن يؤمنوا بنبوة محمد صلى الله عليه وسلم ويتبعوه، لأن أنبياءهم أمروهم باتباع محمد صلى الله عليه وسلم، ونصت على ذلك كتبهم الخالية من التحريف، كما قال تعالى:

Seandainya mereka tidak mengubah-ubah serta tidak merombak apa yang dibawa oleh para nabi mereka dahulu, lalu mereka konsisten beramal sesuai konsekuensi aslinya, niscaya wajib bagi mereka secara otomatis untuk beriman kepada kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengekor mengikutinya. Hal itu dikarenakan nabi-nabi mereka sendiri yang memerintahkan mereka untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan perkara tersebut telah termaktub tegas di dalam kitab-kitab suci mereka sebelum tersentuh tangan distorsi. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ [الصف: ٦]

Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” [Al-Shaff: 6]

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.