Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar (2)



المؤاخاة بين المهاجرين والأنصار

Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar (Bagian 2 / Terakhir)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar (Bagian 2 / Terakhir) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah

وعند مراجعة أسماء هؤلاء الصحابة ، نجد أن تلك المؤاخاة لم تُقم وزناً للاعتبارات القبلية أو الفوارق الطبقية ، حيث جمعت بين القوي والضعيف ، والغني والفقير ، والأبيض والأسود ، والحرّ والعبد ، وبذلك استطاعت هذه الأخوّة أن تنتصر على العصبيّة للقبيلة أو الجنس أو الأرض ، لتحلّ محلّها الرابطة الإيمانيّة ، والأخوّة الدينيّة .

Dan ketika meninjau kembali nama-nama para shahabat ini, kita dapati bahwasanya persaudaraan tersebut sama sekali tidak memberikan bobot penilaian pada pertimbangan kesukuan maupun perbedaan kasta sosial. Yang mana ia telah mengumpulkan antara yang kuat dengan yang lemah, yang kaya dengan yang miskin, yang putih dengan yang hitam, serta orang yang merdeka dengan seorang budak. Dengan demikian, persaudaraan ini sanggup untuk menang atas fanatisme kelompok (‘ashabiyyah) terhadap kabilah, ras, maupun tanah air, untuk digantikan tempatnya oleh ikatan keimanan dan persaudaraan keagamaan.

وقد سجّل التاريخ العديد من المواقف المشرقة التي نشأت في ظلّ هذه الأخوة ، ومن ذلك ما حصل بين عبدالرحمن بن عوف و سعد بن الربيع رضي الله عنهما ، حيث عرض سعد على أخيه نصف ماله ليأخذه ، بل خيّره بين إحدى زوجتيه كي يطلّقها لأجله ، فشكر له عبد الرحمن صنيعه وأثنى على كرمه ، ثم طلب منه أن يدلّه على أسواق المدينة ، ولم يمرّ وقتٌ قصير حتى استطاع عبدالرحمن بن عوف أن يكون من أصحاب المال والثراء .

Dan sejarah telah mencatat banyak sikap yang cemerlang yang tumbuh di bawah naungan persaudaraan ini. Di antaranya adalah apa yang terjadi antara Abdurrahman bin Auf dan Sa’d bin Ar-Rabi’ radhiyallaahu ‘anhuma, yang mana Sa’d menawarkan kepada saudaranya setengah dari hartanya untuk ia ambil, bahkan memberinya pilihan di antara salah satu dari kedua istrinya agar ia ceraikan demi dirinya. Maka Abdurrahman berterima kasih kepadanya atas perbuatannya tersebut dan memuji kedermawanannya, kemudian ia meminta kepadanya untuk menunjukkan jalan menuju pasar-pasar Madinah. Dan tidak berlalu waktu yang lama sampai Abdurrahman bin Auf sanggup untuk menjadi bagian dari pemilik harta dan kekayaan.

ولم يقف الأمر عند هذا الحدّ ، بل إن كثيراً من الأنصار عرضوا على النبي – صلى الله عليه وسلم – أن يقسم الأراضي الزراعيّة بينهم وبين إخوانهم من المهاجرين ، ولكنّ النبي – صلى الله عليه وسلم – أراد أن تقوم هذه المواساة دونما إضرارٍ بأملاكهم ، فأشار عليهم بأن يحتفظوا بأراضيهم مع إشراك إخوانهم المهاجرين في الحصاد ، وقد أورث صنيعهم هذا مشاعر الإعجاب في نفوس المهاجرين ، حتى إنهم قالوا للنبي – صلى الله عليه وسلم – :

Dan perkara ini tidak berhenti pada batas ini saja, bahkan sesungguhnya banyak dari kaum Anshar menawarkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk membagi tanah-tanah pertanian di antara mereka dengan saudara-saudara mereka dari kaum Muhajirin. Akan tetapi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghendaki agar sikap saling membantu ini tegak tanpa menimbulkan kerugian pada hak milik mereka, maka beliau memberikan isyarat kepada mereka agar tetap menjaga tanah-tanah mereka dengan menyertakan saudara-saudara mereka dari kaum Muhajirin dalam hasil panennya. Dan perbuatan mereka ini telah mewariskan perasaan kagum di dalam jiwa kaum Muhajirin, sampai-sampai mereka berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“يا رسول الله ما رأينا قوما قدمنا عليهم أحسن مواساة في قليل ، ولا أحسن بذلا في كثير منهم ، لقد حسبنا أن يذهبوا بالأجر كلّه “

“Wahai Rasulullah, kami belum pernah melihat suatu kaum yang kami datangi yang lebih baik bantuan finansialnya dalam jumlah yang sedikit, dan tidak pula yang lebih baik pemberiannya dalam jumlah yang banyak daripada mereka. Sungguh kami sempat mengira bahwasanya mereka akan pergi membawa seluruh pahala.”

، كما كانت تضحياتهم ومواقفهم النبيلة سبباً في مدح الله لهم بقوله :

sebagaimana pengorbanan-pengorbanan mereka serta sikap-sikap mulia mereka menjadi sebab bagi pujian Allah kepada mereka lewat firman-Nya:

{ والذين تبوءوا الدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم ولا يجدون في صدورهم حاجة مما أوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ومن يوق شح نفسه فأولئك هم المفلحون } ( الحشر : 9 ) .

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung” [Al-Hasyr: 9]

وقد حفظ النبي – صلى الله عليه وسلم – هذا الفضل للأنصار ، فمدحهم بقوله :

Dan sungguh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjaga keutamaan ini bagi kaum Anshar, maka beliau memuji mereka lewat sabdanya:

( لو أن الأنصار سلكوا وادياً أو شعباً ، لسلكت في وادي الأنصار ) رواه البخاري ،

“Kalaulah kaum Anshar melewati suatu lembah atau jalan di celah gunung, niscaya aku akan ikut melewati lembah kaum Anshar.” (HR. Bukhari)

وبيّن حبه لهم بقوله :

dan beliau menjelaskan rasa cinta beliau kepada mereka lewat sabdanya:

( الأنصار لا يحبهم إلا مؤمن ، ولا يبغضهم إلا منافق ؛ فمن أحبهم أحبه الله ، ومن أبغضهم أبغضه الله ) رواه البخاري ،

“Kaum Anshar tidak ada yang mencintai mereka melainkan seorang mukmin, dan tidak ada yang membenci mereka melainkan seorang munafik. Maka barangsiapa yang mencintai mereka niscaya Allah mencintainya, dan barangsiapa yang membenci mereka niscaya Allah membencinya.” (HR. Bukhari)

ودعا لأولادهم وذرياتهم بالصلاح فقال :

dan beliau berdoa bagi anak-anak mereka serta keturunan mereka dengan kesalehan, maka beliau bersabda:

( اللهم اغفر للأنصار ، ولأبناء الأنصار، ولأزواج الأنصار ، ولذراري الأنصار ) رواه أحمد ،

“Ya Allah, ampunilah kaum Anshar, anak-anak kaum Anshar, istri-istri kaum Anshar, serta keturunan kaum Anshar.” (HR. Ahmad)

وآثر الجلوس بينهم طيلة حياته فقال :

dan beliau lebih mengutamakan untuk duduk di tengah-tengah mereka di sepanjang hidup beliau, maka beliau bersabda:

( لولا الهجرة لكنت امرأً من الأنصار ) رواه البخاري .

“Kalaulah bukan karena hijrah, niscaya aku termasuk bagian dari seorang pria kaum Anshar.” (HR. Bukhari)

وبهذا نستطيع أن نلمس عظمة هذا الجيل الذي تربّى على يد النبي – صلى الله عليه وسلم – ، عندما كانت الأخوة الإيمانيّة هي الأساس لعلاقاتهم ، فما أحوجنا إلى أن نتّخذ هذا المجتمع الفريد قدوة لنا في تعاملنا وعلاقاتنا .

Dan dengan ini, kita sanggup untuk menyentuh keagungan generasi ini yang tumbuh dididik langsung di bawah tangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ketika persaudaraan keimanan menjadi asas bagi hubungan-hubungan mereka. Maka alangkah butuhnya kita untuk menjadikan masyarakat yang unik ini sebagai teladan bagi kita di dalam muamalah kita serta hubungan-hubungan kita.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.