وأن ليس للإنسان إلا ما سعى
Surah An-Najm 39 : Dan Bahwasanya Seorang Manusia Tiada Memperoleh Selain Apa yang Telah Diusahakannya (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Surah An-Najm: 39 : Dan Bahwasanya Seorang Manusia Tiada Memperoleh Selain Apa yang Telah Diusahakannya (Bagian Pertama) ini masuk dalam Kategori Bahasa Al Quran
جاء في القرآن الكريم آيات تدل على أن عمل الإنسان وسعيه في هذه الدنيا له وحده، وأنه لا ينفع الإنسان إلا عمله وتحصيله فحسب . من ذلك قوله تعالى :
Telah disebutkan di dalam Al-Qur’an Al-Karim ayat-ayat yang menunjukkan bahwa amal perbuatan manusia serta usahanya di dunia ini adalah untuk dirinya sendiri, dan bahwasanya tidak ada yang bermanfaat bagi manusia kecuali amal perbuatan serta apa yang diraihnya semata. Di antaranya adalah firman Allah Ta‘aala:
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ [النجم: 39]
“and bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” [An-Najm: 39]
فالآية صريحة في أن الإنسان لا ينفعه إلا كسبه، ويفهم منها أنه لا ينتفع أحد بعمل أحد .
Maka ayat ini sangat jelas (shariih) dalam menetapkan bahwa manusia tidak akan mendapatkan manfaat kecuali dari hasil usahanya sendiri, dan dipahami darinya bahwasanya tidak ada seorang pun yang dapat mengambil manfaat dari hasil amal perbuatan orang lain.
وبالمقابل، فقد جاءت آيات أُخر، تدل على أن الإنسان ربما انتفع بعمل غيره؛ من ذلك قوله تعالى :
Namun di sisi lain, telah datang pula ayat-ayat yang lain yang menunjukkan bahwa manusia terkadang bisa mengambil manfaat dari amal perbuatan orang lain; di antaranya adalah firman Allah Ta‘aala:
… وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ … [الطور: 21]
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” [At-Thur: 21]
فَرَفْعُ درجات الذرية -سواء قلنا: إنهم الكبار أو الصغار- نفع حاصل لهم، وإنما حصل لهم بعمل آبائهم لا بعمل أنفسهم. وإذا كان الأمر كذلك، فقد يبدو أن ثمة تعارضاً بين مدلول الآيتين الكريمتين .
Maka dinaikkannya derajat keturunan (dzurriyyah) mereka—baik kita katakan bahwa mereka itu adalah orang dewasa maupun anak-anak—merupakan manfaat nyata yang mereka peroleh, dan sesungguhnya hal itu terwujud bagi mereka karena amal perbuatan bapak-bapak mereka, bukan karena amal perbuatan diri mereka sendiri. Apabila keadaannya demikian, maka barangkali terkesan seolah-olah terdapat pertentangan (ta’aarudh) antara kandungan makna dari kedua ayat yang mulia tersebut.
وإذا رجعنا إلى تفسير قوله تعالى: {والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء} نجد أن حاصل معنى الآية الكريمة: أن المؤمنين بالله حق الإيمان، وكانت ذريتهم متبعين لهم في نهجهم القويم، وسائرين على دربهم المستقيم، فإنهم سوف يلحقون بآبائهم يوم القيامة، ويكون الجميع سوية في درجات الجنة، وإن قصرت أعمال الأبناء عن أعمال الآباء؛ وذلك إكراماً لآبائهم، وقرة عين لهم، دون أن ينقص ذلك من أجر الآباء شيئاً .
Dan apabila kita kembali merujuk kepada tafsir firman Allah Ta‘aala: “Walladziina aamanuu wattaba’at-hum dzurriyyatuhum bi-iimaanin alhaqnaa bihim dzurriyyatuhum wa maa alatnaahum min ‘amalihim min syai’in“, kita mendapati bahwa kesimpulan makna dari ayat yang mulia tersebut adalah: Bahwasanya orang-orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benar keimanan, dan keturunan mereka mengikuti mereka dalam manhaj yang lurus serta berjalan di atas jalan mereka yang lempang, maka mereka kelak akan dikumpulkan bersama bapak-bapak mereka pada hari kiamat, and semuanya berada bersama-sama dalam derajat surga, meskipun amal perbuatan anak-anak tersebut lebih sedikit dibandingkan amal perbuatan bapak-bapak mereka. Hal itu sebagai wujud pemuliaan bagi bapak-bapak mereka serta sebagai penyejuk mata bagi mereka, tanpa mengurangi pahala bapak-bapak mereka sedikit pun.
ويدل على هذا المعنى، ما روي عن ابن عباس رضي الله عنهما في معنى الآية، قال: إن الله تبارك وتعالى يرفع للمؤمن ذريته، وإن كانوا دونه في العمل؛ ليقر الله بهم عينه؛ وفي رواية أخرى عنه: قال: إن الله تبارك وتعالى ليرفع ذرية المؤمن في درجته، وإن كانوا دونه في العمل؛ ليقر بهم عينه .
Dan menunjukkan pada makna ini, apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma mengenai makna ayat tersebut, beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta‘aala menaikkan derajat keturunan bagi seorang mukmin, meskipun mereka berada di bawahnya dalam hal amal perbuatan, agar Allah menyejukkan mata sang mukmin dengan keberadaan mereka.” Dan dalam riwayat lain dari beliau, beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta‘aala benar-benar menaikkan derajat keturunan seorang mukmin ke tingkatan derajatnya, meskipun mereka berada di bawahnya dalam hal amal perbuatan, agar Allah menyejukkan matanya dengan keberadaan mereka.”
فمعنى آية الطور إذن، أن الذين آمنوا بالله، تتبعهم ذريتهم المؤمنة، وتكون معهم في الجنة إتماماً لسعادتهم، وإكراماً لمكانتهم، إذ من تمام سرور المؤمن وكمال سعادته، أن يكون قريباً من أقربائه، وأقرباؤه قريبين منه .
Maka makna ayat dalam Surah At-Thur dengan demikian adalah bahwasanya orang-orang yang beriman kepada Allah, mereka akan diikuti oleh keturunan mereka yang beriman, dan mereka berada bersama-sama di dalam surga sebagai penyempurna bagi kebahagiaan mereka serta pemuliaan bagi kedudukan mereka. Sebab, di antara kesempurnaan kegembiraan seorang mukmin dan kesempurnaan kebahagiaannya adalah dia berada dekat dengan kerabatnya, dan kerabatnya pun berada dekat dengannya.
أما آية النجم {وأن ليس للإنسان إلا ما سعى} فيفيد ظاهرها، أنه ليس للإنسان إلا أجر سعيه وجهده، وجزاء عمله وتحصيله، ولا ينفع أحداً عملُ أحد؛ فالآية بيان لعدم إثابة الإنسان بعمل غيره، مهما كان هذا الغير. وقد جاءت هذه الآية إثر آية بينت عدم مؤاخذة الإنسان بذنب غيره، وهي قوله تعالى :
Adapun ayat dalam Surah An-Najm: “Wa an laisa lil-insaani illaa maa sa’aa“, maka makna lahiriahnya memberikan faedah bahwa tidak ada bagi manusia kecuali pahala dari hasil usaha dan jerih payahnya sendiri, serta balasan dari amal perbuatan dan apa yang diraihnya, dan amal seseorang tidak bermanfaat bagi orang lain. Maka ayat ini merupakan penjelasan mengenai tidak diringankannya beban manusia atau diberi pahala karena amal orang lain, siapa pun orang lain tersebut. Dan ayat ini datang tepat setelah ayat yang menjelaskan ketidakberdosaan manusia akibat dosa orang lain, yaitu firman Allah Ta‘aala:
أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ [النجم: 38]
“(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” [An-Najm: 38]
أي: لا يفيد الإنسان إلا سعيه وعمله، ولا يحاسب الإنسان بعمل غيره. فهذا المعنى الإجمالي للآيتين الكريمتين .
Maknanya: tidak ada yang memberikan faedah bagi manusia kecuali usaha dan amalnya sendiri, dan seseorang tidak akan dihisab karena amal perbuatan orang lain. Maka inilah makna global (al-ma’na al-ijmaaliyy) bagi kedua ayat yang mulia tersebut.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply