Universalitas Islam Tampak Nyata di Dalam Ajaran-Ajarannya



عالمية الإسلام ظاهرة في تعاليمه

Universalitas Islam Tampak Nyata di Dalam Ajaran-Ajarannya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Universalitas Islam Tampak Nyata di Dalam Ajaran-Ajarannya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Tsaqafah Islamiyyah

السؤال:

Pertanyaan:

ما هي أهمية عالمية الإسلام وما مظاهرها؟

Apakah urgensi (kepentingan) dari universalitas (kesemestaan) Islam dan apa saja manifestasi (pancaran) buktinya?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فتكمن أهمية عالمية الإسلام في كونه ديناً يجب على العالَمين أن يدينوا الله به ، وأنه دين الله تعالى الذي لا يرضى من أحدٍ ديناً سواه. قال تعالى :

Maka letak urgensi dari sifat universalitas Islam (‘alamiyyatul islam) itu berada pada kedudukannya sebagai satu-satunya agama yang wajib dipeluk oleh seluruh penduduk alam semesta demi menghambakan diri kepada Allah. Serta bahwasanya ia adalah agama Allah Ta‘ala yang mana Dia tidak akan rida terhadap agama apa pun dari seseorang selain Islam. Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ [آل عمران: ١٩]

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” [Ali ‘Imran: 19]

وقال تعالى :

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران: ٨٥]

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]

كما أنه أيضاً هو دين جميع الأنبياء والمرسلين من لدن آدم عليه السلام إلى خاتم الأنبياء نبينا محمد صلى الله عليه وسلم فكلهم كانوا مسلمين ، وانظر الفتاوى الأخرى هنا.

Di samping itu, Islam juga merupakan benang merah agama yang dibawa oleh seluruh para nabi dan rasul; semenjak Nabi Adam ‘alaihi as-salaam hingga pamungkas para nabi, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka mereka semuanya pada hakikatnya adalah muslimin (orang-orang yang berserah diri kepada Allah). Silakan merujuk ulasannya pada fatwa-fatwa lainnya di sini :

وأما مظاهر كون هذا الدين للعالمين فإنها تتجلى في كثير من شرائعه وعباداته الوافية بحاجة الناس، والصالحة لكل زمان ومكان.

Adapun mengenai manifestasi (pancaran bukti) bahwasanya agama ini diperuntukkan bagi seluruh alam semesta, maka hal tersebut tampak nyata (gamblang) di dalam banyak ketetapan syariat serta ibadah-ibadahnya yang sangat akomodatif dalam memenuhi fitrah kebutuhan manusia, sekaligus relevan/layak diterapkan di setiap ruang zaman dan belahan tempat (shalihun likulli zamanin wa makanin).

فهاتان الشهادتان اللتان هما مفتاح الدخول في هذا الدين من نطق بهما معتقداً لمعناهما صار مسلماً سواء كان عربياً أو أعجمياً ، أبيض أو أسود ، غنياً أو فقيراً ، وصار أخاً للمسلمين له ما لهم وعليه ما عليهم.

Tengoklah pada pusaran Dua Kalimat Syahadat ini, yang mana ia merupakan anak kunci utama untuk memasuki gerbang agama ini. Barang siapa yang mengikrarkannya seraya meyakini maknanya di dalam hati, maka ia seketika sah menjadi seorang muslim; sama saja apakah ia orang Arab maupun orang non-Arab (‘ajami), berkulit putih maupun berkulit hitam, kaya-raya maupun miskin Papa. Ia langsung bertransformasi menjadi saudara kandung seiman bagi kaum muslimin lainnya, yang memiliki hak dan kewajiban yang setara.

وهذه الصلاة التي هي أعظم أركان الإسلام بعد الشهادتين يجتمع لها المسلمون ويقفون صفاً واحداً بين يدي الله لا فرق بين أسود وأبيض ، ولا بين غني وفقير ، الكل يسجد لله.. يسجدون معاً ويركعون معاً ويسلمون معاً.

Demikian pula dengan ibadah sholat, yang merupakan rukun Islam paling agung setelah syahadat. Kaum muslimin berkumpul untuk mendirikannya dan berdiri merapatkan barisan di dalam satu saf yang lurus di hadapan Allah. Sama sekali tidak ada sekat pemisah antara si hitam dan si putih, tidak ada pula jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Semuanya bersujud menghamba kepada Allah; mereka bersujud bersama, rukuk bersama, dan melakukan salam penutup secara bersama-sama.

وكذلك الحج يجتمع فيه المسلمون من مشارق الأرض ومغاربها يقفون في صعيد واحد ، لباسهم واحد ، يجأرون إلى الله بالتلبية والتهليل والدعاء ، القوي منهم يمد يد العون للضعيف بغض النظر عن لونه وجنسه وحالته الاجتماعية أو المالية ، وقل مثل ذلك في الصوم والزكاة وغيرها من شعائر الدين.

Begitu halnya dengan ibadah haji, di mana kaum muslimin dari segenap ufuk timur bumi hingga ufuk baratnya tumpah ruah berkumpul menjadi satu. Mereka berdiri wukuf di satu hamparan tanah lapang yang sama, mengenakan pakaian ikram dengan corak warna putih seragam yang sama, serta melantunkan gemuruh suara yang sama mengagungkan Allah melalui kalimat talbiah, tahlil, dan untaian doa. Orang yang kuat di antara mereka tanpa ragu mengulurkan tangan bantuan bagi yang lemah, tanpa memandang warna kulit, asal usul ras, strata sosial, maupun kekuatan finansialnya. Dan katakanlah hal yang serupa pada ibadah puasa, penunaian zakat, serta syiar-syiar agama lainnya.

بل من مظاهر عالمية هذا الدين أن المسلم في الشرق يتألم لحال أخيه المسلم في الغرب، ويدعو له بظهر الغيب ، ويوالي ويعادي من أجله مع أنه لم يره ولم يلتق به من قبل ، ولكن جمعت بين قلوبهم أواصر الأخوة في هذا الدين العظيم.

Bahkan, di antara bukti kesemestaan agama ini yang paling menakjubkan adalah lahirnya ikatan batin di mana seorang muslim di belahan bumi bagian timur dapat ikut merasakan kepedihan (sakit) yang melanda saudara muslimnya di belahan bumi bagian barat. Ia akan tulus memanjatkan doa kebaikan untuk saudaranya tersebut tanpa sepengetahuannya (bizhahril ghaib), serta siap memberikan pembelaan (wala’) karenanya, meskipun ia belum pernah melihat wajahnya dan belum pernah bersua dengannya secara fisik sebelumnya. Hal itu tidak lain karena hati-hati mereka telah diikat kuat oleh simpul tali persaudaraan (ukhuwah) di dalam naungan agama yang agung ini.

وصدق الله العظيم إذ يقول :

Dan teramat benar firman Allah Yang Maha Agung saat Dia menegaskan:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا [الأعراف: ١٥٨]

Katakanlah: “Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…” [Al-A’raf: 158]

ومن تأمل في النصوص الشرعية من الكتاب والسنة وجدها غنية ببيان كون هذا الدين ديناً للعالمين ، وأنهم فيه سواء لا فرق بينهم إلا بالتقوى والعمل الصالح ، وراجع لمزيد من الفائدة الفتوى الأخرى هنا.

Dan barang siapa yang sudi mentadaburi teks-teks syariat (annushush as-syar‘iyyah) dari Al-Kitab maupun As-Sunnah, niscaya ia akan mendapati khazanah dalil yang sangat melimpah dalam menjelaskan status agama ini sebagai amanah bagi seluruh alam. Dan bahwasanya seluruh umat manusia berkedudukan setara di dalamnya; tidak ada unsur perbedaan (privilese) di antara mereka melainkan hanya dibedakan berdasarkan timbangan ketakwaan serta amal salehnya. Silakan merujuk pada fatwa lainnya di sini untuk tambahan faidah ulasan :

والله أعلم .

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.