أسلوب التفضيل في قوله تعالى: {أحسن الخالقين}
Gaya Bahasa Isim Tafdhil dalam Firman Allah Ta’ala: Ahsanul Khaliqiin (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Gaya Bahasa Isim Tafdhil dalam Firman Allah Ta’ala: Ahsanul Khaliqiin (Bagian Pertama) ini masuk dalam Kategori Bahasa Al Quran
جاء في القرآن الكريم بعد الحديث عن مراحل خلق الإنسان ونشأته قوله تعالى :
Telah disebutkan di dalam Al-Qur’an Al-Karim setelah pembahasan mengenai tahapan-tahapan penciptaan manusia dan perkembangannya, firman Allah Ta‘aala:
فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ [المؤمنون: 14]
“Maka Maha Suci Allah, Penciptapencipta Yang Paling Baik” [Al-Mu’minun: 14]
وفي دعوة النبي إلياس لقومه نقرأ قوله تعالى :
Dan dalam dakwah Nabi Ilyas kepada kaumnya, kita membaca firman Allah Ta‘aala:
أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ [الصافات: 125]
“Patutkah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta” [As-Shaffat: 125]
ولفظ {أحسن} في العربية على وزن (أفعل)، وهذه الصيغة من صيغ التفضيل، وهي تفيد تفضيل شيء على شيء .
Dan lafadz ahsan di dalam bahasa Arab mengikuti wazan af’ala, di mana bentuk (shiygat) ini termasuk dari bentuk komparatif atau superlatif (isim tafdhiil), yang berfaedah untuk melebihkan sesuatu di atas sesuatu yang lain.
وبحسب هذه الصيغة ودلالاتها، فقد يفهم بعض الناس أن لفظ {أحسن} يقتضي وجود خالق غير الله؛ لأن قولنا: هذا أحسن من هذا، يقتضي وجود حسن وأحسن، أي: وجود شيئين أحدهما أحسن من الآخر. وهذا يتنافى مع ما هو مقرر في عقيدة الإسلام، التي تقوم على إفراد الله بالخلق، والإيجاد من العدم. فكيف يكون وجه التوفيق بين هذا اللفظ القرآني، وما هو مقرر في عقيدة الإسلام؟
Berdasarkan bentuk ini beserta maknanya, sebagian manusia terkadang memahami bahwa lafadz ahsan mengonsekuensikan adanya pencipta selain Allah; karena perkataan kita: “ini lebih baik daripada ini”, mengonsekuensikan adanya sesuatu yang baik (hasan) dan sesuatu yang lebih baik (ahsan), artinya: terdapat dua hal yang mana salah satunya lebih baik dari yang lain. Hal ini bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan dalam akidah (‘aqiidah) Islam, yang tegak di atas prinsip mengesakan Allah dalam hal menciptakan serta mengadakan sesuatu dari ketiadaan. Maka bagaimanakah bentuk penyelarasan antara lafadz Al-Qur’an ini dengan apa yang telah ditetapkan dalam akidah Islam?
إن معاجم العربية تقرر تحت مادة (خلق) أن هذه مادة تطلق على معنيين أساسيين؛ الأول: تطلق بمعنى الخلق والإبداع والإيجاد من العدم، وهذا المعنى يختص به الله سبحانه، وليس هو من صفات الإنسان؛ وعلى هذا المعنى جاء قوله تعالى :
Sesungguhnya kamus-kamus bahasa Arab menetapkan di bawah entri kata (khalaqa) bahwa materi kata ini mutlak digunakan untuk dua makna dasar; pertama: digunakan dengan arti menciptakan, menginovasikan, dan mengadakan sesuatu dari ketiadaan (al-iijaad minal ‘adam). Makna ini dikhususkan bagi Allah Subhanahu semata, dan bukan termasuk dari sifat manusia. Dan berdasarkan makna inilah turun firman Allah Ta‘aala:
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ [الأعراف: 54]
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah” [Al-A’raf: 54]
فالله سبحانه هو الخالق لكل ما في الوجود، وهو الموجد من العدم، لا يشاركه أحد من الخلق في هذا الصفة .
Maka Allah Subhanahu Dialah Pencipta bagi segala sesuatu yang ada di dalam eksistensi ini, dan Dialah Yang Mengadakan dari ketiadaan, tidak ada seorang pun dari makhluk yang berserikat dengan-Nya dalam sifat ini.
وتطلق مادة (خلق) في اللغة على معنى التقدير والصنع؛ ولفظ (الخلق) بحسب هذا المعنى قد يوصف به غير الله تعالى؛ من ذلك قول العرب: رجل خالق، أي: صانع؛ وقالوا: خلق النعل، إذا قدرها وسواها بالقياس، وعلى هذا جاء كلام العرب .
Dan materi kata (khalaqa) di dalam bahasa digunakan juga untuk arti mengukur (at-taqdiir) dan membuat (as-shun’); dan lafadz al-khalq berdasarkan makna ini terkadang dapat disematkan sebagai sifat bagi selain Allah Ta‘aala. Di antaranya adalah perkataan orang Arab: “seorang pria yang khaaliq“, artinya: pembuat (shani’). Dan mereka berkata: “ia telah memotong kulit terompah (khalaqan na’la)”, apabila ia mengukurnya dan menyamakannya dengan menggunakan ukuran standar. Dan di atas landasan inilah perkataan orang Arab berlaku.
قال زهير بن أبي سلمى يمدح رجلاً :
Zuhair bin Abi Sulma berkata saat memuji seorang pria:
وَلَأَنْتَ تَفْرِي مَا خَلَقْتَ وَبَعْضُ الْقَوْمِ يَخْلُقُ ثُمَّ لَا يَفْرِي
“Dan sungguh engkau pasti memotong apa yang telah engkau ukur, sementara sebagian kaum hanya bisa mengukur lalu ia tidak memotongnya”
يقول زهير في مدحه ذلك الرجل: إنك إذا بدا لك أن تفعل أمرًا فعلته، لا يمنعك من ذلك مانع؛ لأنك صاحب همة وعزيمة؛ في حين أن غيرك إذا بدا له أن يفعل شيئًا ما، فهو لا يقدر على فعل شيء؛ لأنه ضعيف الهمة والإرادة .
Zuhair mengatakan di dalam pujiannya kepada pria tersebut: “Bahwasanya engkau apabila tampak bagimu tekad untuk melakukan suatu urusan maka engkau pasti melaksanakannya, tidak ada satu penghalang pun yang mencegahmu dari hal itu; karena engkau adalah pemilik cita-cita yang tinggi dan keteguhan tekad. Sementara orang selainmu apabila tampak baginya tekad untuk melakukan sesuatu, ia tidak akan mampu mewujudkannya; karena ia lemah cita-cita dan kehendaknya.”
وقال الكميت يصف وعاء ماء :
Dan Al-Kumait berkata saat menggambarkan sebuah wadah air:
لَمْ يَجْشَمِ الْخَالِقَاتُ فِرْيَتَهَا وَلَمْ يَغِضْ مِنْ نِطَافِهَا السَّرِبُ
“Para wanita pembuat wadah tidak merasa payah saat mengukurnya, dan air jernihnya tidak merembes keluar dari celah jahitan yang bocor”
والمقصود بـ (الخالقات) في البيت: الصانعات لأوعية الماء .
Dan yang dimaksud dengan kata (al-khaalikaat) di dalam bait syair tersebut adalah: para wanita pembuat wadah air.
وجاء في حديث أخت أمية بن أَبي الصلت: فدخل علي وأنا أخلق أديماً، أي: أقيس الجلد لأقصه بحسب الطلب والحاجة .
Dan disebutkan di dalam hadits saudara perempuan Umayyah bin Abi Shalt: “Maka ia masuk menemuiku dalam keadaan aku sedang mengukur kulit (akhluqu adiiman)”, maknanya: aku mengukur kulit tersebut untuk memotongnya sesuai dengan permintaan dan kebutuhan.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply