Surah An-Najm 39 : Dan Bahwasanya Seorang Manusia Tiada Memperoleh Selain Apa yang Telah Diusahakannya (3)



وأن ليس للإنسان إلا ما سعى

Surah An-Najm: 39 : Dan Bahwasanya Seorang Manusia Tiada Memperoleh Selain Apa yang Telah Diusahakannya (Bagian ke-3 / Terakhir)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Surah An-Najm: 39 : Dan Bahwasanya Seorang Manusia Tiada Memperoleh Selain Apa yang Telah Diusahakannya (Bagian ke-3 / Terakhir) ini masuk dalam Kategori Bahasa Al Quran

ثم يقال أيضًا: إن العبد إن لم يسع ويجد ويكد ليكون من المؤمنين الصالحين، ومن عباد الله المتقين، لا يمكن أن ينال منـزلة القرب من آبائه المؤمنين. فإيمان العبد وطاعته -كما ترى- سعي منه في انتفاعه بعمل غيره من المسلمين؛ كما يقع في صلاة الجماعة، فإن صلاة المصلين في جماعة بعضهم مع بعض يتضاعف بها الأجر زيادة على صلاتهم فرادى، وتلك المضاعفة انتفاع بعمل الغير، سعى فيه المصلي بإيمانه، وصلاته مع الجماعة، ولم يكن ليحصل له من الأجر لو صلى منفردًا، ما يحصل له لو صلى في جماعة. وإذا كان الأمر كذلك، تبين أن تلك المنزلة لم تنل إلا بسعي العبد نفسه ليلحق بآبائه، وإلا فمجرد الانتساب إليهم، والقرابة منهم لا يرفعه ولا يؤهله لنيل منـزلتهم بحال من الأحوال، فثبت بهذا أن المعول عليه أولاً وقبل كل شيء سعي العبد وكسبه.

Kemudian dikatakan pula: Bahwasanya hamba tersebut jika tidak berusaha, bersungguh-sungguh, dan berpayah-payah untuk menjadi bagian dari orang-orang mukmin yang shaleh serta di antara hamba-hamba Allah yang bertakwa, niscaya tidak mungkin baginya untuk meraih kedudukan yang dekat dengan bapak-bapaknya yang beriman. Maka keimanan sang hamba serta ketaatannya—sebagaimana yang engkau lihat—merupakan bentuk usaha (sa’i) dari dirinya sendiri agar dapat mengambil manfaat dari amal perbuatan orang muslim lainnya; sebagaimana yang terjadi dalam shalat berjamaah. Sesungguhnya shalatnya orang-orang yang mendirikan shalat secara berjamaah antara satu dengan yang lain akan dilipatgandakan pahalanya sebagai tambahan daripada shalat mereka secara bersendirian (furaada). Pelipatgandaan tersebut merupakan bentuk mengambil manfaat dari amal orang lain, yang mana orang yang shalat telah mengusahakannya melalui keimanannya serta shalatnya bersama jamaah; dan pahala sebesar itu tidak akan mungkin diperolehnya jika dia shalat sendirian, sebagaimana apa yang diraihnya ketika shalat berjamaah. Apabila keadaannya demikian, maka menjadi jelaslah bahwasanya kedudukan tersebut tidak akan diraih kecuali dengan usaha hamba itu sendiri agar dapat disusulkan bersama bapak-bapaknya. Jika tidak demikian, maka sekadar penisbatan nasab kepada mereka ataupun kedekatan kerabat dengan mereka tidak akan dapat mengangkat derajatnya serta tidak membuatnya memenuhi syarat untuk meraih kedudukan mereka dalam kondisi bagaimana pun. Maka tsabitlah berdasarkan hal ini bahwasanya yang menjadi tolok ukur utama dan paling pertama sebelum segala sesuatu adalah usaha sang hamba serta apa yang diupayakannya (kasb).

وأمر آخر تفيده الآية الكريمة، حاصله أن الآية أثبتت أن الإنسان ليس له في هذه الحياة إلا سعي نفسه، ونفت أن يكون له سعي غيره؛ لكن ليس في الآية ما يفيد أن الإنسان لا يجوز له أن ينتفع بعمل غيره، فالآية لا دلالة فيها على هذا من قريب أو بعيد؛ وليس كل ما لا يملكه الإنسان لا يحصل له من جهته نفع، بل ثمة أمور لا يملكها الإنسان، ومع ذلك يحصل له من جهتها نفع؛ كما أشرنا قبل من الانتفاع بدعاء الغير له، والصدقة عليه، والحج عنه، وغير ذلك من أمور العبادات. ومثل ذلك يقال في مسائل المعاملات؛ كالدَّين يوفيه الإنسان عن غيره، فتبرأ ذمته، فما وُفِّي به الدين ليس له، وكان الواجب عليه أن يكون هو الموفي له. وكذلك إذا تبرع إنسان لغيره بمال، جاز لذلك الغير أخذه، وحيازته، والانتفاع به على الوجه المأذون به شرعًا.

Dan perkara lain yang diberikan faedahnya oleh ayat yang mulia ini kesimpulannya adalah bahwasanya ayat tersebut menetapkan bahwa manusia tidak memiliki hak milik dalam kehidupan ini kecuali atas usahanya sendiri, serta menafikan kepemilikannya atas usaha orang lain. Akan tetapi, tidak ada di dalam ayat tersebut kandungan yang memberikan faedah bahwa manusia tidak diperbolehkan untuk mengambil manfaat dari amal perbuatan orang lain; maka ayat ini sama sekali tidak memiliki penunjukan (dalaalah) ke arah sana, baik secara dekat maupun jauh. Dan tidaklah setiap apa yang tidak dimiliki oleh manusia maka tidak akan menghasilkan manfaat bagi dirinya dari jalur tersebut; melainkan ada perkara-perkara yang tidak dimiliki oleh manusia, namun bersamaan dengan itu tetap menghasilkan manfaat bagi dirinya melalui jalur tersebut. Sebagaimana yang telah kami isyaratkan sebelumnya berupa mengambil manfaat dari doa orang lain untuknya, shadaqah atas namanya, haji badal untuknya, serta perkara-perkara ibadah lainnya. Dan permisalan yang sama juga dikatakan dalam masalah muamalah; seperti hutang yang dilunasi oleh seseorang untuk orang lain, maka terlepaslah tanggungan (dzimmah) orang tersebut, padahal harta yang digunakan untuk melunasi hutang itu bukan miliknya, dan kewajiban awal berada pada dirinya untuk menjadi orang yang melunasinya. Demikian pula apabila seseorang menyumbangkan (menghibahkan) harta untuk orang lain, maka boleh bagi orang lain tersebut untuk mengambilnya, menguasainya, serta memanfaatkannya sesuai dengan cara yang diizinkan secara syariat.

ويمكن أن يقال -بعد كل ما تقدم-: إن السعي الذي حصل به رفع درجات الأولاد، ليس للأولاد، كما هو نص قوله تعالى: {وأن ليس للإنسان إلا ما سعى} ولكنه من سعي الآباء، فهو سعي للآباء أقر الله عيونهم بسببه، بأن رفع إليهم أولادهم، ليتمتعوا في الجنة برؤيتهم. فالآية تصدق الأخرى ولا تنافيها؛ لأن المقصود بالرفع إكرام الآباء ثم الأولاد، فانتفاع الأولاد تَبَع، فهو بالنسبة إليهم تفضل من الله عليهم بما ليس لهم، كما تفضل بذلك على الولدان، والحور العين، والخلق الذين ينشئهم للجنة.

Dan memungkinkan untuk dikatakan—setelah semua penjelasan yang telah lalu—: Bahwasanya usaha (sa’i) yang dengannya terwujud pengangkatan derajat anak-anak, bukanlah milik anak-anak tersebut, sebagaimana yang menjadi nash firman-Nya Ta‘aala: “Wa an laisa lil-insaani illaa maa sa’aa“. Akan tetapi, hal itu merupakan bagian dari usaha bapak-bapak mereka; maka ia adalah usaha milik bapak-bapak yang dengannya Allah menyejukkan mata mereka, yaitu dengan cara mengangkat derajat anak-anak mereka agar dapat berkumpul bersama mereka, supaya mereka dapat menikmati pandangan melihat anak-anaknya di dalam surga. Maka ayat ini membenarkan ayat yang lainnya dan tidak saling bertentangan; karena maksud dari pengangkatan derajat tersebut adalah sebagai pemuliaan bagi bapak-bapak kemudian kepada anak-anaknya. Maka pemanfaatan yang diperoleh anak-anak sifatnya adalah pengikut (taba’), yang mana bagi mereka hal tersebut merupakan karunia (tafadhdhul) dari Allah atas apa yang tidak mereka miliki, sebagaimana Dia mengaruniakan hal serupa kepada pelayan surga (wildaand), bidadari (huurul ‘iin), serta makhluk-makhluk yang Dia ciptakan khusus untuk menghuni surga.

ومما يدعم كل ما تقدم ويؤكده -وبه نختم الحديث- ما قاله بعض أهل العلم، وقد سئل عن قوله تعالى: {وأن ليس للإنسان إلا ما سعى} مع قوله: {والله يضاعف لمن يشاء} [البقرة: 261] قال: ليس له بالعدل إلا ما سعى، وله بالفضل ما شاء الله تعالى. وهذا حاصل ما ذكرنا وقررنا.

Dan di antara perkara yang mendukung semua yang telah lalu serta menguatkannya—dan dengannya kami mengakhiri pembahasan ini—adalah apa yang dikatakan oleh sebagian ahli ilmu ketika ditanya mengenai firman Allah Ta‘aala: “Wa an laisa lil-insaani illaa maa sa’aa” bersamaan dengan firman-Nya: “Wallahu yudhaa’ifu liman yasyaa’” [Al-Baqarah: 261], beliau menjawab: “Tidak ada hak bagi manusia berdasarkan keadilan (al-‘adl) kecuali apa yang telah diusahakannya, namun baginya hak berdasarkan karunia (al-fadhl) apa saja yang dikehendaki oleh Allah Ta‘aala.” Dan inilah kesimpulan dari apa yang telah kami sebutkan dan kami tetapkan.

وإذا كان الأمر على ما تبين، عُلم أن الآيتين الكريمتين تصدق إحدهما الأخرى، ولا تنافي بينهما بحال؛ إذ هذا هو شأن آيات القرآن الكريم خصوصًا، ونصوص الشرع عمومًا.

Dan apabila perkaranya adalah sebagaimana yang telah menjadi jelas ini, maka diketahuilah bahwasanya kedua ayat yang mulia tersebut saling membenarkan satu sama lain, dan tidak ada pertentangan di antara keduanya sama sekali; karena demikianlah keadaan ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim secara khusus, dan nash-nash syariat secara umum.

والله أعلم .

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.