Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar (1)



المؤاخاة بين المهاجرين والأنصار

Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar (Bagian ke-1)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar (Bagian ke-1) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah

لو لم يُشر القرآن الكريم إلى قصّة المؤاخاة التي تمّت بين المهاجرين والأنصار ، ولو لم تأتِ النصوص النبويّة الصحيحة والشواهد التاريخيّة الموثّقة لتؤكّد هذه الحادثة ، لقلنا إنها قصّةٌ من نسج الخيال ، وذلك لأن مشاهدها وأحداثها فاقت كلّ تصوّر ، وانتقلت بعالم المثال والنظريات إلى أرض الواقع والتطبيق ، وفي ظلّها قدّم الصحابة الكثير من صور التفاني والتضحية على نحوٍ لم يحدث في تاريخ أمّةٍ من الأمم ، مما يجعلنا بحاجة إلى أن نقف أمام this الحدث نتأمّل دروسه ، ونستلهم عبره .

Kalaulah Al-Qur’an Al-Karim tidak mengisyaratkan kisah persaudaraan (al-muaakhaah) yang terjadi antara kaum Muhajirin dan Anshar, dan kalaulah tidak ada nash-nash nabawi yang shahih serta bukti-bukti sejarah yang terdokumentasi untuk menguatkan peristiwa ini, niscaya kita akan mengatakan bahwa ini adalah kisah dari rekaan khayalan belaka. Hal itu karena pemandangan dan peristiwa-peristiwanya melampaui semua gambaran, serta memindahkan dunia perumpamaan dan teori ke dalam bumi kenyataan dan penerapan. Di bawah naungannya, para shahabat mempersembahkan begitu banyak bentuk pengabdian dan pengorbanan dengan cara yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat mana pun, yang menjadikan kita butuh untuk berdiri di hadapan peristiwa ini guna merenungkan pelajaran-pelajarannya dan mengambil inspirasi dari hikmahnya.

تبدأ القصّة عندما خرج المهاجرون من مكّة المكرّمة ، ليصلوا إلى أرضٍ جديدة وواقعٍ مختلف ، وكان من أثر هذه الرحلة نشوء عدد من المشكلات الجديدة ، ليس أقلّها : الشعور بالغربة ومفارقة الأهل والديار ، وترك معظم الأموال والممتلكات في مكّة ، وطبيعة الوضع المعيشي والاقتصادي الجديد ، أضف إلى ذلك الآثار الصحيّة والبدنيّة التي أحدثها الانتقال المفاجيء إلى بيئةٍ أخرى ، مما أدّى إلى ظهور الأمراض في صفوفهم كالحمّى وغيرها .

Kisah ini bermula ketika kaum Muhajirin keluar dari Makkah Al-Mukarramah untuk sampai ke bumi yang baru dan kenyataan yang berbeda. Di antara dampak dari perjalanan ini adalah munculnya sejumlah permasalahan baru, yang tidak kalah ringannya seperti: perasaan asing, berpisah dengan keluarga dan kampung halaman, meninggalkan sebagian besar harta dan kekayaan di Makkah, serta tabi’at dari situasi mata pencaharian dan ekonomi yang baru. Ditambah lagi dengan dampak kesehatan dan fisik yang ditimbulkan oleh perpindahan mendadak ke lingkungan yang lain, yang menyebabkan munculnya penyakit di barisan mereka seperti demam (al-humma) dan selainnya.

كل هذه الظروف تجمّعت لتشكّل ضغوطاً نفسية كبيرة ، كان لا بدّ معها من حلولٍ عمليّةٍ سريعةٍ تعوّضهم ما فقدوه في غربتهم ، وتعيد لهم كرامتهم ، وتُشعرهم بأنّهم لن يكونوا عبأً على إخوانهم الأنصار .

Semua kondisi ini berkumpul membentuk tekanan psikologis yang besar, yang mana bersamanya harus ada solusi praktis yang cepat untuk menggantikan apa yang telah hilang dari mereka di dalam pengasingan mereka, mengembalikan kehormatan mereka, serta membuat mereka merasa bahwasanya mereka tidak akan menjadi beban bagi saudara-saudara mereka dari kaum Anshar.

فكان أوّل عملٍ قام به النبي – صلى الله عليه وسلم – بعد بناء المسجد تشريع نظام المؤاخاة ، والتي تمّ إعلانها في دار أنس بن مالك رضي الله عنه ، وهي رابطة تجمع بين المهاجريّ والأنصاريّ ، تقوم على أساس العقيدة ، وتوثّق مشاعر الحب والمودّة ، والنصرة والحماية ، والمواساة بالمال والمتاع .

Maka amalan pertama yang dilakukan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam setelah membangun masjid adalah mensyariatkan sistem persaudaraan, yang mana hal itu diumumkan di rumah Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Ia merupakan ikatan yang mengumpulkan antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar, berdiri di atas asas akidah, serta menguatkan perasaan cinta, kasih sayang, pertolongan, perlindungan, dan saling membantu dengan harta serta barang bawaan.

وهذه المؤاخاة أخصّ من الأخوّة العامة بين المؤمنين جميعاً ، وذلك لأنها أعطت للمتآخييْن الحقّ في التوارث دون أن يكون بينهما صلةٍ من قرابة أو رحم ، كما في قوله تعالى :

Dan persaudaraan ini lebih khusus daripada persaudaraan umum di antara kaum mukminin seluruhnya, hal itu karena ia memberikan hak bagi dua orang yang dipersaudarakan dalam hal saling mewarisi tanpa harus ada di antara keduanya hubungan kerabat atau rahim, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

{ ولكل جعلنا موالي مما ترك الوالدان والأقربون والذين عقدت أيمانكم فآتوهم نصيبهم } ( النساء : 33 ) .

“Dan untuk masing-masing (laki-laki dan perempuan) Kami telah menetapkan ahli waris bagi harta peninggalan yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dan kerabat-kerabatnya. Dan orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bagiannya” [Al-Nisa: 33]

وقد استمرّ العمل بقضيّة التوارث زمناً ، حتى استطاع المهاجرون أن يألفوا المدينة ويندمجوا في المجتمع ، وفتح الله لهم أبواب الخير من غنائم الحرب وغيرها ما أغناهم عن الآخرين ، فنسخ الله تعالى العمل بهذا الحكم ، وأرجع نظام الإرث إلى ما كان عليه ، وذلك في قوله تعالى :

Dan sungguh pengamalan dalam perkara saling mewarisi ini berlangsung dalam suatu kurun waktu, hingga kaum Muhajirin sanggup untuk merasa akrab dengan Madinah dan menyatu di dalam masyarakat, serta Allah membukakan bagi mereka pintu-pintu kebaikan berupa ganimah perang (ghanaa-im al-harb) dan selainnya yang mencukupi mereka dari ketergantungan pada orang lain. Maka Allah Ta’ala menasakhkan pengamalan hukum ini, dan mengembalikan sistem waris kepada keadaan semula, yang demikian itu dalam firman Allah Ta’ala:

{ وأولوا الأرحام بعضهم أولى ببعض في كتاب الله } ( الأنفال : 75 ) ،

“dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya di dalam Kitab Allah” [Al-Anfal: 75]

مع بقاء العمل بالنصرة ، وتبادل العطايا ، وإسداء المشورة والنصيحة ، وغيرها من معاني الأخوة .

bersamaan dengan tetap berlakunya pengamalan dalam hal saling menolong, bertukar pemberian, mencurahkan musyawarah dan nasihat, serta makna-makna persaudaraan lainnya.

وتذكر لنا مصادر السيرة أسماء بعض الذين آخى بينهم النبي – صلى الله عليه وسلم – ، فقد آخى بين أبي بكر و خارجة بن زهير ، وآخى بين عمر بن الخطاب و عتبان بن مالك ، وبين أبي عبيدة بن الجراح و سعد بن معاذ ، وبين الزبير بن العوام و سلامة بن سلامة بن وقش ، وبين طلحة بن عبيد الله و كعب بن مالك ، وبين مصعب بن عمير و أبو أيوب خالد بن زيد رضي الله عنهم أجمعين ، وأسماء أخرى بلغت تسعين صحابيّاً .

Dan sumber-sumber sirah menyebutkan kepada kita nama-nama sebagian orang yang dipersaudarakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di antara mereka. Sungguh beliau mempersaudarakan antara Abu Bakar dan Kharijah bin Zuhair, mempersaudarakan antara Umar bin Al-Khaththab dan Itban bin Malik, antara Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan Sa’d bin Mu’adz, antara Az-Zubair bin Al-Awwam dan Salamah bin Salamah bin Waqsy, antara Thalhah bin Ubaidillah dan Ka’b bin Malik, serta antara Mush’ab bin Umair dan Abu Ayyub Khalid bin Zaid radhiyallaahu ‘anhum ajma’iin, dan nama-nama lain yang jumlahnya mencapai sembilan puluh orang shahabat.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.