Gaya Bahasa Isim Tafdhil dalam Firman Allah Ta’ala: Ahsanul Khaliqiin (2)



أسلوب التفضيل في قوله تعالى: {أحسن الخالقين}

Gaya Bahasa Isim Tafdhil dalam Firman Allah Ta’ala: Ahsanul Khaliqiin (Bagian Kedua / Terakhir)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Gaya Bahasa Isim Tafdhil dalam Firman Allah Ta’ala: Ahsanul Khaliqiin (Bagian Kedua / Terakhir) ini masuk dalam Kategori Bahasa Al Quran

وقال الحجاج: ما خلقت إلا فريت، ولا وعدت إلا وفيت. أي: إذا قدرت أمرًا أمضيته وأنفذته .

Dan Al-Hajjaj berkata: “Tidaklah aku mengukur (khalaqtu) melainkan aku pasti memotongnya, dan tidaklah aku berjanji melainkan aku pasti menepatinya.” Maknanya: apabila aku merencanakan atau mengukur suatu urusan, aku pasti melangsungkan dan melaksanakannya.

فهذه الشواهد تفيد بأن لفظ (الخلق) يأتي في اللغة بمعنى التقدير والصنع .

Maka bukti-bukti tekstual (syawaahid) ini memberikan faedah bahwa lafadz al-khalq hadir di dalam bahasa dengan arti mengukur (at-taqdiir) dan membuat (as-shun’).

وعلى معنى التقدير والصنع جاء قول عيسى عليه السلام :

Dan berdasarkan makna mengukur dan membuat inilah hadir perkataan Isa ‘alaihis salaam:

أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ [آل عمران: 49]

“bahwa aku membuat untuk kamu dari tanah” [Ali ‘Imran: 49]

فالخلق منه: على معنى التصوير والتقدير، وليس معناه أنه يخلق من العدم. فهو كان يصور من الطين شكل طير، ثم ينفخ فيه فيطير بإذن الله عز وجل .

Maka aktivitas menciptakan (al-khalq) yang dilakukan oleh beliau adalah berdasarkan makna membentuk rupa (at-tashwiir) dan mengukur, bukan maknanya bahwa beliau menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Beliau dahulu membentuk tanah liat menyerupai bentuk burung, kemudian meniupnya, lalu bentuk tersebut menjadi burung yang terbang dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla.

وعلى هذا المعنى الثاني لكلمة (الخلق) ينبغي أن نفهم قوله تعالى: {فتبارك الله أحسن الخالقين} وقوله: {أتدعون بعلاً وتذرون أحسن الخالقين} أي: الصانعين .

Dan berdasarkan makna kedua bagi kata al-khalq ini, sudah sepatutnya kita memahami firman Allah Ta‘aala: “Fatabaarakallaahu ahsanul khaaliqiin” dan firman-Nya: “Atad’uuna ba’lan wa tadzaruuna ahsanul khaaliqiin“, yang artinya: para pembuat (as-shaani’iin).

ثم إن كتب العربية تخبرنا أن صيغة التفضيل (أفعل) قد تأتي في كلام العرب، ولا يراد بها معنى التفضيل، ويعبرون عن هذا بقولهم: وصيغة (أفعل) ليست على بابها، وكتب اللغة غنية بالأمثلة على ذلك .

Kemudian sesungguhnya kitab-kitab bahasa Arab mengabarkan kepada kita bahwa bentuk komparatif-superlatif (af’ala) terkadang hadir di dalam perkataan orang Arab tanpa dimaksudkan untuk makna melebihkan (at-tafdhiil). Mereka mengekspresikan hal ini dengan perkataan mereka: “Bentuk af’ala sedang tidak berjalan pada fungsi asalnya (laisat ‘ala baabihaa)”, dan kitab-kitab linguistik sangat kaya akan contoh-contoh mengenai hal tersebut.

جاء في كتاب (فقه اللغة وسر العربية) لـ الثعالبي فصل بعنوان: فصل في (أفعل) لا يراد به التفضيل، واستشهد لذلك بقول الفرزدق :

Disebutkan di dalam kitab Fiqh al-Lughah wa Sirr al-‘Arabiyyah karya Ats-Tha’alibi sebuah bab dengan judul: “Bab tentang af’ala yang tidak dimaksudkan untuk makna melebihkan”, dan beliau mengambil bukti tekstual untuk hal itu dari perkataan Al-Farazdaq:

إِنَّ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاءَ بَنَى لَنَا بَيْتًا دَعَائِمُهُ أَعَزُّ وَأَطْوَلُ

“Sesungguhnya Dzat yang telah meninggikan langit telah membangun bagi kami sebuah rumah yang tiang-tiang penyangganya sangat kokoh dan tinggi”

فاللفظان (أعز) و(أطول) في البيت ليسا على معنى التفضيل، وإن جاءا على صيغته، ومعنى البيت: إن الله الذي رفع السماء بغير عمد، قد هيأ لنا بيتاً، دعائمه عزيزة وطويلة .

Maka kedua lafadz yakni a’azzu dan athwalu di dalam bait syair tersebut bukan berada di atas makna melebihkan, walaupun keduanya datang menggunakan bentuknya. Arti dari bait tersebut adalah: Sesungguhnya Allah yang telah meninggikan langit tanpa tiang, telah menyediakan bagi kami sebuah rumah yang tiang-tiang penyangganya kokoh (‘aziizah) dan panjang (thawiilah).

ومنه قول قائلهم :

Dan di antaranya adalah perkataan penyair mereka:

تَمَنَّى رِجَالٌ أَنْ أَمُوتَ وَإِنْ أَمُتْ فَتِلْكَ سَبِيلٌ لَسْتُ فِيهَا بِأَوْحَدَ

“Orang-orang berharap agar aku mati, dan jika aku mati maka itu adalah jalan yang mana aku bukanlah satu-satunya orang di sana”

والمعنى: لقد تمنى رجال موتي، فإن يكن ذلك، فلست الوحيد الذي يأتيه الموت؛ فجاء الشاعر بلفظ (أوحد) على صيغة (أفعل)، من غير أن يريد به التفضيل .

Dan maknanya adalah: Orang-orang telah mengharapkan kematianku, maka jika hal itu terjadi, aku bukanlah satu-satunya orang yang didatangi oleh kematian. Penyair mendatangkan lafadz auhad dengan mengikuti bentuk af’ala, tanpa ada maksud untuk menggunakannya sebagai makna melebihkan.

وسواء قلنا: إن الخلق على معنيين، أو إن التفضيل لا يراد به في الآية حقيقة التفضيل، فإن معنى قوله تعالى: {فتبارك الله أحسن الخالقين} صحيح ومستقيم .

Dan baik kita mengatakan bahwa kata al-khalq memiliki dua makna, atau kita mengatakan bahwa makna melebihkan tidak dimaksudkan secara hakiki pada ayat tersebut, maka esensi makna dari firman Allah Ta‘aala: “Fatabaarakallaahu ahsanul khaaliqiin” adalah benar dan lurus.

والله أعلم .

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.