Surah Al-Mujadilah ayat 1 : Wanita yang Allah Mendengar Perkataannya (2)



المرأة التي سمع الله كلامها

Surah Al-Mujadilah ayat 1 : Wanita yang Allah Mendengar Perkataannya (Bagian 2 / Terakhir)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Surah Al-Mujadilah: 1 : Wanita yang Allah Mendengar Perkataannya (Bagian 2 / Terakhir) ini masuk dalam Kategori Bahasa Al Quran

ثم أخذت تحاور رسول الله لتقنعه أنها تحب زوجها، ولا تريد فراقه، وأنه يبادلها نفس المشاعر، فما كان من رسول الله إلا أن أجابها ثالثة:

Kemudian ia mulai berdialog dengan Rasulullah untuk meyakinkan beliau bahwasanya ia mencintai suaminya, tidak menginginkan perpisahan dengannya, dan bahwasanya suaminya pun membalasnya dengan perasaan yang sama. Maka tidak ada jawaban dari Rasulullah melainkan beliau menjawabnya untuk ketiga kalinya:

(ما أراك إلا قد حرمت عليه)؛

“Aku tidak melihatmu melainkan engkau telah haram baginya”;

ومع هذا، فإنها لم تيأس من رحمة الله، ومن ثم أخذت من جديد تحاور رسول الله صلى الله عليه وسلم، عن طريق التركيز على الجانب العاطفي والإنساني، لعلها تقنعه بإيجاد مخرج للمأزق الذي هي فيه، فتقول له:

namun bersamaan dengan hal itu, ia tidak berputus asa dari rahmat Allah, dan kemudian ia mulai kembali berdialog dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara memfokuskan pada sisi emosional dan kemanusiaan, dengan harapan dapat meyakinkan beliau untuk menemukan jalan keluar dari jalan buntu yang sedang ia hadapi, maka ia berkata kepada beliau:

“فإني وحيدة، ليس لي أهل سواه…إن لي صبية صغارًا، إن ضممتهم إليه ضاعوا، وإن ضممتهم إلي جاعوا،”

“Sesungguhnya aku sebatang kara, tidak ada keluarga bagiku selain dirinya… sesungguhnya aku memiliki anak-anak yang masih kecil, jika aku menyerahkan mereka kepadanya niscaya mereka akan terlantar, dan jika aku membawa mereka bersamaku niscaya mereka akan kelaparan,”

فلا يجد لها رسول الله جوابًا إلا أن يقول لها:

maka Rasulullah tidak mendapati jawaban untuknya melainkan beliau bersabda kepadanya:

(لا أراك إلا قد حرمت)،

“Aku tidak melihatmu melainkan engkau telah haram”,

فلما لم تجد لها جوابًا عند رسول الله، التجأت إلى الله قائلة:

maka tatkala ia tidak mendapati jawaban di sisi Rasulullah, ia bersandar kepada Allah seraya mengucapkan:

“اللهم أنزل على لسان نبيك ما يقضي لي في أمري،”

“Ya Allah, turunkanlah melalui lisan Nabi-Mu apa yang dapat memutuskan perkaraku ini,”

فلم تكد تنتهي من دعائها، حتى أنزل الله على نبيه قوله سبحانه:

maka belum sempat ia menyelesaikan doanya, sampai Allah menurunkan kepada Nabi-Nya firman-Nya Subhanahu:

{قد سمع الله قول التي تجادلك في زوجها وتشتكي إلى الله والله يسمع تحاوركما إن الله سميع بصير}.

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar tanya jawab antara kamu kedua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”

ثم إن رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد أن أنزل الله عليه قرآنًا، بين فيه حكم هذه الواقعة، دعا زوجها أوسًا ، وسأله أن يحرر عبدًا كفارة عن فعله، فأخبر أوس رسول صلى الله عليه وسلم أنه لا طاقة له بذلك، فسأله رسول الله إن كان يستطيع أن يصوم شهرين، فأجابه أنه لا يستطيع؛ لأنه رجل قد تقدم به العمر، والصيام يضعفه، حينئذ طلب منه رسول صلى الله عليه وسلم أن يتصدق على ستين مسكينًا، فأخبره أنه لا يملك من المال ما يتصدق به، فلما رأى عليه الصلاة والسلام من حاله ما رأى، تصدق عنه، وطلب منه أن يعود إلى زوجته.

Kemudian sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Allah menurunkan Al-Qur’an kepada beliau yang menjelaskan hukum dari peristiwa ini, beliau memanggil suaminya yaitu Aus, dan meminta kepadanya untuk memerdekakan seorang budak sebagai kafarat atas perbuatannya. Maka Aus mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya ia tidak memiliki kemampuan untuk hal tersebut. Lalu Rasulullah bertanya kepadanya apakah ia sanggup untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turut, maka ia menjawab bahwasanya ia tidak sanggup; karena ia adalah seorang pria yang telah lanjut usia, dan puasa dapat melemahkannya. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya untuk bersedekah kepada enam puluh orang miskin, maka ia mengabarkan kepada beliau bahwasanya ia tidak memiliki harta yang dapat disedekahkan. Maka tatkala beliau ‘alaihis shalaatu was salaam melihat kondisi dari keadaannya tersebut, beliau bersedekah atas namanya, dan meminta kepadanya untuk kembali kepada istrinya.

وعلى ضوء سبب نزول هذه الآية وما تلاها من آيات، يمكننا الوقوف على بعض القضايا المهمة، والمتعلقة بشأن الأسرة والمجتمع:

Dan berdasarkan sebab turunnya ayat ini beserta ayat-ayat setelahnya, kita dapat mengambil pijakan atas beberapa perkara penting yang berkaitan dengan urusan keluarga dan masyarakat:

أولها: مكانة المرأة في الإسلام، وأن لها من الحقوق، وعليها من الواجبات، كالتي للرجل، إلا ما فضل الله به بعضهم على بعض؛ قال تعالى:

Pertama: Kedudukan wanita di dalam Islam, dan bahwasanya ia memiliki hak-hak serta memikul kewajiban-kewajiban, sebagaimana yang ada pada laki-laki, kecuali apa yang telah Allah lebihkan bagi sebagian mereka di atas sebagian yang lain; Allah Ta’ala berfirman:

{لهن مثل الذي عليهن بالمعروف وللرجال عليهن درجة} (البقرة:228)،

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya” [Al-Baqarah: 228]

وليس الأمر كما يقول البعض: إن الإسلام قد ظلم المرأة، وحرمها الكثير من حقوقها؛ فها هي المرأة تتوجه بشكواها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم في قضية أسرية، ويسمع الله شكواها من فوق سبع سموات، ويُنـزِّل قرآنًا في أمرها، مبينًا المخرج من أزمتها، مما يؤكد منحها كامل الحق في طلب العدل في أمرها، وأمر أسرتها وأبنائها.

Dan perkaranya tidaklah sebagaimana yang diucapkan oleh sebagian orang, bahwasanya Islam telah menzhalimi wanita dan mengharamkannya dari banyak hak-haknya. Karena lihatlah wanita ini mengadukan pengaduannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam permasalahan keluarga, lalu Allah mendengar pengaduannya dari atas langit yang tujuh, serta menurunkan Al-Qur’an dalam urusannya yang menjelaskan jalan keluar dari krisisnya. Hal ini menguatkan pemberian hak penuh kepadanya dalam menuntut keadilan bagi urusannya, urusan keluarganya, serta anak-anaknya.

ثانيها: أن في هذه القصة درسًا عمليًا لنساء الأمة الإسلامية ورجالها، يبين واجب المرأة في الدفاع عن مصالحها ومصالح أسرتها، وأن ذلك حق مشروع لها، لا ينبغي التفريط به بحال من الأحوال.

Kedua: Bahwasanya di dalam kisah ini terdapat pelajaran praktis bagi kaum wanita umat Islam dan kaum lakilakinya, yang menjelaskan kewajiban wanita dalam membela kemaslahatan dirinya serta kemaslahatan keluarganya, dan bahwasanya hal tersebut merupakan hak yang disyariatkan baginya, yang tidak seyogianya diremehkan dalam kondisi bagaimana pun.

وثالثها: معرفة ما يسمى في شريعة الإسلام بأحكام الظهار، وهو أن يحرم الرجل على نفسه جماع زوجته، بأن يشبهها بأحد محارمه، كأمه وأخته؛ فيقول لزوجته مثلاً: أنت عليَّ كظهر أمي، أو أنت علي كظهر أختي؛ فتحرم الزوجة على زوجها، ولا يجوز لهما أن يتعاشرا معاشرة الأزواج، إلا بعد أن يكفِّر الزوج عن يمينه، بحسب ما عرفت من مجريات هذه القصة.

Dan ketiga: Mengetahui apa yang dinamakan di dalam syariat Islam dengan hukum-hukum zhihar (zhihaar), yaitu seorang pria mengharamkan atas dirinya untuk menyetubuhi istrinya dengan cara menyerupakannya dengan salah satu mahramnya, seperti ibunya atau saudara perempuannya. Misalkan ia berkata kepada istrinya: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, atau “Engkau bagiku seperti punggung saudara perempuanku.” Maka sang istri menjadi haram bagi suaminya, dan tidak boleh bagi keduanya untuk menggauli sebagaimana hubungan suami istri, kecuali setelah sang suami membayar kafarat atas sumpahnya, sesuai dengan apa yang telah engkau ketahui dari jalannya kisah ini.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.