وإذ أخذ الله ميثاق الذين أُوتوا الكتاب
Surah Ali ‘Imran: 187 : Dan (Ingatlah), Ketika Allah Mengambil Perjanjian dari Orang-orang yang Telah Diberi Kitab (Bagian ke-1)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Surah Ali ‘Imran: 187 : Dan (Ingatlah), Ketika Allah Mengambil Perjanjian dari Orang-orang yang Telah Diberi Kitab (Bagian ke-1) ini masuk dalam Kategori Bahasa Al Quran
صح في الحديث الذي رواه الإمام أحمد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
Telah shahih dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(من سئل عن علم فكتمه ألجم بلجام من نار يوم القيامة).
“Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, maka dia akan dikendalikan dengan tali kendali dari api neraka pada hari kiamat.”
والآية التي بين أيدينا اليوم نزلت في حق أهل الكتاب، تذم فعلهم، وفعل كل من كان على شاكلتهم، فنحن نقرأ قوله تعالى:
Dan ayat yang berada di hadapan kita hari ini turun berkenaan dengan hak Ahli Kitab, mencela perbuatan mereka, serta perbuatan siapa saja yang mengikuti permisalan mereka, maka kita membaca firman Allah Ta’ala:
{وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب لتبيِّنُّنه للناس ولا تكتمونه فنبذوه وراء ظهورهم واشتروا به ثمنًا قليلاً فبئس ما يشترون} (آل عمران:187).
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi kitab: ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,’ lalu mereka melemparkan perjanjian itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” [Ali ‘Imran: 187]
وقدد اختلف المفسرون في حق من نزلت هذه الآية، على ثلاثة أقوال، ذكرها الطبري في ” تفسيره”:
Dan sungguh para ahli tafsir telah berbeda pendapat mengenai kepada hak siapakah ayat ini diturunkan, menjadi tiga pendapat, yang disebutkan oleh Ath-Thabari di dalam “Tafsir”-nya:
الأول: أنها نزلت في حق اليهود، وهم المقصدون فيها؛ فروي عن ابن عباس رضي الله عنهما، أنه قال في قوله تعالى:
Pertama: Bahwasanya ayat ini turun berkenaan dengan hak kaum Yahudi, dan merekalah yang dimaksudkan di dalamnya. Maka diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata mengenai firman Allah Ta’ala:
{وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب لتبيننه للناس ولا تكتمونه}
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi kitab: ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya'”
إلى قوله تعالى:
sampai firman Allah Ta’ala:
{عذاب أليم}
“azab yang pedih”
يعني: فنحاص و أشيع وأشباههما من الأحبار.
Maksudnya adalah Finhash, Syam’un, dan para rabi (pendeta Yahudi) yang sepermisalan dengan keduanya.
وعنه رضي الله عنه أيضًا قال: في التوراة والإنجيل: أن الإسلام دين الله الذي افترضه على عباده، وأن محمدًا رسول الله يجدونه مكتوبًا عندهم في التوراة والإنجيل، فينبذونه.
Dan dari beliau radhiyallahu ‘anhu juga berkata: Di dalam Taurat dan Injil disebutkan bahwasanya Islam adalah agama Allah yang Dia wajibkan atas hamba-hamba-Nya, dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah yang mereka dapati termaktub di sisi mereka di dalam Taurat dan Injil, lalu mereka melemparkannya.
وعن السدي قال في قوله تعالى:
Dan dari As-Suddi berkata mengenai firman Allah Ta’ala:
{وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب لتبيننه للناس ولا تكتمونه}
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi kitab: ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya'”
قال: إن الله أخذ ميثاق اليهود ليبينه للناس، محمدًا صلى الله عليه وسلم، ولا يكتمونه
beliau berkata: Sesungguhnya Allah mengambil perjanjian dari kaum Yahudi agar mereka menerangkannya kepada manusia, yaitu mengenai urusan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan agar mereka tidak menyembunyikannya,
{فنبذوه وراء ظهورهم واشتروا به ثمنا قليلاً}.
“lalu mereka melemparkan perjanjian itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit.”
وعلى هذا القول، فالآية -كما يقول ابن كثير- توبيخ من الله وتهديد لأهل الكتاب، الذين أخذ الله عليهم العهد على ألسنة الأنبياء، أن يؤمنوا بمحمد صلى الله عليه وسلم، وأن ينوِّهوا بذكره في الناس، ليكونوا على بينة من أمره، فإذا أرسله الله تابعوه. فكتموا ذلك، وتعوضوا عما وعِدوا عليه من الخير في الدنيا والآخرة، بالدون الطفيف، والحظ الدنيوي السخيف، فبئست الصفقة صفقتهم، وبئست البيعة بيعتهم.
Dan berdasarkan pendapat ini, maka ayat ini—sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir—merupakan kecaman (taubbiikh) dari Allah serta ancaman bagi Ahli Kitab, yang mana Allah telah mengambil perjanjian atas mereka melalui lisan para Nabi agar mereka beriman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan agar mereka menyuarakan penyebutan namanya di tengah manusia, supaya manusia berada di atas kejelasan urusannya, sehingga apabila Allah mengutusnya, mereka akan mengikutinya. Namun mereka menyembunyikan hal tersebut, dan menukar apa yang dijanjikan kepada mereka berupa kebaikan di dunia dan akhirat dengan imbalan yang remeh serta keuntungan duniawi yang rendah. Maka alangkah buruknya transaksi yang mereka transaksikan, dan alangkah buruknya jual beli yang mereka perjualbelikan.
الثاني: أن المقصود في هذه الآية كل من أوتي علمًا بأمر الدين؛ روي عن قتادة أنه قال في قوله تعالى:
Kedua: Bahwasanya yang dimaksudkan di dalam ayat ini adalah setiap orang yang dikaruniai ilmu mengenai urusan agama. Diriwayatkan dari Qatadah bahwasanya beliau berkata mengenai firman Allah Ta’ala:
{وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب لتبيننه للناس ولا تكتمونه فنبذوه وراء ظهورهم}
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi kitab: ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,’ lalu mereka melemparkan perjanjian itu ke belakang punggung mereka”
هذا ميثاق أخذه الله على أهل العلم، فمن علم شيئًا فلْيُعلِّمه، وإياكم وكتمان العلم، فإن كتمان العلم هلكة، ولا يتكلفن رجل ما لا علم له به، فيخرج من دين الله، فيكون من المتكلفين. وكان يقال: طوبى لعالم ناطق، وطوبى لمستمع واع. هذا رجل عَلِمَ علمًا فعلمه وبذله ودعا إليه، ورجل سمع خيرًا فحفظه ووعاه وانتفع به.
ini adalah perjanjian yang diambil oleh Allah atas para pemilik ilmu (ahlul ‘ilmi). Maka barangsiapa yang mengetahui sesuatu hal, hendaklah dia mengajarkannya. Dan berhati-hatilah kalian dari menyembunyikan ilmu, karena sesungguhnya menyembunyikan ilmu adalah sebuah kebinasaan. Dan janganlah sekali-kali seseorang memaksakan diri atas apa yang tidak ada ilmu baginya tentang hal tersebut, sehingga dia keluar dari agama Allah, lalu menjadi bagian dari orang-orang yang mengada-ada (al-mutakallifiin). Dan dahulu sering dikatakan: Sungguh beruntung bagi seorang alim yang berbicara, dan sungguh beruntung bagi seorang pendengar yang menjaga kesadarannya. Yang ini adalah seseorang yang mengetahui suatu ilmu lalu dia mengajarkannya, mencurahkannya, serta menyeru kepadanya; sedangkan yang itu adalah seseorang yang mendengar suatu kebaikan lalu dia menghafalnya, memahaminya, serta mengambil manfaat dengannya.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply