من نتائج الهجرة قيام الدولة الإسلامية
Di Antara Hasil Hijrah: Berdirinya Negara Islam (Bagian Kedua)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Di Antara Hasil Hijrah: Berdirinya Negara Islam (Bagian Kedua) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
ولا شك أن العادات تتحكم في الإنسان ، ويصعب عليه التخلص منها واكتساب عادات وصفات جديدة ، ولكن ما ولّده الإسلام في أنفسهم من إيمان عميق مكّنهم من الانخلاع من الشخصية الجاهلية بكل ملامحها واكتساب الشخصية الإسلامية بكل مقوماتها ، فاعتادوا على عبادة الله تعالى وحده ، بالصلاة والصوم والحج والزكاة والجهاد ، وقصده بكل أعمال الخير الأخرى ، والتقرب إليه بالذكر والشكر ، والصبر على البلوى ، والإنابة إليه ، والدعاء إليه ، والرغبة في فضله ورحمته ، وامتلاء القلب بالتوحيد والإخلاص والرجاء .
Tidak diragukan lagi bahwa adat kebiasaan itu mengendalikan manusia, dan sulit baginya untuk melepaskan diri darinya serta memperoleh kebiasaan dan karakter baru. Akan tetapi, apa yang ditumbuhkan oleh Islam di dalam jiwa mereka berupa keimanan yang mendalam telah memampukan mereka untuk mencopot kepribadian jahiliah dengan segala fiturnya dan memperoleh kepribadian Islami dengan segala pilar penyusunnya. Maka mereka terbiasa untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata, melalui shalat, puasa, haji, zakat, dan jihad, serta meniatkan ibadah kepada-Nya dalam seluruh amal kebajikan lainnya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan zikir dan syukur, bersabar atas cobaan, kembali tunduk kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, berharap akan karunia serta rahmat-Nya, dan penuhlah hati mereka dengan tauhid, keikhlasan, serta pengharapan.
واعتادوا أيضاً على استحضار النية لله في نشاطهم الاجتماعي والاقتصادي والسياسي ؛ لان العبادة في الإسلام مفهومها واسع يمتد لكل عمل يقوم به الإنسان إذا قصد به وجه الله وطاعته . وإلى جانب الاعتياد على الطاعات ، فإن المسلمين تخلصوا من العادات المتأصلة التي نهى عنها الإسلام كشرب الخمر و الأنكحة الجاهلية والربا ومنكرات الأخلاق من الكذب والخيانة والغش والغيبة والحسد والكبر والظلم …
Dan mereka juga terbiasa untuk menghadirkan niat karena Allah dalam aktivitas sosial, ekonomi, dan politik mereka; karena ibadah dalam Islam memiliki konsep yang luas, mencakup setiap amal yang dilakukan oleh manusia apabila dia meniatkannya demi mengharap keridhaan Allah dan ketaatan kepada-Nya. Di samping terbiasa melakukan ketaatan, kaum muslimin juga membebaskan diri dari adat kebiasaan yang telah mengakar yang dilarang oleh Islam; seperti meminum khamr (khamr), pernikahan-pernikahan jahiliah, riba (ribaa), serta akhlak-akhlak tercela seperti dusta, khianat, curang, ghibah (ghiibah), hasad, sombong, dan kezaliman…
وهكذا فإن الدولة الإسلامية التي أقامها رسول الله صلى الله عليه وسلم في المدينة كونت مجتمعاً ربانياً يسعى أفراده في العمران الأدبي والمادي للأرض ويتطلعون إلى ما عند الله من النعيم المقيم .
Demikianlah, sesungguhnya Negara Islam yang didirikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Madinah telah membentuk sebuah masyarakat rabbani (rabbaaniyy) yang setiap individunya berusaha melakukan pembangunan moral dan material di muka bumi, serta senantiasa mendambakan kenikmatan yang kekal di sisi Allah.
ب- الأخوة ووحدة الصف :
B- Persaudaraan dan Persatuan Barisan:
إن الأساس الذي بنيت عليه العلاقات في مجتمع الدولة الإسلامية هو الاخوة الإيمانية التي حددتها الآية الكريمة :
Sesungguhnya fondasi yang menjadi dasar bagi hubungan-hubungan di dalam lingkungan masyarakat Negara Islam adalah persaudaraan seiman yang digariskan oleh ayat yang mulia:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ [الحجرات: 10]
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara” [Al-Hujurat: 10]
فالأخوة الصادقة لا تكون إلا بين المؤمنين ، وهم يقفون صفاً واحداً للجهاد في سبيل الله ولبناء قوة الدولة العسكرية والاقتصادية والاجتماعية ، وذلك برص صفوفهم ، والتعاون فيما بينهم ، وشيوع المحبة والألفة في مجتمعهم . قال تعالى :
Maka persaudaraan yang tulus itu tidak akan terwujud kecuali di antara orang-orang beriman, dan mereka berdiri dalam satu barisan yang kokoh untuk berjihad di jalan Allah serta demi membangun kekuatan militer, ekonomi, dan sosial negara, yaitu dengan merapatkan barisan mereka, saling bekerja sama di antara sesama mereka, serta menebarkan rasa cinta dan kasih sayang di tengah masyarakat mereka. Allah Ta‘aala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ [الصف: 4]
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” [As-Shaff: 4]
ج- الطاعة بالمعروف في المنشط والمكره :
C- Ketaatan yang Baik dalam Suka maupun Duka:
اتسم جيل الصحابة رضوان الله عليهم بالطاعة الكاملة لأوامر الله تعالى وأوامر رسوله صلى الله عليه وسلم ، فقد كانوا يقرؤون القرآن وكأنه ينزل على كل واحد منهم – رجلاً كان أم امرأة – غضاً طرياً ، وكانت لغة التخاطب بينهم هي الفصحى التي نزل بها القرآن ، وقد أعانهم ذلك على فهم الخطاب الإلهي بسهولة ويسر ، كما ولّد الأثر القوي في نفوسهم ، وسرعة الاستجابة التامة لتعاليمه وأحكامه .
Generasi para shahabat (shahaabah) radhiyallaahu ‘anhum dicirikan oleh ketaatan yang sempurna terhadap perintah-perintah Allah Ta‘aala dan perintah-perintah Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh mereka dahulu membaca Al-Qur’an seolah-olah ayat-ayat tersebut sedang diturunkan kepada masing-masing dari mereka—baik pria maupun wanita—dalam keadaan yang masih segar dan baru. Bahasa percakapan di antara mereka adalah bahasa fusha (fush-ha) yang menjadi bahasa turunnya Al-Qur’an, dan hal itu telah membantu mereka untuk memahami seruan Ilahi dengan mudah dan gamblang, sebagaimana hal tersebut juga melahirkan pengaruh yang kuat di dalam jiwa mereka, serta kecepatan merespons secara total terhadap ajaran dan hukum-hukumnya.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply