وإذ أخذ الله ميثاق الذين أُوتوا الكتاب
Surah Ali ‘Imran: 187 : Dan (Ingatlah), Ketika Allah Mengambil Perjanjian dari Orang-orang yang Telah Diberi Kitab (Bagian 2 / Terakhir)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Surah Ali ‘Imran: 187 : Dan (Ingatlah), Ketika Allah Mengambil Perjanjian dari Orang-orang yang Telah Diberi Kitab (Bagian 2 / Terakhir) ini masuk dalam Kategori Bahasa Al Quran
وقال محمد بن كعب: لا يحل للعالم أن يسكت على علمه، ولا للجاهل أن يسكت على جهله، قال الله تعالى:
Dan Muhammad bin Ka’b berkata: “Tidak halal bagi seorang yang alim untuk diam atas ilmunya, dan tidak halal pula bagi orang yang bodoh untuk diam atas kebodohannya.” Allah Ta’ala berfirman:
{وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب}
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi kitab”
وقال:
dan Dia berfirman:
{فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون} (الأنبياء:7).
“maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui” [Al-Anbiya: 7]
وقال أبو هريرة رضي الله عنه: لولا ما أخذ الله على أهل الكتاب ما حدثتكم بشيء، ثم تلا هذه الآية.
Dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kalaulah bukan karena perjanjian yang diambil oleh Allah atas Ahli Kitab, niscaya aku tidak akan menceritakan suatu hadits pun kepada kalian,” kemudian beliau membaca ayat ini.
ورُوي عن علي رضي الله عنه أنه قال: ما أخذ الله على الجاهلين أن يتعلموا، حتى أخذ على العلماء أن يُعلِّموا.
Dan diriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata: “Allah tidak mengambil perjanjian atas orang-orang bodoh untuk belajar, sampai Dia mengambil perjanjian terlebih dahulu atas para ulama untuk mengajar.”
وعن الحسن قال: لولا الميثاق الذي أخذه الله على أهل العلم، ما حدثتكم بكثير مما تسألون عنه.
Dan dari Al-Hasan beliau berkata: “Kalaulah bukan karena perjanjian yang diambil oleh Allah atas para pemilik ilmu, niscaya aku tidak akan menceritakan kepada kalian banyak hal dari apa yang kalian tanyakan tentangnya.”
ثالثًا: وقال قوم: معنى الآية: وإذ أخذ الله ميثاق النبيين على قومهم؛ فعن سعيد بن جبير قال: قلت لـ ابن عباس رضي الله عنهما: إن أصحاب عبد الله يقرؤون:
Ketiga: Dan suatu kaum berkata: makna ayat ini adalah: Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian para Nabi atas kaum mereka; maka dari Sa’id bin Jubair beliau berkata: Aku berkata kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Sesungguhnya para sahabat Abdullah membaca:
{وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب}
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi kitab”
وعلى قراءة:
dan pada qira’ah:
{وإذ أخذ الله ميثاق النبيين} (آل عمران:81)
“dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi” (Ali ‘Imran: 81)
قال: أخذ الله ميثاق النبيين على قومهم.
Maka Ibnu Abbas berkata: “Allah mengambil perjanjian para Nabi atas kaum mereka.”
وإلى أي الأقوال ذهبنا، فإن العبرة بعموم اللفظ، لا بخصوص السبب، كما هو مقرر عند أهل التفسير، فحكم الآية إذًا يشمل كل من يرتكب صنيع أهل الكتاب، ويفعل فِعْلَتهمْ من الكتمان والنبذ.
Dan ke mana pun arah pendapat yang kita pilih, sesungguhnya pelajaran itu diambil dari keumuman lafadznya, bukan dari kekhususan sebabnya (al-‘ibrah bi ‘umuumi al-lafzhi laa bi khushuushi as-sabab), sebagaimana yang telah ditetapkan di sisi ahli tafsir. Maka hukum ayat ini dengan demikian mencakup setiap orang yang melakukan perbuatan Ahli Kitab, dan melakukan tindakan mereka berupa menyembunyikan ilmu serta mencampakkannya.
ولا يخفى أن الأمم لا تحيى بالخبز وحده، بل هي بحاجة أيضًا إلى ما يحيي قلوبها، ويشرح صدورها، ويفتح أبصارها، ويُزيل الغشاوة عن بصائرها؛ وكل هذا لا يكون إلا بنشر العلم، وبثِّه بين الناس، ومن ثَمَّ العمل به، أما إذا استأثر كل عالم بعلمه، فقد أصبح الجهل هو سيد الموقف، وأضحت الأثرة هي التي تتحكم في سلوك الناس وفِعالهم، وحينئذ يصبح الناس فوضى لا سراة لهم، ويتحقق فيهم قول الحق سبحانه:
Dan tidak samar lagi bahwasanya umat-umat tidak hidup dengan roti semata, melainkan mereka juga membutuhkan apa yang dapat menghidupkan hati mereka, melapangkan dada mereka, membuka pandangan mereka, serta menghilangkan penutup dari mata batin mereka. Dan semua hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan menyebarkan ilmu, menyiarkannya di tengah manusia, dan kemudian mengamalkannya. Adapun apabila setiap orang alim mementingkan dirinya sendiri dengan ilmunya, maka kebodohan akan menjadi penguasa keadaan, dan sikap egois (al-atsarah) akan mengendalikan perilaku manusia serta perbuatan mereka. Dan ketika itu manusia akan menjadi kacau tanpa ada pemimpin bagi mereka, dan terwujudlah pada diri mereka firman Dzat Yang Maha Benar Subhanahu:
{ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس} (الروم:41).
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” [Al-Rum: 41]
ومن هنا ندرك أهمية التحذير القرآني، والهدي النبوي من كتمان العلم، وحجبه على الناس، قال تعالى:
Dan dari sinilah kita menyadari pentingnya peringatan Al-Qur’an serta petunjuk Nabawi dari menyembunyikan ilmu dan menutupinya dari manusia, Allah Ta’ala berfirman:
{إن الذين يكتمون ما أنزلنا من البينات والهدى من بعد ما بيَّنَّاه للناس في الكتاب أولئك يلعنهم الله ويلعنهم اللاعنون} (البقرة:159)،
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua makhluk yang dapat melaknati” [Al-Baqarah: 159]
فعلى العلماء أن يبذلوا ما بأيديهم من العلم النافع، الدال على العمل الصالح، ولا يكتموا منه شيئًا، وإلا فقد حقَّ عليهم ما أخبر الله به؛ وبالمقابل فعلى الناس أن يسعوا في طلب العلم، ويحصنوا أنفسهم به، وفي عزوفهم عن ذلك هلاك لهم، وأي هلاك!!
Maka wajib bagi para ulama untuk mencurahkan apa yang ada di tangan mereka berupa ilmu yang bermanfaat, yang menunjukkan pada amal shaleh, serta tidak menyembunyikan sesuatu pun darinya, jika tidak maka telah pasti atas mereka apa yang telah dikabarkan oleh Allah. Dan sebaliknya, wajib bagi manusia untuk berusaha dalam menuntut ilmu dan membentengi diri mereka dengannya, karena berpalingnya mereka dari hal tersebut merupakan kebinasaan bagi mereka, dan alangkah besarnya kebinasaan itu!!
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply