Surah An-Najm 39 : Dan Bahwasanya Seorang Manusia Tiada Memperoleh Selain Apa yang Telah Diusahakannya (2)



وأن ليس للإنسان إلا ما سعى

Surah An-Najm: 39 : Dan Bahwasanya Seorang Manusia Tiada Memperoleh Selain Apa yang Telah Diusahakannya (Bagian ke-2)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Surah An-Najm: 39 : Dan Bahwasanya Seorang Manusia Tiada Memperoleh Selain Apa yang Telah Diusahakannya (Bagian ke-2) ini masuk dalam Kategori Bahasa Al Quran

والآية التي معنا قد وردت أدلة توضح المقصود منها، وتبين أن الإنسان قد يستفيد وينتفع بأعمال غيره، من ذلك ما روي عن ابن عباس رضي الله عنهما في قوله: {وأن ليس للإنسان إلا ما سعى} قال: أنزل الله بعد هذا: {والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم} قال: فأدخل الأبناء بصلاح الآباء الجنة .

Dan ayat yang sedang bersama kita ini sesungguhnya telah memiliki dalil-dalil yang menjelaskan maksud darinya, serta menerangkan bahwasanya manusia terkadang bisa mengambil faedah dan mendapat manfaat dari amal perbuatan orang lain. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma mengenai firman-Nya: “Wa an laisa lil-insaani illaa maa sa’aa“, beliau berkata: “Allah menurunkan setelah ayat ini: ‘Walladziina aamanuu wattaba’at-hum dzurriyyatuhum bi-iimaanin alhaqnaa bihim dzurriyyatuhum‘.” Beliau berkata: “Maka Allah memasukkan anak-anak ke dalam surga disebabkan oleh kesalehan bapak-bapak mereka.”

وقد ثبت بالنصوص المتواترة، وإجماع سلف الأمة، أن المؤمن ينتفع بما ليس من سعيه في بعض الأعمال والطاعات; كالدعاء له والاستغفار، كما في قوله تعالى :

Dan sungguh telah tsabit (tetap) berdasarkan nash-nash yang mutawatir serta ijmak ulama salaf umat ini, bahwasanya seorang mukmin dapat mengambil manfaat dari perkara yang bukan merupakan hasil usahanya sendiri dalam sebagian amal perbuatan dan ketaatan; seperti doa dan permohonan ampunan (istighfaar) untuknya, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘aala:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا [غافر: 7]

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman” [Ghafir: 7]

وأيضاً دعاء النبيين والمؤمنين واستغفارهم، كما في قوله تعالى :

Dan demikian pula doa para Nabi beserta orang-orang beriman dan permohonan ampunan mereka, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘aala:

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ [التوبة: 103]

“dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” [At-Taubah: 103]

وقوله سبحانه :

Dan firman-Nya Subhanahu:

… وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ … [محمد: 19]

“dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” [Muhammad: 19]

أيضاً فقد ثبت بصريح الآحاديث أن ما يُعمل للميت من أعمال البر، كالصدقة ونحوها، فإن هذا ينتفع به؛ ففي “الصحيحين” أنه صلى الله عليه وسلم، قال :

Selain itu, sungguh telah tsabit pula berdasarkan shariih (kejelasan) hadits-hadits bahwasanya apa saja yang diamalkan untuk mayit berupa amal-amal kebajikan, seperti shadaqah dan sejenisnya, maka sesungguhnya hal tersebut bermanfaat baginya. Di dalam kitab Ash-Shahiihain disebutkan bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan memiliki kewajiban puasa, maka walinya berpuasa menggantikannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

وثبت مثل ذلك في صوم النذر، والحج .

Dan telah tsabit perkara yang serupa dengan hal tersebut pada puasa nazar (nadzr) serta ibadah haji.

وفي هذا المعنى يأتي قوله صلى الله عليه والسلام :

Dan dalam makna ini pula, hadir sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak cucu Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. An-Nasa’i dan At-Tirmidzi)

فالحديث صريح في ثبوت ما ذكرنا. والأدلة في هذا المعنى كثيرة .

Maka hadits ini sangat jelas dalam menetapkan apa yang telah kami sebutkan. Dan dalil-dalil dalam makna ini teramat banyak.

ونزيد الأمر وضوحاً، فنقول: إذا كان ظاهر الآية يدل على أن الإنسان لا يملك ولا يستحق إلا سعي نفسه -وهذا حق لا ريب فيه- فإن هذا لا يمنع أن ينتفع الإنسان بسعي غيره، كما أن الله يرحم عباده ويفتح عليهم من أبواب رحمته، بأسباب خارجة عن طوقهم ومقدورهم، ويرزقهم ويغدق عليهم من عطائه، بأسباب يجريها على أيدي عباده؛ يرشد لهذا المعنى قوله عليه الصلاة والسلام :

Dan kami menambahkan perkara ini agar lebih gamblang, maka kami katakan: Apabila makna lahiriah ayat menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki dan tidak berhak mendapatkan kecuali hasil usahanya sendiri—dan ini adalah kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya—maka sesungguhnya hal ini tidak menghalangi manusia untuk dapat mengambil manfaat dari hasil usaha orang lain. Sebagaimana Allah merahmati hamba-hamba-Nya dan membukakan bagi mereka pintu-pintu rahmat-Nya melalui sebab-sebab yang berada di luar batas kemampuan dan kuasa mereka, serta memberi mereka rezeki dan melimpahkan karunia-Nya kepada mereka melalui sebab-sebab yang Dia jalankan lewat perantaraan tangan hamba-hamba-Nya. Menuntun pada makna ini sabda beliau ‘alaihis shalaatu was salaam:

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ تَبِعَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ ، أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ

“Barangsiapa yang menshalatkan jenazah maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang mengiringinya hingga dimakamkan maka baginya pahala dua qirath, yang paling kecil dari keduanya adalah semisal Gunung Uhud.” (Muttafaq ‘alaihi)

وما ثبت في الصحيح أنه صلى الله عليه وسلم، قال :

Dan apa yang telah tsabit dalam kitab shahih bahwasanya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang hamba muslim pun yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya (di belakangnya), melainkan malaikat akan berkata: ‘Dan bagimu hal yang serupa’.” (HR. Muslim)

وأيضاً قوله صلى الله عليه وسلم :

Dan juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal dunia, lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang pria yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, melainkan Allah akan memberikan syafaat bagi mayit tersebut melalui mereka.” (HR. Abu Dawud)

فهو سبحانه يرحم المصلي على الميت، كما ينتفع بصلاة المصلين عليه، ودعائهم له عند قبره؛ وأيضاً فإن أطفال المؤمنين يدخلون الجنة مع آبائهم، بلا سعي ولا عمل. فكل هذا وغيره يدل على أن الإنسان قد ينتفع بعمل غيره، ولا ينافي ذلك صريح الآية حسب ما ذكرنا .

Maka Dia Subhanahu merahmati orang yang menshalatkan mayit, sebagaimana mayit tersebut juga mengambil manfaat dari shalat orang-orang yang menshalatkannya serta doa mereka untuknya di sisi kuburnya. Dan juga, sesungguhnya anak-anak orang beriman masuk ke dalam surga bersama bapak-bapak mereka tanpa adanya usaha (sa’i) maupun amal perbuatan sendiri. Maka semua hal ini dan selainnya menunjukkan bahwasanya manusia terkadang bisa memanfaatkan amal perbuatan orang lain, dan hal tersebut tidak menafikan kejelasan isi ayat berdasarkan apa yang telah kami sebutkan.

على أنك إذا أعدت النظر في الآية، وأعملت الفكر فيها، علمت أن الإنسان لا يملك أن يقول لشيء: هو لي، أو يصف شيئاً بأنه له، إلا إذا سعى إليه بعمله، وحازه بجهده وكسبه؛ أما ما وراء ذلك من أمور، من رحمة وتوفيق ومضاعفة أجر ونحو ذلك، فلا يوصف بالتملك إلا على سبيل التجوز، والإلحاق بما هو من كسبه وسعيه .

Terlebih lagi, apabila engkau mengembalikan pandanganmu pada ayat tersebut serta menggerakkan pemikiranmu di dalamnya, niscaya engkau akan mengetahui bahwasanya manusia tidak berhak untuk mengatakan pada sesuatu: “ini milikku”, atau menyifati sesuatu bahwasanya hal itu adalah kepunyaannya, kecuali jika dia telah berusaha menuju kepadanya dengan amalnya sendiri serta meraihnya dengan jerih payah dan hasil upayanya (kasb). Adapun hal-hal di luar itu berupa perkara rahmat, taufik (taufiiq), pelipatgandaan pahala, dan yang sejenisnya, maka tidak disifati dengan kepemilikan mutlak melainkan hanya sebagai kiasan (tajawwuz) serta penyetaraan dengan apa yang terhitung dari hasil upaya dan usahanya.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.