يطلب من الأمة تعلم العلوم السياسية
Umat Dituntut untuk Mempelajari Ilmu Politik
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Umat Dituntut untuk Mempelajari Ilmu Politik ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Tsaqafah Islamiyyah
السؤال:
Pertanyaan:
أريد أن أدرس في الجامعة تخصص العلوم السياسية. فهل يجوز ذلك، لأنني سمعت أنها تؤدي إلى الإلحاد؟ وجزاكم الله كل خير.
Saya ingin kuliah di universitas dengan mengambil spesialisasi (jurusan) Ilmu Politik. Apakah hal tersebut diperbolehkan? Karena saya mendengar bahwa jurusan tersebut dapat mengantarkan kepada ateisme (al-ilhad). Semoga Allah membalas Anda dengan segala kebaikan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فقد أمر الله تعالى بطلب العلم، وأمر رسوله صلى الله عليه وسلم أن يسأله الازدياد منه، فقال تعالى:
Maka sungguh Allah Ta‘ala telah memerintahkan untuk menuntut ilmu, dan Dia memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memohon tambahan dari ilmu tersebut. Allah Ta‘ala berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْماً [طـه: ١١٤]
“Dan katakanlah: ‘Ya Rabb-ku, tingkatkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'” [Thaha: 114]
وجعله النبي صلى الله عليه وسلم من الفرائض المحتمات، فقال: طلب العلم فريضة على كل مسلم. رواه الطبراني وغيره، وصححه الألباني.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai bagian dari kewajiban-kewajiban yang mutlak, di mana beliau bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” Diriwayatkan oleh At-Thabrani dan selainnya, serta dishahihkan oleh Al-Albani.
والمقصود بالعلم هنا: كل علم نافع، وعلى رأس هذه العلوم علم الشريعة الغرَّاء، فعُلم بهذا أن الطب والهندسة والتربية والسياسة والاقتصاد والعلوم السياسية علوم يجب على الأمة تعلمها لما فيها من المنافع، وأن المرء يثاب على طلبها إذا قصد بذلك وجه الله تعالى.
Dan yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah setiap ilmu yang bermanfaat (ilmun nafi‘), yang mana di barisan terdepan dari ilmu-ilmu ini adalah ilmu syariat yang mulia. Maka dengan ini dapat diketahui bahwa ilmu kedokteran, teknik, pendidikan, siyasah (manajemen ketatanegaraan), ekonomi, serta ilmu politik merupakan ilmu-ilmu yang **wajib atas umat untuk mempelajarinya** (fardhu kifayah) karena adanya berbagai kemaslahatan di dalamnya. Dan bahwasanya seseorang akan diberi pahala atas usahanya menuntut ilmu tersebut apabila ia meniatkannya demi mengharap keridhaan Allah Ta‘ala.
وعلى طالب أحد هذه العلوم أن يطلب ما تحتاج إليه الأمة أولاً دون غيره، وهذه العلوم النافعة قد يختلط بها أحياناً ما لا يفيد، بل قد يختلط بها ما يضر، فعلى طالب العلم عندها أن يأخذ ما صفا ويترك ما كدر، إذ يندر في هذه الأيام أن يوجد أحد هذه العلوم صافياً من الأكدار.
Dan wajib bagi penuntut salah satu dari ilmu-ilmu ini untuk mendahulukan pencarian terhadap apa yang sangat dibutuhkan oleh umat terlebih dahulu sebelum perkara lainnya. Ilmu-ilmu yang bermanfaat ini adakalanya tersisipi oleh hal-hal yang tidak berguna, bahkan terkadang bercampur dengan perkara yang dapat membawa mudarat. Maka bagi penuntut ilmu pada kondisi tersebut wajib mengambil apa yang jernih (bermanfaat/bersih) dan mencampakkan apa yang keruh (menyimpang/merusak). Sebab, sangatlah langka pada masa-masa sekarang ini ditemukan salah satu dari cabang ilmu tersebut yang benar-benar steril murni dari unsur-unsur yang mengeruhkan.
فإن خاف من الانزلاق في مهاويها تركها وبحث عن غيرها حفاظاً على نفسه وتحصيناً لدينه، والسلامة لا يعدلها شيء.
Oleh karena itu, seandainya ia khawatir dirinya akan tergelincir ke dalam jurang penyimpangannya (seperti syubhat yang mengarah pada kekufuran/ateisme), maka hendaknya ia meninggalkan jurusan tersebut dan mencari bidang ilmu lainnya demi menjaga keselamatan dirinya serta membentengi agamanya. Karena sesungguhnya keselamatan dalam beragama itu tidak dapat ditandingi oleh apa pun.
والقاعدة: أن درء المفاسد مقدم على جلب المصالح.
Dan sebuah kaidah fikih menetapkan: Bahwasanya mencegah kerusakan-kerusakan (dar’ul mafasid) itu wajib didahulukan daripada mengambil kemaslahatan-kemaslahatan (jalbul mhashalih).
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply