ما ننسخ من آية
Surah Al-Baqarah: 106 : Ayat Apa Saja yang Kami Nasakhkan (Bagian ke-1)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Surah Al-Baqarah: 106 : Ayat Apa Saja yang Kami Nasakhkan (Bagian ke-1) ini masuk dalam Kategori Bahasa Al Quran
(النسخ) في اللغة: الرفع والإزالة؛ وفي الشرع: رفع حكم شرعي بعد ثبوته. والنسخ أمر ثابت وواقع في الكتاب والسنة، لا خلاف في ذلك عند من يُعتد به من أهل العلم. والنسخ من مباحث علم أصول الفقه، وقد أشبعه أصحاب هذا العلم بحثًا وتحريرًا، وليس حول هذا يدور حديثنا، وإنما على أمر يتعلق بقوله تعالى:
(An-Nasakh) secara bahasa bermakna: mengangkat (menghilangkan) dan menghapuskan; sedangkan secara syariat bermakna: mengangkat hukum syariat setelah ketetapannya. Dan nasakh merupakan perkara yang tsabit (tetap) lagi terjadi di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal tersebut di sisi para ahli ilmu yang perkataannya dianggap. Dan nasakh merupakan bagian dari pembahasan ilmu ushul fiqih (ushuul al-fiqh), yang mana para penulis ilmu ini telah melimpahkan pembahasan dan penelitian di dalamnya secara mendalam, dan bukanlah di sekitar perkara ini pembahasan kita berputar, melainkan pada suatu perkara yang berkaitan dengan firman Allah Ta’ala:
{ما ننسخ من آية أو ننسها نأتِ بخير منها أو مثلها} (البقرة:106).
“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya” [Al-Baqarah: 106]
ومعنى الآية كما قال الطبري:
Dan makna ayat ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ath-Thabari adalah:
“ما نبدِّل من حكم آية، فنغيرِّه، أو نترك تبديله فنقره بحاله، نأتِ بخير منها لكم من حكم الآية التي نسخنا، فغيَّرنا حكمها؛ إما في العاجل، لخفته عليكم، من أجل أنه وَضْعُ فَرْضٍ كان عليكم، فأسقط ثقله عنكم، وذلك كالذي كان على المؤمنين من فرض قيام الليل، ثم نُسخ ذلك فوُضع عنهم، فكان ذلك خيرًا لهم في عاجلهم، لسقوط عبء ذلك، وثقل حمله عنهم؛ وإما في الآجل، لعظم ثوابه، من أجل مشقة حمله، وثقل عبئه على الأبدان”.
“Apa saja yang Kami ubah dari hukum suatu ayat lalu Kami menggantinya, atau Kami biarkan perubahannya lalu Kami tetapkan ia pada keadaannya, niscaya Kami mendatangkan yang lebih baik darinya bagi kalian berupa hukum ayat yang telah Kami nasakhkan lalu Kami ubah hukumnya; adakalanya dalam waktu dekat (di dunia), karena ringannya hukum tersebut bagi kalian, disebabkan ia merupakan pengguguran kewajiban yang tadinya dibebankan atas kalian, lalu Dia menggugurkan bebannya yang berat dari kalian, yang mana hal itu seperti kewajiban shalat malam yang tadinya dibebankan atas kaum mukminin, kemudian hal tersebut dinasakhkan lalu digugurkan dari mereka, maka yang demikian itu lebih baik bagi mereka di dunia mereka, karena runtuhnya beban tersebut serta ringannya beban memikulnya dari mereka; dan adakalanya di akhirat kelak, karena besarnya pahala yang didapat, disebabkan besarnya kesulitan dalam memikulnya serta beratnya beban hal itu atas badan.”
هذا هو المعنى العام للآية. ولا يعنينا هنا الخوض في مسائل فرعية تتعلق بهذه الآية خصوصًا، وبمسألة النسخ عمومًا، ولكن ما يعنينا في هذا المقام الإجابة على السؤال التالي: هل ثَمَّةَ تعارض بين هذه الآية – نعني آية النسخ التي بين أيدينا – وقوله تعالى:
Inilah makna umum dari ayat tersebut. Dan tidaklah menjadi fokus kita di sini untuk masuk ke dalam masalah-masalah cabang yang berkaitan dengan ayat ini secara khusus, maupun masalah nasakh secara umum, akan tetapi yang menjadi fokus kita pada kedudukan ini adalah menjawab pertanyaan berikut: Apakah ada pertentangan antara ayat ini—yang kami maksud adalah ayat nasakh yang berada di hadapan kita saat ini—dengan firman Allah Ta’ala:
{وتمت كلمة ربك صدقًا وعدلاً لا مبدل لكلماته} (الأنعام:115)
“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya” [Al-An’am: 115]
وقوله أيضًا جلَّ علاه:
dan firman-Nya juga Jalla ‘Ulaahu:
{واتل ما أُوحيَ إليك من كتاب ربك لا مبدل لكلماته} (الكهف:27).
“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya” [Al-Kahfi: 27]
نقول: إن ظاهر هاتين الآيتين الكريمتين يدل على أنهما تعارضان ما جاء في آية النسخ:
Kita katakan: Sesungguhnya makna lahiriah dari kedua ayat yang mulia ini menunjukkan bahwasanya keduanya bertentangan dengan apa yang datang di dalam ayat nasakh:
{ما ننسخ من آية أو ننسها نأتِ بخير منها أو مثلها}
“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya”
فهذه الآية تثبت النسخ، والآيتان الأُخريان تنفيان تبديل كلمات الله، فكيف السبيل إلى التوفيق بين ما ظاهره التعارض والاختلاف، وفي الإجابة على هذا السؤال، نقول:
maka ayat ini menetapkan adanya nasakh, sementara dua ayat lainnya menafikan adanya perubahan pada kalimat-kalimat Allah. Lalu bagaimanakah jalan untuk mengompromikan antara apa yang tampak lahiriahnya sebagai pertentangan dan perbedaan? Maka dalam menjawab pertanyaan ini, kita katakan:
إنه ليس ثمة تعارض بين آية النسخ، وهاتين الآيتين عند التحقيق والتدقيق؛ وبيان ذلك يتضح ببيان المعنى المقصود من هذه الآيات؛ فآية البقرة تقرِّرُ أمرًا حاصله: أن نسخ آية من القرآن إنما مرده إلى الله سبحانه، وأن ذلك من اختصاصه وحده فحسب، ولا شأن للبشر، كائنًا من كان في فعل ذلك. كما تفيد الآية: أن النسخ قد يكون إلى حكم أخف على العباد من الحكم السابق، أو إلى حكم مشابه، أو أثقل منه، على تفصيل في ذلك، ذكره أصحاب التفاسير.
Bahwasanya sama sekali tidak ada pertentangan antara ayat nasakh dengan kedua ayat ini apabila diteliti dan dicermati secara mendalam. Dan penjelasan hal tersebut menjadi jelas dengan menerangkan makna yang dimaksud dari ayat-ayat ini; karena ayat di dalam Surah Al-Baqarah menetapkan suatu perkara yang kesimpulannya adalah: Bahwa menasakh suatu ayat dari Al-Qur’an itu kembalinya mutlak kepada Allah Subhanahu, dan bahwasanya hal tersebut merupakan kekhususan bagi diri-Nya semata, serta tidak ada urusan bagi manusia, siapa pun ia, dalam melakukan hal tersebut. Sebagaimana ayat ini juga memberikan faedah: Bahwasanya nasakh itu terkadang beralih kepada hukum yang lebih ringan bagi para hamba daripada hukum sebelumnya, atau kepada hukum yang serupa, atau yang lebih berat darinya, berdasarkan rincian dalam hal tersebut yang telah disebutkan oleh para ahli tafsir.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply